Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Kamis, 07 AGUSTUS 2025 • 18:00 WIB

Kopi dan Elite Kolonial: Sejarah Kopi dan Budaya Minum Kopi Indonesia di Masa Lalu

Kopi dan Elite Kolonial: Sejarah Kopi dan Budaya Minum Kopi Indonesia di Masa LaluIlustrasi Tempat Kopi Zaman Kolonial Belanda. (sumber: Historia.id)

INDOZONE.ID - Siapa sangka, budaya ngopi yang sekarang jadi bagian dari lifestyle anak muda, ternyata punya sejarah panjang sejak zaman kolonial Belanda. Nggak cuma soal rasa, kopi di Indonesia punya jejak sejarah yang kaya dan penuh dinamika sosial.

Dibawa dari Arab, Ditanam di Batavia

Kisah kopi di Indonesia dimulai sekitar tahun 1646, saat Belanda membawa biji kopi arabica mocca dari wilayah Arabia. Nggak lama kemudian, tepatnya pada 1696, Belanda menerima kiriman bibit kopi Yemen dari India untuk ditanam di Batavia (sekarang Jakarta).

Seiring waktu, Belanda mulai serius membudidayakan kopi di tanah jajahan. Di awal abad ke-19, mereka membuka perkebunan kopi besar di Jawa Tengah, seperti Semarang dan Kedu, lalu menyusul wilayah Besuki di akhir abad tersebut.

Tapi, di balik aroma kopi yang harum ada cerita pahit, masyarakat lokal dipaksa menanam kopi lewat sistem tanam paksa dan kerja paksa demi memenuhi permintaan ekspor ke Eropa. Bahkan, pada akhir abad ke-19, perkebunan kopi meluas hingga Sumatra, Sulawesi, Bali, dan Timor.

Baca juga: Mengenal Kopi Beras Tetebatu: Minuman Khas Lombok Timur yang Kaya Manfaat

Dari Minuman Elite Jadi Favorit Semua Kalangan

Kopi dan Elite Kolonial: Sejarah Kopi dan Budaya Minum Kopi Indonesia di Masa LaluKopi. (photo/Ilustrasi/Pexels/Kaboompics.com)

Awalnya, kopi cuma bisa dinikmati kalangan atas seperti pejabat kolonial, tentara, hingga pedagang Belanda. Tapi karena produksi kopi meningkat, harganya jadi makin terjangkau. Kopi pun mulai merakyat, jadi minuman harian bagi banyak orang.

Fenomena ini juga melahirkan budaya baru, warung kopi alias warkop. Dulu, warkop jadi tempat nongkrong favorit masyarakat buat ngobrol, diskusi, bahkan ngerumpi. Mayoritas dikelola oleh masyarakat pribumi, meski ada juga yang dimiliki oleh orang Belanda.

Warkop Belanda vs Warkop Pribumi, Apa Bedanya?

Jangan bayangin semua warung kopi zaman dulu sama, ya. Ada perbedaan mencolok antara warung kopi milik Belanda dan warung kopi milik pribumi. Ini dia bedanya:

  1. Pemilik dan Pengelola
    Warkop Belanda biasanya dimiliki oleh perusahaan atau individu Belanda. Sementara itu, warkop pribumi dikelola oleh masyarakat lokal atau keturunan Tionghoa.
  2. Desain dan Fasilitas
    Warung milik Belanda tampil lebih modern dan bersih, lengkap dengan meja kursi kayu berkualitas. Sedangkan warkop pribumi tampil lebih sederhana, tradisional, dan menggunakan perabotan yang lebih fungsional.
  3. Harga dan Target Pasar
    Harga kopi di warkop pribumi jelas lebih bersahabat karena memang ditujukan untuk masyarakat umum. Warkop Belanda menyasar kalangan atas, jadi jangan heran kalau harganya lebih mahal.
  4. Menu yang Ditawarkan
    Warkop Belanda biasanya punya variasi menu lebih banyak dan fancy. Sementara warkop pribumi fokus menyajikan kopi dan cemilan sederhana.

Baca juga: Mengintip Nightlife Para Penikmat Kopi dan Cocktail di Jaksel: Barista, DJ dan Partygoers Berpadu

Ngopi: Dulu Budaya Kolonial, Kini Simbol Keakraban

Dari sejarahnya yang rumit hingga jadi budaya sehari-hari, kopi sudah melekat dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Warung kopi yang dulunya cuma tempat singgah, sekarang berevolusi jadi tempat nongkrong, diskusi, bahkan coworking space buat para pejuang deadline.

Jadi, lain kali kamu duduk santai sambil seruput kopi di kafe hits, ingat ya minuman ini punya cerita panjang dari zaman penjajahan sampai jadi bagian dari identitas kita hari ini.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Jurnal.untan.ac.id

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Kopi dan Elite Kolonial: Sejarah Kopi dan Budaya Minum Kopi Indonesia di Masa Lalu

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!