INDOZONE.ID - Setelah mendekam selama puluhan tahun dalam kegelapan laci Museum Sejarah Alam London, 31 fragmen tulang belakang kecil akhirnya menyingkap keberadaan Paradoxophidion richardoweni.
Ular purba dari masa Eosen ini memicu teka-teki ilmiah karena memiliki fitur yang sangat unik sekaligus membingungkan bagi para ahli, menandai babak baru dalam pemahaman evolusi reptil purba.
"Fosil yang hanya terdiri dari 31 tulang belakang kecil ini diperkirakan berusia sekitar 37 juta tahun,” ungkap IFL Science, dikutip pada Senin (12/1/2026).
Dr. Georgios Georgalis, peneliti dari Institut Sistematika dan Evolusi Hewan, Akademi Sains Polandia, sekaligus penulis utama studi ini, tidak dapat menyembunyikan antusiasmenya atas penemuan tersebut.
Baca juga: Jejak Karma di Papan Permainan: Sejarah Ular Tangga dari India Kuno
Ia membagikan betapa berartinya temuan ini bagi dunia paleontologi setelah melalui proses penelitian yang panjang.
"Adalah impian masa kecil saya untuk dapat mengunjungi Museum Sejarah Alam, apalagi melakukan penelitian di sana," kata Dr Georgalis.
"Jadi, ketika saya melihat tulang belakang yang sangat aneh ini dalam koleksi dan tahu bahwa itu adalah sesuatu yang baru, itu adalah perasaan yang fantastis," sambungnya.
Fosil ini sejatinya telah ditemukan sejak 1981 di kawasan Hordle Cliff, pesisir selatan Inggris. Namun, kondisi fosil yang sangat terbatas, hanya terdiri dari 31 ruas tulang belakang (sementara beberapa spesies ular modern memiliki lebih dari 500 ruas) dan tanpa keberadaan tengkorak, membuat para ilmuwan kesulitan mengidentifikasi pola makan maupun habitat aslinya.
Keterbatasan bukti serta karakteristiknya yang membingungkan mendorong peneliti menamainya Paradoxophidion richardoweni, yang berarti “ular paradoks”.
Julukan tersebut mencerminkan sifat unik fosil ini, karena menunjukkan perpaduan ciri-ciri yang saat ini hanya ditemukan pada kelompok ular modern yang sangat berbeda satu sama lain. Paradoxophidion richardoweni tampaknya adalah semacam ular purba (ur-snake).
Para peneliti dibuat tertegun oleh anatomi fosil ini yang seolah mencampuradukkan berbagai identitas.
Meski tulang belakangnya yang pendek identik dengan garis keturunan ular darat tertentu, ia justru kehilangan ciri khas bagian bawah yang berjenjang.
Menariknya, fosil ini justru berbagi kemiripan dengan Acrochordus, spesies ular perairan yang sering dijuluki sebagai 'ular belalai gajah' karena tekstur kulitnya yang khas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: IFL SCIENCE