Sabtu, 06 JUNI 2026 • 13:00 WIB

Menguak Perbedaan Tornado dan Puting Beliung, Biar Nggak Salah Sebut Pas Cuaca Ekstrem

Author

Ilustrasi Perbedaan Tornado dan Puting Beliung. (unsplash.com)

INDOZONE.ID - Belakangan ini cuaca di sekitar kita emang lagi sering nggak menentu yaa. Kadang siang hari panasnya bener-bener bikin gerah, tapi pas sore mendadak langit berubah jadi gelap gulita disertai angin kencang yang mencekam.

Fenomena alam yang terkesan seram ini sering kali bikin netizen di media sosial langsung heboh bikin dokumentasi video.

Nah, pas lagi melihat video angin berputar yang dahsyat di feed atau fyp kamu, pernah nggak sih kamu bingung sebenarnya angin kencang yang merusak itu namanya apa.

Banyak dari kita yang masih sering asal sebut nama fenomena alam ini karena penampilannya yang sekilas kelihatan sama saja di layar smartphone.

Dilansir dari YouTube @TheConversationIndonesia, ternyata ada hal mendasar yang membedakan fenomena angin kencang berputar tersebut berdasarkan kacamata sains.

Memahami perbedaan tornado dan puting beliung ini penting banget buat kita anak muda biar nggak cuma sekadar ikut-ikutan panik tanpa tahu edukasi aslinya.

Meskipun sama-sama berwujud pusaran angin yang menakutkan, kedua fenomena ini punya identitas yang berbeda, mulai dari wilayah tempat mereka nongkrong sampai ke urusan ukuran fisiknya di lapangan.

Biar pengetahuan geografi kamu makin luas dan makin paham sama tanda-tanda alam di sekitar kita, yuk kita bedah perbandingannya satu per satu secara santai di bawah ini.

Baca juga: Mengenal Jenis-jenis Awan di Langit: Dari yang Cantik Sampai Pembawa Hujan Deras

Kembar tapi Beda Tempat Tinggal Secara Geografis

Langkah awal buat membedakan kedua jenis angin badai ini adalah dengan mengintip peta lokasinya di dunia.

Secara sains dasar, tornado dan puting beliung itu sebenarnya adalah saudara kembar yang punya kemiripan sifat sangat tinggi.

Faktor pembeda paling utama yang memisahkan identitas mereka berdua hanyalah urusan garis lintang bumi tempat mereka dilahirkan dan berkembang.

Untuk wilayah negara kita tercinta yaitu Indonesia yang letaknya pas banget berada di area garis ekuator atau khatulistiwa, fenomena angin berputar yang lazim terjadi dinamakan sebagai puting beliung.

Sementara itu, istilah tornado biasanya digunakan buat menyebut bencana angin pusaran yang terjadi di wilayah belahan bumi utara atau selatan yang posisinya berada di garis lintang tinggi, seperti wilayah Amerika Serikat atau benua Eropa.

Jadi kalau kamu melihat ada berita angin kencang berputar hebat yang melanda daerah pemukiman di Indonesia, secara kaidah penamaan yang lebih tepat adalah menyebutnya sebagai bencana puting beliung, bukan angin tornado ya.

Perbandingan Ukuran Fisik Belalai yang Terlihat Kasat Mata

Selain lokasi nongkrongnya yang beda negara, kamu juga bisa langsung mengenali perbedaan keduanya hanya dengan melihat ukuran fisiknya secara langsung.

Perbedaan dimensi ini sangat kontras dan bisa langsung dibedakan oleh mata kita tanpa perlu bantuan alat khusus.

Angin tornado itu dikenal memiliki ukuran belalai raksasa alias versi makro yang diameternya sangat luas, bahkan pusarannya bisa mencapai jarak ratusan meter dari pusat pusaran ke ujung luarnya. Bayangin aja betapa ngerinya kalau pusaran segede itu lewat di depan mata.

Kebalikannya dengan sang kakak, angin puting beliung yang sering melanda wilayah Indonesia sering kali dijuluki sebagai versi mini dari angin tornado.

Hal ini dikarenakan ukuran diameter belalai pusaran puting beliung itu tergolong jauh lebih kecil dan imut jika dibandingkan dengan tornado.

Rata-rata diameter bentangan angin puting beliung di negara kita hanya berkisar antara belasan sampai puluhan meter saja.

Walaupun ukurannya masuk kategori mini, kamu tetep nggak boleh meremehkan kekuatannya ya karena angin ini masih sanggup buat menerbangkan atap rumah warga dalam sekejap.

Rahasia Sains di Balik Pengaruh Gaya Coriolis Bumi

Mungkin sekarang kamu mulai bertanya-tanya, kenapa sih pusaran angin badai di Indonesia itu ukurannya mini-mini aja sedangkan yang di luar negeri bisa segede gaban.

Rahasianya ternyata ada pada sebuah efek ilmiah yang dinamakan gaya coriolis. Biar gampang dipahami, gaya coriolis ini adalah sebuah efek semu yang muncul akibat adanya perputaran atau rotasi bumi pada porosnya yang memengaruhi pergerakan arah angin global.

Kamu bisa membayangkan atau mempraktikkan efek ini dengan cara yang gampang banget, yaitu dengan mengamati pusaran air yang terbentuk pas kamu lagi membuka sumbat pembuangan di wastafel.

Putaran air di wilayah belahan bumi bagian utara bakal memiliki arah putaran yang berbeda dengan wilayah belahan bumi bagian selatan.

Nah, efek pusaran ini bakal otomatis mengecil dan melemah kalau posisinya makin mendekati garis ekuator atau khatulistiwa.

Karena Indonesia berada tepat di jalur ekuator yang gaya coriolisnya sangat minim, maka pusaran angin yang terbentuk di alam kita nggak bakal dapat modal energi buat tumbuh menjadi raksasa sebesar angin tornado yang ada di negara lintang tinggi.

Baca juga: Deretan Jenis Batu Akik Berkhodam Tinggi yang Lagi Viral, Apa Saja?

Ilustrasi Perbedaan Tornado dan Puting Beliung. (Pixabay)

Standar Kecepatan dan Jenis Ibu Awan yang Sama

Meskipun punya perbedaan ukuran dan lokasi, kedua angin puting ini ternyata punya kesamaan dalam hal standar performa kecepatan dan juga tempat mereka dilahirkan.

Sebuah pusaran angin baru bisa resmi dikategorikan sebagai kelompok tornado atau puting beliung kalau kecepatan putarannya sudah menyentuh atau melebihi angka tiga puluh empat knot, atau jika dikonversi ke satuan yang biasa kita dengar adalah sekitar enam puluh lima kilometer per jam.

Kecepatan segitu udah pasti cukup buat bikin pohon-pohon tumbang dan papan reklame di jalanan ambruk.

Selain masalah kecepatan, kesamaan mutlak lainnya adalah mereka berdua lahir dari rahim ibu awan yang sama, yaitu awan kumulonimbus.

Buat yang belum tahu, awan kumulonimbus ini adalah jenis awan badai raksasa yang bentuknya mirip kembang kol raksasa berwarna abu-abu gelap kehitaman di langit.

Proses terbentuknya kedua angin ini selalu dimulai dari adanya pergolakan udara hebat di dalam awan kumulonimbus tersebut, yang kemudian menciptakan pusaran udara maut yang menjulur terus ke bawah hingga akhirnya menyentuh permukaan bumi dan merusak apa saja yang dilewatinya.

Mengenal Saudara Jauh yang Bernama Siklon Tropis

Di dalam obrolan mengenai cuaca ekstrem, selain tornado dan puting beliung, pasti kamu juga sering banget denger istilah keren lain yang namanya siklon tropis.

Nah, ketiga fenomena ini emang sekilas mirip karena sama-sama punya modal kecepatan angin yang super ngebut di atas enam puluh lima kilometer per jam. Tapi, ada satu hal fundamental yang membedakan siklon tropis dari duo tornado dan puting beliung.

Kalau tornado dan puting beliung itu sifatnya menjulur langsung dari awan sampai menyentuh permukaan tanah, siklon tropis ini bentuknya adalah gumpalan raksasa dari kumpulan banyak awan badai yang berputar bersama di atas lautan luas.

Jadi, pusat pusaran dari siklon tropis ini aslinya nggak pernah sampai menyentuh permukaan daratan.

Meski pusat putarannya tetep stay di atas laut, kamu harus tetap waspada karena dampak ekor cuaca ekstrem yang dihasilkan oleh badai siklon raksasa ini bisa berupa hujan badai luar biasa yang getarannya merusak sampai ke daratan pemukiman kita.

Alasan Kenapa Badai Besar Sangat Jarang Mampir ke Indonesia

Sebagai penutup edukasi cuaca kali ini, kita patut bersyukur tinggal di wilayah Indonesia yang dilindungi oleh hukum alam khatulistiwa.

Berkat posisi geografis kita yang minim gaya coriolis tadi, wilayah Indonesia tercatat sangat jarang sekali kebagian tempat buat terbentuknya badai siklon tropis raksasa jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga yang posisinya ada di lintang tinggi.

Sebagai perbandingan, negara Filipina yang posisinya ada di lintang tinggi bisa dihantam badai siklon tropis rata-rata sampai dua puluh kejadian setiap tahunnya, yang pastinya bikin repot warga di sana. Sedangkan di Indonesia, buat dapet satu kejadian siklon tropis saja belum tentu terjadi dalam waktu setahun.

Baca juga: Siklus Air di Bumi: Perjalanan Tanpa Henti yang Bikin Air Nggak Pernah Habis

Ilustrasi Perbedaan Tornado dan Puting Beliung. (unsplash.com)

Walaupun sangat langka, anomali alam sesekali emang bisa saja terjadi di perairan kita, seperti kemunculan siklon tropis Anggrek di Samudra Hindia baru-baru ini atau badai siklon tropis Seroja beberapa waktu lalu yang sempat memberikan dampak kerusakan yang lumayan signifikan di wilayah NTT.

 Jadi, selalu pantau info cuaca resmi dari lembaga berwenang, tetep waspada pas hujan badai melanda, dan jangan lupa buat selalu jaga kelestarian lingkungan sekitar kita ya!

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: YouTube

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU