INDOZONE.ID - San Agustín yang berada di wilayah Huila, Kolombia bagian selatan, dikenal sebagai salah satu situs arkeologi paling misterius di Amerika Latin.
Tempat ini sering disebut sebagai nekropolis atau “kota kematian” terbesar di dunia karena dipenuhi oleh patung-patung megalitik serta struktur kuil kuno yang berasal dari peradaban pra-Columbus.
Hingga kini, identitas pasti masyarakat yang membangun kompleks ini masih menjadi teka-teki bagi para peneliti.
Baca juga: Mengenal Candi Kailasa sang Keajaiban Monolitik dari India
Jejak Peradaban Kuno di Pegunungan Andes
Peradaban San Agustin berkembang di kawasan Macizo Colombiano, sebuah wilayah pegunungan yang menjadi titik pertemuan beberapa rangkaian Andes.
Kondisi geografis tersebut menciptakan lanskap yang unik sekaligus strategis bagi perkembangan budaya kuno di daerah itu.
Situs peninggalan budaya ini tersebar di lebih dari 300 lokasi berbeda. Dua kawasan yang menjadi pusat utamanya adalah Mesitas dan La Estación.
Baca juga: Batu Ash-Shakhrah: Titik Awal Nabi Muhammad SAW Naik ke Langit
Di antara berbagai peninggalan yang ditemukan, salah satu yang paling terkenal adalah La Chaquira, sebuah ukiran batu besar yang menghadap ke lembah.
Ukiran ini menggambarkan berbagai figur seperti jaguar, manusia, serta sosok perempuan yang menghadap ke arah mata angin tertentu.
Keberadaan struktur batu tersebut menunjukkan bahwa masyarakat kuno San Agustín memiliki kemampuan teknik yang cukup maju, terutama dalam memindahkan dan mengolah batu berukuran besar di wilayah pegunungan yang curam.
Ditemukan Kembali Setelah Berabad-Abad
Menariknya, ketika bangsa Spanyol tiba di wilayah tersebut pada masa kolonial, masyarakat setempat sudah tidak mengetahui lagi siapa yang membangun monumen-monumen batu itu.
Catatan sejarah mengenai situs ini baru muncul pada abad ke-18 melalui tulisan seorang biarawan bernama Juan de Santa Gertrudis.
Namun perhatian dunia terhadap San Agustín justru membawa dampak yang tidak selalu positif. Ketertarikan terhadap artefak kuno memicu berbagai aksi penjarahan terhadap patung dan benda bersejarah di kawasan tersebut.
Baca juga: Jejak Odysseus dalam Prasasti Kuno, Legenda atau Fakta Sejarah?
Pada tahun 1913, arkeolog asal Jerman, Konrad Theodor Preuss, melakukan penelitian ilmiah pertama di situs ini.
Sayangnya, dalam penelitiannya ia membawa 21 patung dari San Agustín ke Berlin secara ilegal. Hingga saat ini, pemerintah Kolombia masih berupaya agar artefak tersebut dapat dikembalikan ke negara asalnya.
Perlindungan resmi terhadap kawasan ini baru dimulai pada tahun 1941 ketika pemerintah menetapkannya sebagai area yang dilindungi. Kemudian pada tahun 1995, UNESCO mengakui San Agustín sebagai Situs Warisan Dunia.
Asal-Usul Peradaban yang Masih Diperdebatkan
Para arkeolog memperkirakan bahwa budaya San Agustín mulai berkembang antara sekitar 1000 SM hingga 3000 SM.
Masa kejayaannya diperkirakan berlangsung pada periode yang dikenal sebagai Regional Klasik, yaitu sekitar tahun 100 hingga 900 Masehi.
Beberapa penelitian juga menyebutkan bahwa komunitas yang membangun situs ini kemungkinan berasal dari wilayah hutan Amazon.
Mereka diduga bermigrasi ke daerah pegunungan dan kemudian membentuk sistem sosial serta kepercayaan yang kompleks.
Baca juga: Gali Tanah, Warga Tawangsari Boyolali Temukan Arca dan Yoni Abad 18
Meski banyak penelitian telah dilakukan, alasan mengapa peradaban ini menghilang masih belum diketahui secara pasti.
Sekitar tahun 1530, tepat sebelum pengaruh kolonialisme meluas di wilayah tersebut, berbagai pemukiman dan kuil di San Agustín ditinggalkan tanpa penjelasan yang jelas.
Karena ukurannya tidak sebesar situs peradaban Inca atau Aztec, banyak struktur batu di San Agustín dengan cepat tertutup oleh vegetasi hutan yang lebat.
Alam secara perlahan menyembunyikan jejak peradaban ini selama ratusan tahun sebelum akhirnya ditemukan kembali oleh para peneliti.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: The Guardian