Kenali Penyebab Adanya Lidah Api pada Permukaan Matahari, Sanggup Menyembur hingga Ribuan Kilometer
INDOZONE.ID - Pernah gak sih kepikiran kalau matahari yang tiap hari nemenin jemuran kita itu sebenarnya menyimpan rahasia yang bener-bener gokil?
Selama ini kita mungkin cuma tahu kalau matahari itu sekadar bikin gerah, silau, dan bikin mager keluar rumah.
Tapi, kalau kita bisa ngintip lebih dekat, ada banyak banget fenomena ekstrem yang lagi terjadi di sana.
Salah satu yang paling bikin para ilmuwan penasaran adalah kemunculan semburan raksasa yang biasa disebut lidah api.
Fenomena ini jelas bukan kayak percikan api kompor di dapur, ya. Untungnya, teknologi sekarang udah makin canggih, jadi rahasia di balik gejolak luar angkasa ini pelan-pelan mulai kebongkar.
Dilansir dari YouTube @BIG line, para ahli punya cara mutakhir buat mantau pergerakan ekstrem ini dari jarak dekat.
Yuk, kita bedah bareng-bareng apa sih yang sebenernya bikin matahari bisa "marah-marah" kayak gitu!
Baca juga: Kenapa Matahari Kelihatan Tenggelam? Ternyata Penjelasan Ilmiahnya Simpel Banget Lho!
Intip Lapisan Misterius Pake Teleskop Tercanggih di Hawaii
Mungkin kamu penasaran, gimana caranya para peneliti bisa melihat gejolak sedahsyat itu tanpa bikin mata rusak atau alatnya meleleh?
Jawabannya ada di Hawaii, namanya Teleskop Surya Daniel K. Inouye (DKIST), yang jadi teleskop surya paling kuat di dunia saat ini.
Pada 3 Juni 2022, DKIST berhasil menangkap gambar super detail dari lapisan matahari yang bernama kromosfer.
Bagi dunia sains, ini pencapaian yang dibilang dapet jackpot karena lapisan kromosfer ini terkenal pemalu dan susah banget dipelajari akibat cahayanya yang sering ketutupan oleh fotosfer yang jauh lebih terang.
Biasanya, kita di bumi cuma bisa melihat kromosfer ini dalam bentuk cincin merah tipis pas momen Gerhana Matahari Total.
Tapi lewat kamera canggih DKIST yang memantau area seluas 82.000 km, lapisan rahasia yang tadinya susah banget diintip ini akhirnya bisa kelihatan jelas banget oleh para peneliti.
Dapur Energi Matahari: Isinya Apa Aja Sih?
Sebelum kita bahas kenapa bisa ada semburan, kenalan dulu yuk sama isi perut matahari.
Matahari kita ini pada dasarnya adalah bola gas raksasa yang padat banget, di mana komposisinya didominasi oleh gas hidrogen sebanyak 76% sebagai bahan bakar utama, lalu ada gas helium sekitar 22%, serta sisanya sekitar 2% diisi oleh oksigen dan elemen gas lainnya.
Semua kehebohan di luar itu mulainya dari bagian paling dalam, yaitu inti matahari, tempat terjadinya proses fisika keren bernama reaksi fusi.
Di sana, inti atom hidrogen saling tabrakan dan bergabung jadi helium karena tekanan dan suhu yang luar biasa tinggi.
Dari proses peleburan inilah lahir energi raksasa yang merambat keluar sampai ke bumi berupa kehangatan dan cahaya yang kita rasakan sehari-hari.
Rahasia Besar di Balik Semburan Lidah Api
Penyebab utama adanya lidah api atau istilah kerennya prominensa ini erat banget kaitannya sama aktivitas magnetik dan pergerakan gas panas di dalam matahari.
Ketika proses fusi di inti matahari menghasilkan energi yang melimpah, gas bersuhu tinggi bakal naik ke permukaan, lalu di saat yang sama muncul medan magnet yang kuat banget tapi gak stabil di titik-titik tertentu.
Medan magnet ini bikin tekanan besar sampai ngebentuk area gelap yang disebut bintik matahari.
Saat tekanan gas panas di bawah bintik matahari udah makin numpuk dan gak bisa ditahan lagi oleh medan magnet, gas itu bakal jebol dan melesat keluar dengan kecepatan super gila.
Semburan massal yang membawa miliaran ton partikel proton dan elektron inilah yang kemudian kita lihat sebagai lidah api raksasa.
Karena ketarik sama medan magnet di sekitarnya, semburan gas ini sering kelihatan melengkung estetik sebelum akhirnya jatuh lagi atau lepas ke luar angkasa.
Semburan Raksasa yang Ukurannya Gak Masuk Akal
Skala letupan di matahari ini emang susah dibayangin pake logika biasa karena lidah api yang terbentuk akibat gejolak magnetik ini punya spek ukuran yang masif banget.
Begitu meluncur, ketinggian semburan gas panas ini bisa mencapai 10.000 kilometer ke luar angkasa, di mana jarak sejauh itu udah lebih dari cukup buat menelan planet kita bulet-bulet kalau posisinya deketan.
Partikel proton dan elektron yang gerak secepat kilat ini gak diem di tempat saja setelah meledak.
