INDOZONE.ID - Penemuan tulang lengan manusia purba di Mata Menge, Flores, mengungkap fakta mengejutkan dunia. Homo floresiensis sudah bertubuh sangat kecil sejak 700.000 tahun lalu.
Fosil ini memperkuat dugaan bahwa “manusia hobbit” berevolusi dari Homo erectus Jawa yang mengalami penyusutan ukuran tubuh ekstrem akibat hidup terisolasi di pulau.
Fragmen tulang humerus dewasa yang sangat kecil ditemukan di situs Mata Menge, Cekungan So’a, Nusa Tenggara Timur.
Fosil ini berasal dari lapisan berusia sekitar 700.000 tahun. Menariknya, ini adalah tulang lengan atas manusia purba terkecil yang pernah tercatat dalam rekaman fosil global.
Dari ukuran tulang tersebut, para peneliti memperkirakan tinggi badan pemiliknya hanya sekitar 103–108 cm. Lebih pendek dibandingkan Homo floresiensis dari Liang Bua yang hidup sekitar 60.000 tahun lalu.
Lebih Kecil dari “Manusia Hobbit’ Liang Bua
Selama ini, Homo floresiensis dikenal lewat temuan di Liang Bua sejak 2004. Individu paling terkenal, LB1, diperkirakan memiliki tinggi sekitar 106 cm.
Baca juga: Tersimpan Sejak 1981, Fosil Ular Purba Ini Akhirnya Ubah Sejarah Evolusi Reptil
Namun fosil Mata Menge menunjukkan sesuatu yang lebih ekstrem. Berdasarkan rekonstruksi panjang humerus (211–220 mm), tinggi tubuh hominin Mata Menge justru bisa lebih kecil dari Homo floresiensis Liang Bua.
Artinya, tubuh mungil ini bukan hasil evolusi akhir, tapi sudah muncul sangat awal dalam sejarah manusia purba Flores.
Baca juga: Temuan Peneliti Mengenai Fosil di New Mexico Ungkap Kerabat Muskox di Zaman Es
Jejak Evolusi dari Homo erectus Jawa
Salah satu perdebatan lama akhirnya makin jelas. Fosil gigi, rahang, dan humerus dari Mata Menge menunjukkan kemiripan kuat dengan Homo erectus dari Pulau Jawa.
Kesamaan ini melemahkan hipotesis alternatif yang menyebut Homo floresiensis berasal dari Australopithecus atau Homo habilis. Kedua jenis tersebut bahkan belum pernah ditemukan di Indonesia.
Dengan kata lain, nenek moyang Homo floresiensis kemungkinan besar adalah Homo erectus berbadan besar yang bermigrasi ke Flores sekitar satu juta tahun lalu.
Catatan arkeologi menunjukkan manusia purba di Flores hidup berdampingan dengan komodo dan buaya besar. Namun, reptil raksasa ini tidak cukup mengancam kelangsungan hidup mereka.
Isolasi pulau justru menjadi faktor kunci. Dengan sumber daya terbatas, ukuran tubuh kecil menjadi keuntungan evolusioner.
Dalam kurun sekitar 300.000 tahun, terjadi penyusutan ukuran tubuh yang dramatis, lalu relatif stabil selama ratusan ribu tahun berikutnya.
Total ada 10 fosil manusia purba dari Mata Menge, berasal dari setidaknya empat individu, termasuk dua anak-anak.
Analisis mikroskop digital memastikan humerus kecil berkode SOA-MM9 berasal dari individu dewasa, bukan anak-anak. Ini menegaskan bahwa tubuh mungil tersebut adalah ciri spesies, bukan anomali.
Para peneliti menyebut fosil-fosil ini sebagai Homo floresiensis versi lebih tua, dengan spesialisasi gigi yang belum sekompleks temuan Liang Bua.
Homo floresiensis menghilang dari catatan fosil sekitar 50.000 tahun lalu. Periode ini bertepatan dengan kemunculan Homo sapiens di wilayah yang sama.
Riset Internasional
Penelitian di Cekungan So’a merupakan kolaborasi Badan Geologi Indonesia dan University of Wollongong, Australia.
Tim dipimpin oleh Gerrit van den Bergh, bersama Ruly Setiawan dan Iwan Kurniawan. Sejumlah pakar internasional, termasuk Prof. Yousuke Kaifu dari Jepang, turut terlibat dalam analisis fosil.
Hasil riset ini dipublikasikan di jurnal Nature Communications pada 6 Agustus 2024 dengan judul “Early evolution of extremely small body size in Homo floresiensis.”
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Badan Geologi