Minggu, 07 JUNI 2026 • 11:53 WIB

Selama Ini Kita Salah Memahami Hubungan Manusia dan Alam?

Author

Ilustrasi manusia dan alam. (Dok. Magnific.)

INDOZONE.ID - Pendekatan more-than-human menawarkan cara baru memahami relasi manusia dengan lingkungan.

Alih-alih melihat alam sebagai objek yang bisa dimanfaatkan, pendekatan ini menempatkan manusia, hewan, tumbuhan, material, hingga unsur spiritual sebagai bagian dari jaringan kehidupan yang saling memengaruhi.

Gagasan ini dibahas dalam Forum Diskusi Budaya (FDB) ke-99 yang digelar BRIN di Jakarta pada 25 Mei 2026.

Apa Itu Pendekatan More-than-Human?

Secara sederhana, more-than-human adalah cara memahami dunia yang tidak menempatkan manusia sebagai pusat dari segala hal.

Pendekatan ini mengkritik pandangan antroposentris yang selama ini mendominasi banyak kebijakan, penelitian, hingga cara kita melihat alam.

Baca juga: Kisah Suku Naulu di Pelosok Maluku, Warisan Leluhur Asingkan Wanita Baru Dilahirkan

Kepala Pusat Riset Kewilayahan BRIN, Fadjar Ibnu Thufail, menjelaskan bahwa manusia dan nonmanusia sebenarnya terhubung dalam hubungan yang saling membentuk.

“Prinsip dasar pendekatan more-than-human adalah bahwa human dan nonhuman merupakan dua entitas yang saling membentuk dunia dan cara hidup di dunia ini,” ujar Fadjar dikutip dari laman BRIN.

Dalam perspektif ini, dunia sosial tidak dibentuk manusia semata. Hewan, tumbuhan, benda material, bahkan unsur spiritual juga dianggap memiliki peran dalam membentuk kehidupan sehari-hari.

Pandangan semacam ini sebenarnya bukan sesuatu yang asing di Indonesia.

Banyak komunitas lokal sudah lama hidup dengan keyakinan bahwa alam dan manusia berada dalam hubungan timbal balik.

Relasi Manusia dalam Tradisi Masyarakat Indonesia

Fadjar mencontohkan masyarakat pesisir dan maritim yang sering mengaitkan aktivitas menangkap ikan dengan unsur spiritual. Ada yang menggunakan jimat, mempercayai waktu tertentu sebagai momen terbaik mencari ikan, hingga meyakini keberadaan spirit penjaga laut.

Menariknya, pendekatan more-than-human tidak melihat praktik tersebut sekadar sebagai simbol budaya atau kepercayaan tradisional.

Pendekatan ini memandang unsur nonmanusia sebagai bagian aktif yang ikut memengaruhi kehidupan sosial dan ekologi masyarakat.

Dalam pemaparannya, Fadjar juga menyoroti konsep sensibility. Istilah ini merujuk pada kemampuan manusia untuk merasakan keberadaan dan kehidupan entitas nonmanusia.

“Salah satu kata kunci penting dalam more-than-human entanglement adalah sensibility, bagaimana kita sebagai manusia bisa merasakan kehidupan dari nonhuman entities,” ujarnya.

Menurut Fadjar, lingkungan sering dipahami hanya sebagai sumber daya ekonomi. Padahal, unsur nonmanusia memiliki vitalitas dan kemampuan memengaruhi kehidupan dengan caranya sendiri.

Ia mencontohkan ekosistem mangrove. Selama ini mangrove kerap dibahas dalam konteks konservasi atau perlindungan pantai. Dalam pendekatan more-than-human, mangrove dipahami sebagai ruang pertemuan berbagai unsur kehidupan.

Mangrove sebagai Ruang Pertemuan Berbagai Entitas

Fadjar menyebut mangrove sebagai contact zone. Artinya, kawasan tersebut menjadi titik temu antara manusia, tumbuhan, hewan, lumpur, air laut, spirit, hingga kebijakan negara.

Di ruang seperti itu, hubungan sosial tidak lagi dipahami sebagai interaksi antarmanusia saja.

“Social world itu bukan hanya sosial dalam konteks manusia, tetapi bagaimana sosial terbentuk antara manusia dengan nonmanusia,” jelasnya.

Pandangan ini mendorong cara baru dalam melihat lingkungan. Fokusnya bukan lagi hubungan satu arah antara manusia dan alam, melainkan keterhubungan berbagai entitas yang bersama-sama membentuk kehidupan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: BRIN

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU