Rabu, 15 JULI 2026 • 12:35 WIB

Gelombang Panas di Eropa Tak Kunjung Berakhir, 2 Pola Atmosfer Diduga Berkaitan dengan Fenomena Ini

Author

Ilustrasi gelombang panas. (freepik) 

INDOZONE.ID - Gelombang panas di Eropa Barat bukan hanya ditandai oleh suhu yang ekstrem, tetapi juga durasinya yang bisa berlangsung lama. Di sejumlah wilayah, panas dapat bertahan lebih dari satu minggu, bahkan mendekati satu bulan. 

Fenomena inilah yang mendorong ilmuwan mencari tahu mengapa sebagian gelombang panas cepat mereda, sementara yang lain bertahan jauh lebih lama.

Dalam penelitian yang dipublikasikan di Environmental Research Letters, tim peneliti dari University of Bern, Swiss, menemukan dua pola sirkulasi atmosfer yang kerap muncul saat gelombang panas berkepanjangan melanda Eropa Barat. 

Mengapa durasi gelombang panas penting?

Gelombang panas yang berlangsung beberapa hari saja sudah dapat mengganggu aktivitas. Namun, ketika suhu tinggi bertahan selama berminggu-minggu, dampaknya menjadi jauh lebih besar. 

Baca juga: Video Viral: Kenapa Pusaran Angin Kecil 'Dust Devil' di Yaman Seolah 'Menghindar' Saat Disiram Air?

Tubuh terus terpapar panas, kebutuhan listrik untuk pendingin ruangan meningkat, sementara tanah semakin mengering sehingga risiko kekeringan dan gagal panen ikut bertambah.

Meski begitu, memprediksi lamanya gelombang panas masih menjadi tantangan. Salah satu penyebabnya adalah minimnya data. Hingga kini, ilmuwan baru memiliki sekitar 20 contoh gelombang panas yang berlangsung sangat lama, yakni antara 12 hingga 26 hari.

Ribuan simulasi untuk mencari polanya

Karena jumlah kasus yang bisa dipelajari sangat terbatas, peneliti menggunakan model komputer Community Earth System Model versi 2 (CESM2) untuk mensimulasikan iklim selama sekitar 150 tahun. Dari 50 simulasi, mereka menemukan 1.884 gelombang panas berkepanjangan yang kemudian dianalisis.

Hasilnya, peneliti menemukan dua pola atmosfer yang paling sering muncul.

Baca juga: 6 Fakta Luar Angkasa yang Bikin Takjub, Ada Mobil Tesla Masih Melayang!

Pola pertama terjadi ketika gelombang udara di atmosfer bagian atas memperkuat area bertekanan tinggi di atas Eropa. Kondisi ini membuat udara terus bergerak turun sehingga panas lebih mudah terperangkap di dekat permukaan.

Pola kedua melibatkan jet stream, yaitu aliran angin sangat kencang di atmosfer bagian atas. Saat bergeser lebih jauh ke utara, jalur badai ikut menjauh dari Eropa sehingga udara panas tetap bertahan.

Meski begitu, peneliti menegaskan bahwa kedua pola tersebut bukan satu-satunya penyebab gelombang panas berkepanjangan. Masih ada berbagai proses atmosfer lain yang ikut memengaruhi perkembangan cuaca.

Tanah yang kering ikut berperan

Selain kondisi di atmosfer, permukaan tanah juga dapat memengaruhi lamanya gelombang panas. Saat tanah masih lembap, sebagian energi Matahari digunakan untuk menguapkan air. 

Baca juga: 5 Fenomena Langit Juli 2026 yang Bikin Penasaran, Catat Tanggalnya!

Namun ketika tanah mengering, lebih banyak energi yang langsung memanaskan udara. Kondisi ini dapat membantu mempertahankan suhu tinggi lebih lama.

Membantu prakiraan cuaca di masa depan

Menurut peneliti, memahami dua pola sirkulasi atmosfer tersebut dapat membantu meningkatkan prakiraan gelombang panas dalam jangka panjang. 

Meski belum dapat memprediksi setiap kejadian secara pasti, temuan ini memberikan petunjuk baru mengenai mengapa sebagian gelombang panas di Eropa Barat dapat bertahan lebih lama dibandingkan yang lain. 

Dengan pemahaman yang lebih baik, peringatan dini terhadap gelombang panas berkepanjangan diharapkan dapat diberikan lebih cepat sehingga masyarakat memiliki lebih banyak waktu untuk bersiap.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Phys.org

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU