Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Minggu, 31 AGUSTUS 2025 • 18:30 WIB

Mengenal Filosofi Jawa: Ajining Diri Saka Lathi, Ajining Raga Saka Busana Dalam Kehidupan masyarakat Jawa

Mengenal Filosofi Jawa: Ajining Diri Saka Lathi, Ajining Raga Saka Busana Dalam Kehidupan masyarakat JawaIlustrasi Masyarakat Jawa (sumber: Alamy)

INDOZONE.ID - Filosofi bahasa merupakan bagian dari budaya Jawa yang memberikan makna mendalam bagi kehidupan manusia. Dalam kebudayaan Jawa, falsafah menjadi warisan turun-temurun dan terus dilestarikan dari masa ke masa. Banyak filosofi bahasa yang lahir dalam kehidupan masyarakat Jawa, salah satunya ialah filosofi Ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana.

Konsep ajining diri saka lathi merupakan filosofi yang diciptakan untuk mengingatkan bahwa harga diri seseorang ada pada ucapannya. Baik atau buruknya perkataan akan memengaruhi kualitas diri seseorang. Ajining diri memiliki arti harga diri, sedangkan saka berarti asal/berasal dan lathi berarti lidah. Jika dikaji lebih lanjut, filosofi ini memiliki makna yang sangat mendalam.

Baca juga: Pemberontakan Raden Ronggo: Tantangan terhadap Hegemoni Kerajaan Jawa

Harga diri merupakan nilai hidup seseorang yang ditentukan oleh pemikiran dan perasaan sang individu. Dalam masyarakat Jawa, harga diri merupakan hal yang dijunjung tinggi. Hal ini dipengaruhi oleh budaya ningrat yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat Jawa. Ucapan dan tutur kata menjadi salah satu tolak ukur harga diri seseorang. Ucapan dapat menjadi air yang menenangkan atau api yang membakar, hal ini tergantung bagaimana seseorang dapat membawa dirinya dalam berucap. Ucapan juga dapat menjadi kapas yang tertiup angin, yang berarti dapat terucap dan hilang/dilupakan begitu saja. Ucapan seseorang tak bisa ditarik, oleh karena itu filosofi ajining diri saka lathi hadir sebagai pengingat bagi semua orang.

Sedangkan konsep ajining raga saka busana memiliki arti bahwa penilaian terhadap seseorang dinilai dari cara berbusananya. Pada zaman modern, hal ini dapat menimbulkan stigma negatif karena cara berbusana seseorang adalah hak masing-masing individu. Namun, dalam masyarakat Jawa, cara berbusana seseorang dapat memperlihatkan tata krama dan nilai diri seseorang.

Ajining raga saka busana mengandung makna bahwa kehormatan seseorang dapat dinilai dari cara berbusana atau berpenampilan. Tidak dapat dipungkiri bahwa cara berbusana merupakan perwujudan diri seseorang. Kata raga berarti fisik/tubuh, sedangkan busana berbicara tentang pakaian. Pada masyarakat Jawa, busana yang dimaksud adalah busana kebaya. Busana kebaya memiliki arti yang mendalam; kebaya menggambarkan kesabaran dan kehalusan yang membuat seseorang tampak cantik nan anggun.

Baca juga: Tanam Paksa dan Uang: Awal Perubahan Hidup Petani Jawa Abad ke-19

Filosofi ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana merupakan warisan turun-temurun yang baik dan memberikan peringatan kepada semua orang untuk selalu berucap dan berbusana dengan baik. Filosofi ini mengandung pemahaman nilai etika, budi pekerti, estetika, dan sopan santun dengan harapan bahwa filosofi ini akan terus diingat oleh semua orang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Research Gate

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Mengenal Filosofi Jawa: Ajining Diri Saka Lathi, Ajining Raga Saka Busana Dalam Kehidupan masyarakat Jawa

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!