Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Sabtu, 30 AGUSTUS 2025 • 16:15 WIB

Ikebana: Seni Merangkai Bunga Sebagai Refleksi Keseimbangan dalam Budaya Jepang.

Ikebana: Seni Merangkai Bunga Sebagai Refleksi Keseimbangan dalam Budaya Jepang.Contoh rangkaian ikebana. (sumber: ikebana international)

INDOZONE.ID - Ikebana (生花) adalah seni merangkai bunga dari Jepang yang menggunakan berbagai jenis bunga, rumput, dan tanaman untuk menciptakan keindahan yang dapat dinikmati. Meskipun berasal dari Jepang, ikebana kini telah dikenal di seluruh dunia.

Awal mula ikebana berasal dari tradisi mempersembahkan bunga di kuil Buddha pada abad ke-6.

Dalam perkembangannya, masyarakat Jepang mulai menikmati keindahan bunga yang ditata dalam wadah khusus, sebagaimana tercatat dalam literatur klasik Makura no Sōshi dari zaman Heian.

Di masa Edo, ikebana yang dulunya hanya dinikmati oleh bangsawan dan samurai akhirnya menyebar di kalangan rakyat. Pada masa itu, gaya Shōka atau Seika sangat populer karena tampilannya yang sederhana dan fokus pada bentuk alami tanaman.

Saat kebudayaan Jepang menarik perhatian dunia di akhir zaman Edo dan awal era Meiji, ikebana pun diperkenalkan ke Eropa. Hal ini kemudian memengaruhi seni merangkai bunga Barat, terutama dalam konsep susunan berbasis garis.

Baca juga: Insiden Honno-ji: Tragedi Pengkhianatan yang Mengakhiri Hidup Tokoh Pemersatu Jepang Oda Nobunaga

Dalam ikebana, terdapat tiga gaya utama:

  1. Rikka (立花)
    Rikka, atau Standing Flower, adalah gaya tradisional yang banyak digunakan dalam upacara keagamaan. Gaya ini menonjolkan bentuk alami tanaman, seperti pemandangan alam yang tercermin dalam susunan bunga. Rikka mulai berkembang pada awal abad ke-16.
  2. Shōka (正花)
    Shōka adalah rangkaian ikebana yang sederhana namun tetap tradisional, dengan fokus pada bentuk alami dari tanaman yang digunakan. Gaya Shōka menekankan tiga elemen utama: shin (langit), soe (manusia), dan tai (bumi). Setelah Restorasi Meiji tahun 1868, gaya ini semakin berkembang dengan pengaruh Eropa, menggunakan vas bunga tinggi.
  3. Jiyūka
    Jiyūka adalah gaya ikebana yang bebas dan tidak terikat aturan, berkembang setelah Perang Dunia II. Dalam gaya ini, kreativitas dan imajinasi sangat diutamakan. Elemen tambahan seperti kawat, logam, dan batu bisa digunakan untuk menambah keunikan rangkaian.

Baca juga: Polisi Jepang Pada Era Bakumatsu

Ikebana juga melibatkan kepekaan terhadap musim, sehingga pemilihan elemen disesuaikan dengan waktu. Proses merangkai ikebana dianggap sebagai bentuk meditasi, membantu seseorang mencapai ketenangan batin melalui keindahan dan keharmonisan yang diciptakan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Bretagne.com

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Ikebana: Seni Merangkai Bunga Sebagai Refleksi Keseimbangan dalam Budaya Jepang.

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!