Mereka bakal terlempar jauh melewati atmosfer matahari dan menyebar ke seluruh tata surya, yang menjadi bukti nyata kalau ruang angkasa itu sebenernya aktif banget dan penuh energi setiap detiknya.
Baca juga: Gerak Semu Harian Matahari: Fenomena yang Dilihat Tiap Hari, Tapi Sering Bikin Salah Paham
Efeknya ke Bumi: Bisa Bikin Internet Ngadat?
Walaupun jarak bumi dan matahari itu jauh banget hingga ratusan juta kilometer, gejolak dari lidah api ini bisa ngasih dampak nyata buat kehidupan digital kita karena bisa memicu cuaca luar acapkali atau cuaca luar angkasa.
Ketika terjadi ledakan lidah api skala besar, aliran partikel bermuatan listrik bakal menyerbu luar angkasa, dan kalau arahnya pas ke bumi, ini bisa jadi alarm bahaya buat teknologi modern kita.
Radiasi dari badai partikel ini punya potensi besar mengganggu berbagai infrastruktur penting di bumi.
Efeknya bisa merusak kestabilan sinyal satelit, menghambat jaringan internet, mengacaukan sistem navigasi atau GPS, hingga memicu induksi arus elektromagnetik yang bisa mengganggu distribusi jaringan listrik bumi.
Makanya, pengamatan dari teleskop kayak DKIST itu krusial banget biar kita bisa dapet info ramalan cuaca matahari sejak dini sebelum fasilitas digital kita kena imbasnya.
Plot Twist: Lapisan Luar Matahari Malah Jauh Lebih Panas!
Ada satu misteri yang sampai sekarang bikin para ahli geleng-geleng kepala, yaitu soal pola perubahan suhu pada tiap lapisan matahari.
Secara logika, makin kita menjauh dari pusat panas atau inti matahari, suhunya harusnya makin dingin, tapi anehnya hukum ini gak berlaku di matahari.
Pas energi bergerak keluar melewati lapisan awal, suhunya emang sempat turun menjadi lebih dingin.
Tapi anehnya, begitu memasuki lapisan kromosfer, suhunya malah melonjak drastis, bahkan kondisi paling ekstrem ada di lapisan terluar yang namanya korona, di mana suhunya bisa meroket sampai hampir 1 juta derajat Kelvin.
Para ahli menduga fenomena aneh ini terjadi karena adanya transfer energi dari medan magnet intens yang juga jadi dalang di balik munculnya lidah api.
Dari Permukaan Kayak Air Mendidih Sampai Noda Hitam
Selain menghasilkan semburan lidah api yang tinggi, interaksi medan magnet dan gas panas juga memunculkan fenomena seru lainnya di permukaan matahari, seperti granulasi yang membuat permukaan matahari kelihatan bergumpal-gumpal karena adanya aliran gas panas yang naik-turun mirip air mendidih di dalam panci.
Proses inilah yang bikin permukaan matahari terlihat bertekstur dan terus bergerak dinamis saat diamati dari dekat.
Di samping itu, ada juga fenomena bintik matahari yang tampak seperti noda gelap karena suhunya sedikit lebih rendah dibandingkan dengan area sekitarnya.
Walaupun kelihatan lebih redup dan adem, bintik matahari ini sebenarnya merupakan pusat aktivitas magnetik yang sangat kuat, yang sewaktu-waktu bisa memicu gangguan pada gelombang komunikasi radio di bumi kita.
Semburan Badai Matahari yang Bikin Cantik Langit Malam
Meskipun gejolak matahari kedengarannya serem buat teknologi, hantaman partikel lidah api ini ternyata menyisakan bonus pemandangan yang indah banget buat bumi.
Untungnya, bumi kita dilindungi oleh perisai alami berupa medan magnet bernama Sabuk Van Allen yang berfungsi menahan aliran partikel ekstrem tadi agar tidak langsung menghantam permukaan bumi secara brutal.
Berkat adanya medan magnet bumi ini, kecepatan partikel matahari akan melambat dan arahnya dialihkan menuju ke area kutub bumi.
Pas partikel matahari ini bergesekan dengan atmosfer bumi, mereka bakal berpijar dan menciptakan tirai cahaya warna-warni yang menari-nari indah di langit malam yang kita kenal sebagai Aurora, di mana fenomena ini disebut Aurora Borealis kalau muncul di kutub utara, dan dinamakan Aurora Australis kalau kelihatan di kutub selatan.
Riset mendalam tentang matahari ini bikin kita sadar kalau memahami kondisi lingkungan antariksa itu penting banget buat jagain peradaban modern dan sistem komunikasi kita di bumi.
Saat ini, teleskop DKIST di Hawaii lagi bersiap-siap menuju fase operasi penuh sambil terus mengumpulkan berbagai data pengamatan yang berharga bagi para ilmuwan.
Tujuan utama dari proyek besar ini adalah memperluas pengetahuan kita di bidang fisika matahari serta memetakan faktor utama penyebab lidah api.
Dengan memahami cara kerja medan magnet tersebut, para ahli berharap bisa membangun sistem perkiraan cuaca antariksa yang jauh lebih baik di masa depan, jadi kita tetep bisa dapet bonus foto-foto aurora yang estetik sambil memastikan internet dan listrik di rumah kita tetep aman terkendali.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: YouTube