Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Rabu, 02 JULI 2025 • 14:35 WIB

Obsesi Kolonial di Balik Riset Fenomena Alam Nusantara Abad 19

Obsesi Kolonial di Balik Riset Fenomena Alam Nusantara Abad 19Gunung Merapi. (Twitter/@BPPTKG)

INDOZONE.ID - Siapa sangka, di balik gemuruh gunung meletus dan getaran gempa bumi yang menakutkan, tersimpan kisah menarik tentang bagaimana para ilmuwan kolonial pada abad ke-19 justru menjadikannya objek penelitian serius. 

Di masa Hindia Belanda, bencana alam bukan cuma soal korban dan kerusakan—tapi juga jadi "ladang riset" yang penuh potensi ilmiah dan politik.

Salah satu tokoh yang paling menonjol dalam sejarah ini ialah Franz Wilhelm Junghuhn. Ia bukan cuma peneliti tumbuhan atau pendaki gunung biasa, tapi juga rajin mendokumentasikan bencana gempa dan letusan gunung sejak abad ke-10. 

Baca juga: Gila! Mantan Napi Ini Ubah Asrama Kampus Jadi Sarang Teror Psikologis Selama 8 Tahun, Mahasiswa Dikendalikan hingga Diperas!

Hebatnya lagi, Junghuhn tak hanya mengandalkan sumber-sumber Eropa, tapi juga cerita rakyat lokal. Ia menyusun kronik bencana yang sangat sistematis—sebuah upaya awal memahami “mood” alam tropis yang sering tak bisa ditebak.

Sementara itu, para dokter kolonial punya pendekatan unik. Mereka curiga bahwa gempa bumi bisa bikin orang sakit. 

Pieter Bleeker, misalnya, mengamati bahwa setelah gempa, jumlah pasien yang menderita diare dan penyakit saluran pernapasan meningkat. 

Mereka percaya, gempa bisa mengganggu keseimbangan atmosfer dan memicu wabah. Meski terdengar magis hari ini, pandangan itu didasarkan pada teori lingkungan yang berkembang saat itu dan jadi rujukan kesehatan kolonial.

Baca juga: 5 Weton yang Punya Aura Gaib Kuat, Konon Membawa Energi Mistis

Lain lagi dengan para ahli bumi seperti Schwaner atau Bergsma. Mereka tekun mencatat tiap aktivitas seismik, meski belum punya alat canggih seperti seismograf modern. 

Catatan mereka berdasarkan laporan warga dan surat kabar, tapi justru dari situlah lahir fondasi awal penelitian geologi di Indonesia. 

Mendokumentasikan fenomena gempa bumi serta gunung meletus dan membandingkannya merupakan upaya untuk menyadari bahwa kedua fenomena adalah bagian dari kehidupan sehari-hari di daerah tropis.

Baca juga: 5 Zodiak yang Diprediksi Beruntung di Juli 2025, Kamu Salah Satunya?

Namun, semua ini tentu tidak murni soal ilmu. Ada kepentingan besar di baliknya. Pemerintah kolonial butuh memahami potensi bencana untuk menjaga kelangsungan kekuasaan dan melindungi aset-aset ekonomi, terutama setelah sistem tanam paksa dan perluasan infrastruktur dimulai. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Jurnal Sejarah

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Obsesi Kolonial di Balik Riset Fenomena Alam Nusantara Abad 19

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!