Selasa, 10 FEBRUARI 2026 • 13:12 WIB

Aplikasi AI Kini Bisa Identifikasi Spesies Dinosaurus Lewat Jejak Kaki

Author

Ilustrasi Aplikasi AI Kini Bisa Identifikasi Spesies Dinosaurus Lewat Jejak Kaki. (Freepik)

INDOZONE.ID - Aplikasi AI kini bisa identifikasi spesies Dinosaurus lewat jejak kaki. Hal tersebut seperti yang dikutip pada laman Science Daily (10/02/2026), teknologi yang biasanya dikenal untuk mengenali wajah atau menerjemahkan bahasa, kini dimanfaatkan untuk mengungkap misteri makhluk prasejarah.

Melalui sebuah aplikasi berbasis AI, para ilmuwan dan masyarakat umum kini dapat mengidentifikasi spesies dinosaurus hanya dari jejak kaki yang telah membatu jutaan tahun lalu.

Baca juga: Apakah Bahan Bakar Minyak Berasal dari Dinosaurus? Ini Faktanya!

Inovasi ini menjadi terobosan penting dalam dunia paleontologi, bidang ilmu yang selama lebih dari satu abad bergulat.

Tantangan Lama dalam Membaca Jejak Kaki Dinosaurus

Jejak kaki fosil menyimpan informasi berharga tentang kehidupan dinosaurus, mulai dari cara berjalan, kecepatan bergerak, hingga perilaku sosial mereka. Namun, menafsirkan jejak ini bukan hal yang mudah.

Bentuk jejak kaki dinosaurus dapat berubah akibat tekanan tanah, erosi, atau proses pembatuan selama jutaan tahun.

Baca juga: Mengenal Jenis dan Nama-nama Dinosaurus, Makhluk Penguasa Bumi Jutaan Tahun Lalu

Selama ini, para paleontolog kerap berdebat apakah sebuah jejak berasal dari dinosaurus pemakan daging, herbivora, atau bahkan spesies burung purba.

Ketidakpastian ini membuat identifikasi sering bergantung pada interpretasi subjektif dan pengalaman masing-masing ahli.

Mengubah Foto Jejak Menjadi Analisis Instan

Melalui aplikasi bernama DinoTracker, pendekatan tersebut mulai berubah. Pengguna cukup memotret atau mengunggah gambar jejak kaki dinosaurus melalui ponsel, lalu sistem AI akan menganalisis bentuk dan strukturnya secara otomatis.

Dalam hitungan detik, aplikasi ini memberikan perkiraan jenis dinosaurus yang kemungkinan besar meninggalkan jejak tersebut.

Baca juga: Mengenal Larapinta, Nama Lain Sungai Tertua di Dunia yang Eksis Sejak Zaman Pra Dinosaurus

Teknologi ini tidak hanya memudahkan peneliti di lapangan, tetapi juga membuka pintu bagi masyarakat umum untuk ikut terlibat dalam penelitian fosil.

AI yang Belajar dari Ribuan Fosil Asli

Pengembangan sistem ini dipimpin oleh tim peneliti dari Helmholtz-Zentrum Berlin bekerja sama dengan Universitas Edinburgh.

Berbeda dari metode lama yang mengandalkan basis data manual, tim ini merancang algoritma yang mampu belajar sendiri mengenali variasi alami jejak kaki dinosaurus.

Baca juga: Mengenal Ambopteryx Longibrachium: Spesies Dinosaurus Kecil Bersayap Kelalawar yang Ditemukan di China

Model AI dilatih menggunakan hampir 2.000 jejak fosil asli, ditambah jutaan contoh simulasi. Simulasi tersebut dirancang menyerupai perubahan realistis, seperti tepi jejak yang tertekan, bergeser, atau terdistorsi seiring waktu. 

Dengan cara ini, AI tidak hanya mengenali bentuk ideal, tetapi juga variasi yang umum ditemukan di lapangan.

Delapan Ciri Utama yang Dianalisis AI

Dalam proses analisisnya, sistem AI mengidentifikasi delapan karakteristik utama pada jejak kaki dinosaurus. Di antaranya adalah jarak antar jari, posisi tumit, luas permukaan yang menyentuh tanah, serta pola distribusi berat tubuh.

Setelah ciri-ciri tersebut dikenali, jejak baru akan dibandingkan dengan fosil yang telah diketahui identitasnya. Dari sini, sistem memprediksi spesies dinosaurus yang paling mungkin menjadi pembuat jejak tersebut.

Baca juga: Ilmuwan China Temukan Bayi Dinosaurus Berlapis Baja Pertama di Dunia

Hasilnya cukup mengesankan. Dalam pengujian, klasifikasi AI ini sesuai dengan penilaian para ahli manusia sekitar 90 persen, bahkan untuk kasus-kasus yang selama ini dianggap kontroversial.

Membuka Paleontologi untuk Publik

Lebih dari sekadar alat riset, teknologi ini dinilai mampu mengubah cara paleontologi dipelajari dan dipahami. Masyarakat kini dapat ikut serta menganalisis jejak kaki dinosaurus, sementara para ilmuwan mendapatkan metode yang lebih objektif dan minim bias.

Dr. Gregor Hartmann dari Helmholtz-Zentrum menyebut pendekatan ini sebagai cara baru yang netral dan berbasis data untuk menguji hipotesis lama. Menurutnya, teknologi ini sangat bermanfaat untuk penelitian, pendidikan, hingga kerja lapangan.

Baca juga: Penemuan Telur Dinosaurus Berusia 70 Juta Tahun Berisi Kristal Berkilau, Bikin Ilmuwan Terkejut

Senada dengan itu, Profesor Steve Brusatte dari Universitas Edinburgh menilai studi ini sebagai kontribusi penting bagi paleontologi modern.

Ia bahkan menyebut bahwa jaringan komputer ini berpotensi mengidentifikasi burung tertua di dunia, membuka wawasan baru tentang evolusi kelompok hewan tersebut.

Ketika AI Membantu Menjawab Misteri Jutaan Tahun

Studi yang dipublikasikan di jurnal PNAS ini menunjukkan bahwa kecerdasan buatan tidak hanya relevan untuk masa depan, tetapi juga mampu membantu kita memahami masa lalu yang sangat jauh.

Baca juga: Ribuan Jejak Dinosaurus Ditemukan di Tebing Alpen Dekat Lokasi Olimpiade Musim Dingin

Dengan memadukan data, algoritma, dan fosil purba, AI kini menjadi alat baru untuk membaca jejak kehidupan di Bumi.

Teknologi ini membuktikan bahwa masa depan dan masa lalu bisa bertemu, tepat di jejak kaki dinosaurus yang pernah melangkah di planet ini jutaan tahun silam.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Science Daily

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU