Habitat Dugong Terbesar Ditemukan di Maluku, Ada Peran Besar Masyarakat Adat Jaga Ekosistem Laut
INDOZONE.ID - Ekspedisi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan WWF Indonesia sepanjang Oktober–November 2025 mengungkap habitat dugong terbesar di Maluku Barat Daya, Indonesia.
Perairan Maluku Barat Daya merupakan kawasan yang dinobatkan sebagai salah satu ekosistem laut paling tangguh di dunia. Hal itu berkat pasokan nutrisi dari Laut Banda dan Samudera Hindia.
Ekspedisi KKP dan WWF Indonesia menegaskan bahwa Maluku Barat Daya adalah benteng terakhir keanekaragaman hayati laut global di tengah tekanan perubahan iklim.
Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan KKP, Koswara, menegaskan pentingnya riset ini bagi kebijakan nasional.
“Kementerian Kelautan dan Perikanan terus mendorong pengelolaan kawasan konservasi perairan yang berbasis data ilmiah, melibatkan masyarakat sebagai aktor utama, serta memberikan manfaat nyata bagi keberlanjutan sumber daya dan ekonomi lokal,” ujar Koswara dalam pernyataannya dikutip Indozone, Minggu (8/2/2026).
Baca juga: Apa Itu Dugong? Mengapa Disebut sebagai Putri Duyung dan Berkaitan dengan Klenik?
Ia menilai hasil Ekspedisi Romang–Damer 2025 menjadi pijakan penting dalam pengambilan keputusan, baik di tingkat pusat maupun daerah.
Wilayah ini menjadi koridor migrasi utama bagi 24 spesies laut dilindungi, mulai dari paus biru, orca, hiu martil, penyu, hingga dugong.
Habitat Dugong Terbesar di Indonesia Terungkap
Dalam satu area pengamatan, peneliti menjumpai 32 ekor dugong sekaligus. Angka ini tergolong langka, bahkan dalam skala global.
Ekspedisi KKP dan WWF mengungkap habitat dugong terbesar di Maluku Barat Daya. (Dok. WWF Indonesia)
Temuan ini memperkuat bahwa kualitas perairan Maluku Barat Daya masih sangat terjaga.
Baca juga: Mengapa Planet Tidak Jatuh ke Matahari? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Baca juga: Ilmuwan Ungkap Cara Bintang Laut Bergerak Tanpa Koordinasi Saraf Pusat
Ekosistem lamun, rumah utama dugong, tercatat dalam kondisi prima, dengan tutupan di atas 50 persen. Tim ekspedisi bahkan menemukan 9 dari 14 jenis lamun yang ada di Indonesia.
Tak hanya dugong, kondisi terumbu karang di Kepulauan Romang dan Damer juga mencatat hasil positif.
Rata-rata tutupan terumbu karang mencapai 51,4 persen, jauh di atas rata-rata regional yang berada di angka 34 persen.
Dalam analisis lanjutan, peneliti menemukan koloni karang berusia 100–200 tahun. Fakta ini menandakan ekosistem perairan dangkal di kawasan tersebut telah bertahan selama berabad-abad.
Ekosistem tua seperti ini berperan besar sebagai pelindung pesisir, area pemijahan biota laut penting, hingga penopang ekonomi masyarakat pesisir.
Kearifan Lokal Jadi Kunci Ketahanan Laut
Di balik kuatnya ekosistem Maluku Barat Daya, ada peran besar masyarakat adat.
Praktik Sasi dan larangan adat (pemali) masih dijaga ketat di Pulau Romang dan Damer.
Aturan turun-temurun ini membatasi eksploitasi laut dan melindungi spesies tertentu.
Pejabat Sementara Direktur Program Kelautan dan Perikanan WWF Indonesia, Candhika Yusuf, menyebut wilayah ini sebagai anomali positif di tengah krisis laut global.
“Kita menemukan habitat terbesar dugong. Namun, keajaiban ini sedang dipertaruhkan oleh ancaman nyata praktik penangkapan ikan yang merusak oleh pihak luar,” kata Candhika.
Ekspedisi KKP dan WWF mengungkap habitat dugong terbesar di Maluku Barat Daya. (Dok. WWF Indonesia)
Ekspedisi KKP dan WWF mengungkap habitat dugong terbesar di Maluku Barat Daya. (Dok. WWF Indonesia)
Ia juga menyoroti ancaman sampah plastik dan ghost net yang mulai menjangkau pesisir terpencil.
Meski tangguh, Maluku Barat Daya bukan tanpa ancaman.
Penangkapan ikan menggunakan bahan peledak dan racun, perburuan penyu, hingga polusi plastik berisiko merusak resiliensi ekosistem yang sudah terbentuk selama ratusan tahun.
Kerusakan di wilayah ini tak hanya berdampak lokal. Sebagai pemasok nutrisi laut dari samudera dan laut dalam, gangguan di MBD bisa memengaruhi ketahanan pangan dan keseimbangan ekologi regional.
Oleh karena itu, pengawasan kolaboratif antara pemerintah, masyarakat, dan mitra pembangunan menjadi kunci.
Sebagai langkah lanjutan, WWF Indonesia akan mengembangkan program sosialisasi berbasis pendekatan lokal Kalwedo.
Kalwedo adalah nilai budaya Maluku Barat Daya yang bermakna persaudaraan, kebersamaan, dan saling menjaga.
Pendekatan ini diharapkan menjadi medium komunikasi efektif untuk menyampaikan pesan konservasi, terutama kepada generasi muda pesisir.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Humas Kkp
