Selasa, 20 JANUARI 2026 • 12:56 WIB

Apa Itu Wormhole? Konsep Fisika yang Bisa Memangkas Jarak Antargalaksi

Author

Ilustrasi wormhole (Freepik)

INDOZONE.ID - Teori wormhole sering kali dipandang sebagai kunci untuk melintasi alam semesta yang diisi oleh triliunan galaksi dan miliaran bintang

Luasnya ruang angkasa ini menyimpan miliaran planet potensial yang bisa menjadi destinasi migrasi manusia jika Bumi hancur. 

Kehancuran tersebut bisa datang dari alam, seperti jatuhnya meteor besar, atau dipicu oleh tangan manusia melalui peperangan. 

Di tengah ketidakpastian masa depan Bumi, planet-planet di kejauhan sana menjadi harapan bagi keberlangsungan spesies kita.

Pencarian planet baru yang bisa dihuni manusia hanya terhambat oleh kerja sama global dan masalah teknis transportasi. 

Baca juga: Mars Bisa Picu Zaman Es di Bumi, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Masalah fundamental dalam penjelajahan antarbintang adalah jarak tempuh. Gliese 581 d, salah satu planet paling potensial, terletak sejauh 20 tahun cahaya. 

Mengingat kecepatan cahaya adalah batas tertinggi di alam semesta, dan teknologi manusia saat ini belum mampu mendekati kecepatan tersebut, maka mengunjungi tetangga terdekat kita di luar angkasa masih menjadi impian yang sulit dijangkau secara fisik.

Sebuah Harapan: Lubang cacing (wormhole)

Harapan muncul dari prinsip dasar alam semesta. Berdasarkan teori relativitas umum, para ilmuwan memprediksi adanya entitas yang berperan sebagai jalur lintas galaksi, yang dikenal dengan istilah lubang cacing (wormhole). 

Meski penyebutannya terdengar unik, fenomena ini bukanlah lubang fisik maupun terkait dengan makhluk hidup. Secara teoritis, lubang cacing adalah distorsi dalam struktur ruang-waktu yang mampu menjembatani dua titik ekstrem yang saling berjauhan di kosmos. 

Melalui 'jalan pintas' ini, perjalanan antarbintang yang seharusnya memerlukan waktu ribuan tahun cahaya dapat dipangkas secara signifikan.

Baca juga: 6 Arti Mimpi Melihat Lubang Hitam Menurut Primbon Jawa, Ini Maknanya

Jangan menyamakan lubang cacing dengan lubang hitam yang mematikan. Lubang hitam ibarat jalan buntu yang menghisap segala sesuatu tanpa pernah mengembalikannya ke ruang angkasa. 

Di sana, materi akan tercabik-cabik hingga partikel terkecil dan terserap ke dalam pusat gravitasinya yang padat. Namun, lubang cacing menawarkan konsep yang berbeda. 

Ia bekerja layaknya pintu gerbang transporasi kosmik, di mana benda yang masuk dari satu sisi akan muncul kembali dengan utuh di lokasi yang berbeda di penjuru jagat raya.

Istilah lubang cacing diinspirasi oleh cara kerja cacing pada buah apel. Jika semut hanya bisa merayap di sepanjang kulit luar apel yang melengkung, cacing justru bisa mengebor jalan lurus menembus isi buah tersebut. 

Jalur tembus ini memberikan rute yang jauh lebih pendek dibandingkan rute konvensional di permukaan. 

Dalam skala alam semesta, terowongan yang memotong dimensi ruang-waktu secara langsung inilah yang oleh para ilmuwan dijuluki sebagai lubang cacing.

Konsep lubang cacing sebenarnya adalah produk sampingan yang lahir dari ambisi besar Einstein. Jauh sebelum dikenal sebagai jalan pintas antariksa, struktur ini muncul saat Einstein dan Nathan Rosen mencoba membedah partikel fundamental di tahun 1935. 

Einstein memiliki visi untuk menciptakan 'Teori Segalanya' (Theory of Everything). Ia berharap relativitas umum miliknya tidak sekadar menjadi hukum tentang gravitasi, melainkan juga mampu menjelaskan keberadaan partikel-partikel terkecil yang menyusun realitas kita.

Dengan analisa matematika yang kompleks dan rumit, muncullah objek yang dikenal dengan nama jembatan Einstein-Rosen (Einstein-Rosen bridge). Sayangnya usaha Einstein ini tidak berhasil. 

Namun sisa-sisa pekerjaan Einstein ini tidak lenyap seluruhnya. Jembatan Einstein-Rosen justru menjadi objek kajian tersendiri dan sekarang kita menyebutnya dengan nama lubang cacing.

Harapan Palsu?

Pada tahun 1962, mimpi penjelajahan intergalaktik menemui jalan buntu setelah Fuller dan Wheeler membuktikan ketidakstabilan lubang cacing. 

Lorong kosmik ini diprediksi akan menutup kembali sesaat setelah terbentuk, berubah wujud menjadi lubang hitam sebelum sempat digunakan sebagai jalur perlintasan. 

Kecepatan cahaya sekalipun tidak akan mampu mengejar waktu penutupannya, setiap materi yang mencoba masuk hanya akan berakhir terjepit dan hancur di dalam singularitas lubang hitam yang maha padat.

Stabilitas lubang cacing bergantung pada keberadaan materi negatif yang berfungsi sebagai penahan agar lorong tidak menutup. 

Keunikan materi ini terletak pada sifat antigravitasinya, ia tidak memicu tarikan, melainkan gaya tolak-menolak yang kuat. 

Analogi sederhananya, jika apel biasa jatuh ke bawah, apel negatif akan melesat ke langit. 

Walaupun kita belum pernah menjumpai objek dengan sifat ganjil ini di alam semesta, materi negatif adalah syarat mutlak yang harus dipenuhi jika kita ingin menjadikan lubang cacing sebagai jalur transportasi antarbintang.

Pemanfaatan materi negatif kemungkinan besar terbatas pada lubang cacing alami yang sisa-sisanya mungkin masih ada sejak awal semesta. 

Menciptakan lubang cacing baru adalah persoalan lain yang jauh lebih kompleks. Untuk menghubungkan Bumi dengan galaksi jauh, kita perlu melakukan apa yang disebut sebagai perubahan topologi, yakni memutus kesinambungan ruang dan menyambungkannya kembali ke lokasi lain. 

Secara fisik, ini berarti kita harus memiliki kemampuan untuk memanipulasi dan 'merobek' kain ruang-waktu itu sendiri.

Meskipun relativitas umum memandang ruang sebagai struktur fleksibel yang mampu melengkung dan bergetar, teori ini tetap mempertahankan keutuhan jalinan ruang tersebut tanpa celah. 

Dengan kata lain, ruang tidak bisa diputus atau dirobek. Konsekuensinya, keberadaan lubang cacing memang selaras dengan teori Einstein, namun mekanisme pembuatannya secara artifisial tidak dimungkinkan dalam kerangka teori tersebut.

Sejarah Lubang Cacing

Sejarah lubang cacing berayun di antara mimpi besar dan batasan fisik yang mengecewakan. Namun, hambatan berupa kebutuhan materi negatif dan modifikasi ruang kini mulai menemukan celah solusi melalui teori kuantum. 

Meskipun teori kuantum dan relativitas umum bekerja pada skala dimensi yang sangat berbeda, makro versus mikro, pertemuan kedua teori yang berlawanan ini justru menjadi kunci utama dalam membedah kemungkinan keberadaan jalan pintas di alam semesta.

Teori kuantum membuka peluang yang sebelumnya ditutup oleh relativitas umum dengan menyatakan bahwa materi negatif itu nyata dan struktur ruang bisa terputus dalam skala mikro. 

Hal ini berarti lubang cacing eksis secara alami dalam dimensi yang sangat kecil. Secara teoritis, kita hanya perlu memperbesar ukuran lubang cacing tersebut, meski saat ini teknologi kita belum mampu melakukannya. 

Baca juga: 14 Fakta Mencengangkan Cacing Tanah: Punya 5 Jantung hingga Mata di Kulit!

Selain itu, masih menjadi tanda tanya besar apakah kita bisa menghasilkan materi negatif dalam jumlah masif. Video di bawah ini memperlihatkan bagaimana para peneliti mencoba merekayasa lubang cacing dalam skala laboratorium.

Akibat berbagai kendala besar tersebut, lubang cacing kini tak lagi menjadi fokus utama bagi banyak fisikawan dalam mencari jalan pintas kosmik. 

Akan tetapi, perjalanan intergalaktik tetap menyisakan peluang lewat teori lain seperti Warp Drive. Pada akhirnya, secanggih apa pun teknologinya, harapan itu hanya akan ada selama kita menjunjung tinggi perdamaian. 

Kita akan kehilangan masa depan di antara bintang-bintang jika kita memilih untuk saling menghancurkan lewat kebencian dan peperangan di bumi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Scientificamerican.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU