Jumat, 20 FEBRUARI 2026 • 11:15 WIB

Eksperimen Gila! Peneliti Konfirmasi Bangsa Romawi Kuno Gunakan Kotoran Manusia sebagai Obat

Author

Ilustrasi Legiun Romawi. (archyde.com)

INDOZONE.ID - Sejarah medis memang sering kali menyimpan fakta yang bikin kita merinding, dan kali ini Bangsa Romawi Kuno kembali menjadi pusat perhatian. 

Para peneliti baru-baru ini mengonfirmasi temuan mengejutkan bahwa masyarakat Romawi ribuan tahun lalu literally menggunakan kotoran manusia (tinja) sebagai bagian dari pengobatan dan perawatan kecantikan mereka.

Bukti arkeologis ini ditemukan di sebuah wadah kaca kuno yang dikenal sebagai unguentarium dari Abad ke-2 Masehi di Turki. 

Setelah dilakukan analisis kimia mendalam, peneliti menemukan residu kotoran manusia di dalamnya. 

Baca juga: Meta Kembangkan AI yang Memungkinkan 'Menghidupkan Kembali' Orang yang Sudah Meninggal

Fakta ini menjadi red flag bagi kita yang mengira standar kebersihan zaman dulu sudah cukup maju, padahal batas antara higienitas, kosmetik, dan ritual medis saat itu ternyata sangatlah tipis.

Temuan ini bukan sekadar mitos, karena zat yang ditemukan mengandung biomarker yang konsisten dengan tinja manusia. 

Uniknya, para peneliti juga menemukan campuran senyawa aromatik dari tanaman seperti timi (thyme), yang diduga kuat sengaja ditambahkan untuk menutupi bau busuk yang menyengat. 

Vibes medis zaman dulu memang benar-benar berada di level yang berbeda!

Baca juga: Mengenal Hewan Mikroskopis: Makhluk Super Kecil yang Diam-diam Hidup di Sekitar Kita

Antara Ramuan Kuno dan Terapi Modern

FYI, penggunaan kotoran dalam pengobatan kuno ini sebenarnya sudah pernah disinggung dalam teks-teks sejarah, namun temuan residu kimia ini adalah bukti fisik pertama yang tidak terbantahkan. 

Masyarakat Romawi percaya bahwa zat-zat tertentu dari tubuh manusia memiliki kekuatan penyembuh jika dioleskan ke bagian kulit yang terinfeksi atau bermasalah.

Ironisnya, di zaman modern sekarang, dunia medis juga mengenal prosedur serupa namun jauh lebih canggih dan higienis yang disebut Fecal Microbiota Transplant (FMT). 

Bedanya, prosedur saat ini dilakukan untuk memperbaiki bakteri usus yang rusak, bukan sekadar dioleskan ke luka seperti praktik ekstrem zaman dulu yang justru berisiko menyebarkan infeksi lebih parah.

Baca juga: Cold Case Tertua di Dunia: Detektif Modern Berhasil Bongkar Kasus Pembunuhan Berusia 430.000 Tahun

Para arkeolog di Museum Arkeologi Bergama menjelaskan bahwa penemuan ini memberikan wawasan baru tentang bagaimana orang Romawi memandang tubuh mereka. 

Bagi mereka, apa yang keluar dari tubuh bisa diproses kembali untuk menyembuhkan tubuh, sebuah konsep yang mungkin terdengar sangat menjijikkan bagi standar kesehatan kita hari ini.

Refleksi Sejarah yang Unik dan Menarik

Meskipun praktik menggunakan kotoran sebagai obat ini terdengar sangat absurd, hal ini membuktikan betapa beraninya nenek moyang kita dalam melakukan eksperimen demi mencari kesembuhan. 

Kita patut bersyukur hidup di era medis yang sudah berbasis sains dan sterilitas tinggi, sehingga tidak perlu lagi berurusan dengan ramuan 'ajaib' semacam itu.

Baca juga: 7 Fakta Unik Tanaman Venus Flytrap, Si Karnivora Pemakan Serangga!

Pelajaran berharganya, sejarah selalu punya cara untuk mengejutkan kita dengan fakta-fakta yang di luar nalar. 

Jangan sampai kita meremehkan apa yang sudah ditemukan oleh arkeolog, karena setiap residu di dalam botol kuno bisa bercerita banyak tentang cara manusia bertahan hidup di masa lalu.

Tetap chill ya, setidaknya kita tahu bahwa obat-obatan yang kita konsumsi sekarang sudah jauh lebih bersih dan tidak berbau aneh. 

Kisah dari Bangsa Romawi ini menjadi pengingat bahwa perjalanan menuju ilmu kedokteran modern yang kita nikmati saat ini penuh dengan eksperimen-eksperimen liar yang mungkin lebih cocok disebut sebagai tantangan ekstrem daripada terapi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Vice.com

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU