Rabu, 18 MARET 2026 • 20:00 WIB

Makna Ogoh-Ogoh dalam Tradisi Menjelang Nyepi

Author

Ogoh-ogoh (Freepik)

INDOZONE.ID - Makna ogoh-ogoh dalam tradisi menjelang Nyepi tidak hanya terletak pada bentuknya yang menyeramkan.

Setiap menjelang Hari Raya Nyepi, suasana di berbagai daerah dengan komunitas Hindu, khususnya di Bali, identik dengan arak-arakan ogoh-ogoh

Tradisi itu dilaksanakan pada hari Pengrupukan, sehari sebelum Nyepi. Di balik kemeriahannya, terdapat makna simbolik dan nilai spiritual yang mendalam.

Berikut penjelasan makna ogoh-ogoh dalam tradisi menjelang Nyepi, mulai dari asal-usulnya, filosofi bentuknya, hingga nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

Baca juga: Sejarah Pawai Ogoh-ogoh dalam Perayaan Nyepi, Asal Usulnya dari Kutukan Cinta Terlarang

Apa Itu Ogoh-Ogoh?

Ogoh-ogoh merupakan patung besar yang diarak dalam pawai menjelang Hari Raya Nyepi. Mengutip laman Kemenag, Kamis (05/03/2026) istilah ogoh-ogoh berasal dari kata Bali “ogah-ogah” yang berarti sesuatu yang digoyang-goyangkan. Hal ini merujuk pada cara patung tersebut diarak dengan cara dipikul dan digerakkan bersama-sama.

Berdasarkan jurnal yang diterbitkan oleh Phinisi Integration Review, ogoh-ogoh mulai dikenal sekitar tahun 1980-an dan terus berkembang hingga kini. Awalnya, ogoh-ogoh dikaitkan dengan tradisi ngelewang dari kesenian Ndong-nding di Kabupaten Gianyar dan Karangasem.

Baca juga: Pesona Ogoh-Ogoh: Perpaduan Seni, Budaya, dan Spiritualitas di Bali

Ada pula pendapat yang menyebut bahwa ogoh-ogoh terinspirasi dari perwujudan Raja Jaya Pangus dan Putri Kang Cing Wei dalam bentuk Barong Landung.

Selain itu, muncul pandangan bahwa ogoh-ogoh lahir dari kreativitas para pengrajin patung yang ingin membuat karya dari bahan lebih ringan agar bisa diarak dan dipertunjukkan.

Seiring waktu, tradisi ini tidak hanya dilakukan di Bali, tetapi juga di daerah lain yang memiliki komunitas Hindu, seperti di Kabupaten Manokwari, Papua Barat, dan Desa Pepuro Barat di Luwu Timur.

Makna Filosofis di Balik Bentuknya

Secara umum, ogoh-ogoh direpresentasikan sebagai Bhuta Kala. Bhuta Kala dimaknai sebagai kekuatan alam semesta dan waktu yang tidak terbatas. Dalam bentuk patung, ogoh-ogoh sering digambarkan sebagai sosok besar dengan wajah menyeramkan.

Baca juga: Mengungkap Sejarah dan Makna Hari Raya Nyepi

Bentuk yang garang, mata melotot, gigi bertaring, rambut acak-acakan, hingga kuku panjang bukan sekadar hiasan. Wujud tersebut melambangkan sifat-sifat negatif atau energi buruk dalam diri manusia.

Berdasarkan kajian bentuknya, ogoh-ogoh dibagi menjadi tiga jenis:

  • Ogoh-ogoh Bhuta Kala, yang paling sesuai dengan rangkaian ritual Nyepi karena menampilkan sosok menyeramkan sebagai simbol energi negatif.

  • Ogoh-ogoh Wayang, yang mengambil tokoh pewayangan seperti Bima, Krisna, atau Rahwana dengan makna simbolik tertentu.

  • Ogoh-ogoh Kontemporer, yang tidak terikat aturan baku dan lebih menonjolkan pesan sosial kepada masyarakat.

Melalui simbol tersebut, ogoh-ogoh mengingatkan manusia untuk mengenali dan mengendalikan sifat buruk dalam dirinya.

Tradisi Pawai Ogoh-Ogoh Sebelum Nyepi

Pawai ogoh-ogoh dilaksanakan pada hari Pengrupukan, sehari sebelum Nyepi. Dalam prosesi ini, patung diarak secara bersama-sama oleh masyarakat. Suasana biasanya meriah dan melibatkan banyak warga.

Namun, pawai ini bukan sekadar pertunjukan seni. Di akhir arak-arakan, ogoh-ogoh umumnya dibakar hingga habis.

Proses pembakaran tersebut melambangkan pemurnian atau pelepasan sifat Bhuta Kala yang ada dalam diri manusia.

Dengan demikian, sebelum memasuki hari Nyepi yang penuh keheningan dan introspeksi, umat Hindu terlebih dahulu melakukan simbolisasi pembersihan diri melalui ogoh-ogoh.

Baca juga: Ketahui, Ada 4 Hal yang Dilarang Umat Hindu Dilakukan pada saat Perayaan Nyepi

Nilai Budaya dan Spiritualitas dalam Perayaannya

Di balik kemegahan dan kreativitas ogoh-ogoh, tersimpan nilai budaya dan spiritual yang kuat. Tradisi ini menjadi sarana untuk menjaga harmoni antara manusia dan alam.

Ogoh-ogoh mengajarkan pentingnya memurnikan sifat negatif, sekaligus menjadi pengingat agar manusia tidak merusak lingkungan.

Nilai keberlanjutan dan tanggung jawab terhadap alam menjadi bagian dari pesan yang disampaikan.

Baca juga: Arkeolog Temukan Bukti Keberadaan Gajah Perang Zaman Hannibal di Spanyol

Di beberapa daerah seperti Desa Pepuro Barat, tradisi ogoh-ogoh telah menyatu dengan kehidupan masyarakat Hindu setempat.

Budaya dan ajaran agama berjalan beriringan, sehingga ogoh-ogoh bukan hanya menjadi acara tahunan, tetapi bagian dari identitas dan kebersamaan komunitas.

Itulah makna ogoh-ogoh dalam tradisi menjelang Nyepi. Arak-arakan degan patung ini tidak hanya terletak pada bentuknya yang menyeramkan. Patung tersebut merupakan simbol Bhuta Kala yang merepresentasikan sifat negatif dalam diri manusia.

Dengan memahami makna filosofis dan nilai budayanya, ogoh-ogoh dapat dilihat bukan sekadar sebagai pertunjukan, tetapi sebagai simbol refleksi dan penyucian diri menjelang hari suci Nyepi. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Papuabarat.kemenag

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU