Jembatan Bambu yang Melintasi Sungai Serayu (sumber: tsipil.ugm.ac.id)
INDOZONE.ID - Sungai Serayu bukan cuma aliran air biasa yang membelah wilayah Jawa Tengah, tapi juga saksi bisu perjalanan peradaban sejak ribuan tahun lalu. Dari masa kerajaan kuno hingga era kolonial, sungai ini punya peran penting dalam membentuk wajah sosial dan ekonomi masyarakat.
Jejak awal peradaban di Sungai Serayu tercatat sudah ada sejak abad ke-1 Masehi. Hal ini diperkuat oleh catatan sejarawan Belanda, Van der Maulen, yang menyebutkan bahwa sungai ini sudah eksis saat Kerajaan Galuh Purba berdiri di lereng Gunung Slamet.
Temuan ini juga diperkuat dengan hasil penelitian lain yang menyebut Serayu sebagai salah satu jalur penting peradaban masa lampau.
Perkembangan Sungai Serayu berlangsung pesat hingga akhir abad ke-20. Di masa kolonial Belanda, sungai ini makin ramai karena menjadi jalur perdagangan penting yang menghubungkan wilayah pedalaman dengan pesisir.
Kehadiran Belanda di Pulau Jawa membawa dampak besar dalam sektor sosial dan ekonomi. Salah satu yang paling menonjol adalah aktivitas perdagangan maritim, baik melalui jalur laut maupun sungai.
Saat itu, Pelabuhan Cilacap yang berada di pesisir selatan Jawa menjadi pusat aktivitas dagang yang cukup sibuk, bahkan telah diresmikan oleh Pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1847.
Kapal-kapal besar yang membawa berbagai komoditas utama berlayar melintasi Sungai Serayu menuju pelabuhan ini. Salah satu jalur strategis yang mendukung kelancaran perdagangan adalah Kanal Kaliyasa.
Baca juga: Misteri Hantu Onggo Inggi Bengawan Solo: Penunggu Sungai yang Menyeramkan
Kanal Kaliyasa dibangun pada masa pemerintahan Bupati Cilacap pertama, Raden Tjakrawedana I (1856–1873). Kanal ini menghubungkan wilayah sekitar Sungai Serayu, tepatnya di antara Desa Sidakaya, Tegal Kamulyan, dan Kecamatan Cilacap Selatan serta Cilacap Tengah.
Arsip kolonial Belanda Memorie van Overgave tahun 1830 mencatat bahwa pertemuan antara Sungai Serayu dan Pulau Nusakambangan menciptakan jalur alami yang kemudian dikembangkan menjadi kanal Kaliyasa.
Kanal ini menjadi jalur alternatif penting bagi kapal-kapal bermuatan besar yang membawa hasil bumi dari pedalaman Banyumas menuju pelabuhan Cilacap.
Kanal Kaliyasa bukan cuma soal arsitektur kolonial, tapi juga soal kehidupan masyarakat. Jalur air ini punya peran signifikan dalam menggerakkan roda ekonomi warga. Perdagangan berlangsung lancar, koneksi antara pedalaman dan pesisir terjaga, dan aktivitas masyarakat meningkat tajam.
Sayangnya, masa kejayaan itu mulai memudar saat Belanda kalah dalam Perang Dunia II. Kekuasaan berpindah ke tangan Jepang dan kemudian Inggris, yang berdampak langsung pada menurunnya aktivitas perdagangan di kawasan ini.
Baca juga: Suaranya Membakar, Semangatnya Tak Padam: Warisan Perjuangan Rasuna Said
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Collectiewereldculturen.nl