Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Rabu, 11 JUNI 2025 • 09:59 WIB

Rumah Kolonial di Bojonegoro, Saksi Bisu Persinggahan Bung Karno Tahun 1957

Rumah Kolonial di Bojonegoro, Saksi Bisu Persinggahan Bung Karno Tahun 1957Rumah Kolonial di Bojonegoro (Z Creators/Lizza Arnofia)

INDOZONE.ID - Di tengah hiruk-pikuk Jalan Panglima Sudirman, Bojonegoro, Jawa Timur, berdiri megah sebuah rumah tua bergaya arsitektur Kolonial Hindia-Belanda. Rumah yang menghadap ke selatan ini menyimpan jejak sejarah penting, bahwa Presiden Soekarno, Sang Proklamator, pernah bermalam di sana pada 9 Juli 1957 dalam rangkaian lawatannya ke Bojonegoro.

Burhan (66), pria paruh baya yang kini menempati rumah tersebut, menceritakan bahwa kisah ini pertama kali ia dengar dari sang ayah. Ketika Soekarno singgah, rumah itu masih dimiliki oleh Raden Mochtar, Kepala Karesidenan Bojonegoro (kini Bakorwil). Setahun kemudian, pada 1958, rumah dibeli oleh kakek dan nenek Burhan, pasangan Haji Erfan dan Hajah Aisyiah, seorang pengusaha jagal sapi.

Baca Juga: Menyingkap Arsip Rahasia Vatikan: Jejak Sejarah, Misteri, dan Dokumen Dunia yang Tersembunyi

Burhan mengaku tidak mengetahui pasti alasan kunjungan Soekarno, selain bahwa beliau hanya bermalam satu malam sebelum melanjutkan perjalanan ke Kediri. "Namun dalam buku Mijn Vriend Sukarno karya jurnalis Belanda Willem Oltmans, disebutkan bahwa Soekarno datang bersama istrinya, Hartini, untuk menghadiri rapat raksasa di Alun-Alun Bojonegoro," ungkap Kakek Burhan.

Menariknya, rumah ini juga memiliki kisah kolonial yang panjang. Sebelum kemerdekaan, rumah tersebut dihuni oleh warga Belanda. Burhan mengenang cerita sang nenek yang sering melihat orang Belanda membaca koran di teras rumah. Bahkan, pada 1977, seorang pria Belanda yang mengaku pernah tinggal di rumah itu semasa kecil datang berkunjung dan memotret bagian dalam rumah.

Rumah Kolonial di Bojonegoro, Saksi Bisu Persinggahan Bung Karno Tahun 1957Rumah Sejarah di Bojonegoro (Z Creators/Lizza Arnofia)

Kini, meski telah berusia puluhan tahun, rumah tersebut masih mempertahankan sekitar 95 persen bentuk aslinya. "Yang diubah hanya bagian atap, lainnya masih sama seperti dulu,” ujar Burhan, yang juga Ketua RT 11 Kelurahan Kepatihan. Ia menyebut bahwa arsitek rumah ini adalah seorang saudagar keturunan Arab.

Beberapa peninggalan sejarah masih tersimpan, seperti ranjang yang digunakan Soekarno dan guci dari Dinasti Ming. Sayangnya, sebagian barang antik hilang akibat pencurian pada 1994 ketika keluarga Burhan sedang berada di Jakarta.

Baca Juga: Malangbong, Kampung Terpencil di Pedalaman Hutan Bojonegoro yang Dihuni 90 Persen Perempuan

Pemerintah sempat berencana menjadikan rumah ini sebagai cagar budaya, namun terkendala status kepemilikan pribadi. "Dulu Pemprov tidak bisa memutuskan karena menyangkut PBB dan hak milik pribadi,” jelas Burhan.

Kini, rumah itu menjadi simbol peran Bojonegoro dalam lintasan sejarah nasional, menjadi saksi bisu perjalanan pemimpin besar Indonesia di tengah masa transisi negara yang baru merdeka.



Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Rumah Kolonial di Bojonegoro, Saksi Bisu Persinggahan Bung Karno Tahun 1957

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!