Sistem Penglihatan Ikan Laut Dalam Tantang Teori Biologi yang Diajarkan di Buku Teks Biologi
INDOZONE.ID - Selama lebih dari seratus tahun, buku teks biologi mengajarkan bahwa penglihatan makhluk vertebrata—termasuk manusia—hanya bergantung pada dua jenis sel yang jelas berbeda.
Batang (rods) untuk cahaya redup, dan kerucut (cones) untuk cahaya terang dan warna.
Kini, penelitian terbaru pada ikan laut dalam membuktikan bahwa pembagian rapi ini ternyata tidak sepenuhnya benar.
Para ilmuwan telah mengidentifikasi jenis sel penglihatan baru pada ikan laut dalam.
Sel ini merupakan perpaduan unik: bentuknya seperti sel batang, tapi perlengkapan molekuler dan gennya seperti sel kerucut.
Baca juga: Apa Itu Badai Magnetik? Penjelasan Lengkap Penyebab dan Dampaknya bagi Bumi
Temuan ini dipublikasikan di jurnal Science Advances pada Rabu (18/2/2026).
Sel Hibrida yang Hidup di Cahaya Remang
Sel hibrida ini ditemukan pada larva dari tiga spesies ikan laut dalam di Laut Merah.
Ketiganya adalah ikan kapak (Maurolicus mucronatus), ikan cahaya (Vinciguerria mabahiss), dan ikan lentera (Benthosema pterotum).
Ikan-ikan kecil ini, dengan panjang hanya 3-7 cm saat dewasa, hidup di wilayah laut senja (twilight zone) di kedalaman 20 hingga 200 meter, tempat sinar matahari sulit menembus.
“Kami menemukan bahwa saat masih larva, ikan-ikan ini sebagian besar menggunakan fotoreseptor hibrida mix-and-match,” kata Lily Fogg, peneliti pascadoktoral biologi kelautan di Universitas Helsinki, Finlandia, yang memimpin penelitian ini.
Baca juga: Sirkum Pasifik dan Fenomena Ring of Fire: Mengapa Kawasan Ini Begitu Aktif?
“Sel-sel ini tampak seperti sel batang—panjang, silindris, dan dioptimalkan untuk menangkap sebanyak mungkin partikel cahaya (foton). Tapi mereka menggunakan mesin molekuler sel kerucut, mengaktifkan gen yang biasanya hanya ditemukan di sel kerucut,” jelas Fogg.
Menariknya, ikan kapak mempertahankan sel hibrida ini sepanjang hidupnya. Sementara dua spesies lainnya beralih ke dikotomi batang-kerucut biasa saat dewasa.
Tantangan bagi Teori Klasik
Penemuan ini secara fundamental menantang pemahaman lama tentang sel penglihatan.
Dalam kondisi cahaya sangat redup seperti habitat mereka, sel batang dan kerucut biasa sama-sama aktif, tapi tidak bekerja optimal.
Sel hibrida ini tampaknya menjadi solusi evolusioner untuk mengatasi keterbatasan tersebut.
Baca juga: Mampukah Pusat Data AI Raksasa Dipindahkan ke Luar Angkasa?
“Hasil kami menantang gagasan lama bahwa sel batang dan kerucut adalah dua tipe sel yang tetap dan terpisah jelas. Sebaliknya, kami menunjukkan bahwa fotoreseptor dapat menggabungkan fitur struktural dan molekuler dengan cara yang tak terduga,” kata Fogg.
“Ini menunjukkan bahwa sistem penglihatan vertebrata jauh lebih fleksibel dan mudah beradaptasi secara evolusioner daripada yang kita kira sebelumnya,” tambahnya.
Rekan penulis studi, Fabio Cortesi, ahli biologi kelautan dan neurosaintis dari Universitas Queensland, Australia, menegaskan hal serupa.
“Ini temuan yang sangat keren, yang menunjukkan bahwa biologi tidak bisa dimasukkan ke dalam kotak-kotak rapi. Saya tak akan terkejut jika sel-sel ini ternyata jauh lebih umum di semua vertebrata, termasuk spesies darat,” ujar Cortesi.
Baca juga: Mengenal Metamorfosis Sempurna: Pengertian, Jenis dan Contohnya pada Hewan
Ikan Kecil dengan Kemampuan Luar Biasa
Ketiga spesies ikan ini memiliki kemampuan bioluminesensi—menghasilkan cahaya biru-hijau dari organ kecil di tubuh mereka, terutama di perut.
Cahaya ini menyatu dengan latar belakang samar sinar matahari dari atas, sebuah strategi kamuflase yang disebut counterillumination untuk menghindari predator.
Ikan-ikan mungil ini memainkan peran sangat penting di ekosistem laut.
“Ikan kecil seperti ini menjadi bahan bakar lautan terbuka. Jumlah mereka berlimpah dan menjadi makanan bagi banyak ikan predator besar, termasuk tuna dan marlin, mamalia laut seperti lumba-lumba dan paus, serta burung laut,” jelas Cortesi.
Baca juga: Akhir Februari 2026, Langit Malam akan Dihiasi Enam Planet, Ini Lokasi dan Waktu Terbaik
Mereka juga melakukan salah satu migrasi harian terbesar di kerajaan hewan. Pada malam hari, mereka berenang mendekati permukaan untuk mencari makan di perairan kaya plankton.
Saat siang, mereka kembali ke kedalaman 200 hingga 1.000 meter untuk menghindari predator.
Penemuan ini sekali lagi membuka mata kita bahwa lautan dalam masih menyimpan begitu banyak misteri.
Seperti kata Cortesi, “Laut dalam tetap menjadi perbatasan bagi eksplorasi manusia, sebuah kotak misteri dengan potensi penemuan signifikan. Kita harus menjaga habitat ini dengan sangat baik, agar generasi mendatang masih bisa mengagumi keajaibannya.”
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Reuters