INDOZONE.ID - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menegaskan arah besar pengembangan teknologi antariksa Indonesia.
Dalam kunjungan kerja ke Kawasan Sains M. Ibnoe Subroto, Rancabungur, BRIN membahas kesiapan fasilitas riset, peluncuran satelit A4, hingga pengembangan bandar antariksa nasional.
Kepala BRIN Arif Satria menyebut, Indonesia tidak boleh berjalan lambat di tengah kompetisi antariksa global yang makin ketat. Kebutuhan nasional terhadap satelit, roket, dan sistem pendukung terus meningkat, sementara teknologi dunia bergerak sangat cepat.
BRIN Dorong Kemandirian Teknologi Antariksa
Kunjungan ini menjadi ajang konsolidasi internal BRIN untuk menyatukan langkah. Fokusnya bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi juga memastikan program keantariksaan berjalan efektif dan terukur.
“Kita tidak boleh terjebak pada tumpang tindih kewenangan. Yang dibutuhkan adalah sistem yang terintegrasi,” kata Arif Satria melansir laman BRIN, Senin (5/1/2026).
Baca juga: Kenapa BRIN dan OceanX Menyelam ke Laut Terdalam Sulawesi? Ini Alasannya
Menurutnya, tanpa koordinasi yang jelas antarunit dan lintas lembaga, percepatan kemandirian antariksa hanya akan jadi wacana.
Bandar Antariksa Biak
Salah satu topik utama adalah pengembangan Bandar Antariksa Biak. Lokasi ini dirancang sebagai pusat peluncuran nasional, sekaligus pintu kerja sama internasional di masa depan.
BRIN menyebut, kesiapan fasilitas peluncuran satelit dan roket dilakukan secara bertahap.
Prosesnya melibatkan koordinasi lintas kementerian dan lembaga agar sejalan dengan kepentingan nasional jangka panjang.
Penguatan infrastruktur dinilai penting, tetapi bukan satu-satunya faktor penentu keberhasilan.
Arif Satria juga menyinggung pembahasan kelembagaan fungsi keantariksaan nasional yang masih berlangsung bersama Kementerian PAN-RB dan instansi terkait.
Namun, ia menegaskan bahwa efektivitas fungsi jauh lebih penting dibandingkan struktur organisasi.
“Yang utama adalah bagaimana fungsi keantariksaan berjalan secara terintegrasi dan berkelanjutan,” ujarnya.
Pendekatan ini dinilai lebih adaptif di tengah dinamika teknologi global yang terus berubah.
Target 2040 Dinilai Terlalu Lama
Perekayasa Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Roket BRIN, Rika Andiarti, menjelaskan bahwa pengembangan bandar antariksa sudah tercantum dalam Rencana Induk Keantariksaan Nasional (Renduk) 2017–2040.
Dokumen tersebut menargetkan Indonesia mampu meluncurkan satelit dan roket secara mandiri dari wilayah sendiri.
Namun, ia mengakui bahwa banyak target perlu disesuaikan dengan kondisi terkini.
“Renduk dievaluasi setiap lima tahun. Dalam konteks saat ini, sejumlah target dan strategi perlu didefinisikan ulang agar lebih adaptif dan realistis,” kata Rika.
Menanggapi hal itu, Kepala BRIN justru mendorong percepatan.
Menurutnya, menunggu hingga 2040 bukan pilihan ideal jika Indonesia ingin benar-benar berdaulat di bidang antariksa.
“Kalau bisa sebelum tahun 2040, mengapa tidak lebih cepat? Kuncinya adalah fokus, alokasi waktu, dan produktivitas,” ujar Arif.
Ia menekankan bahwa tidak ada negara yang sukses di bidang antariksa dengan pendekatan setengah-setengah.
Komitmen Jadi Kunci
BRIN juga mendorong para periset untuk meningkatkan intensitas dan kualitas riset. Termasuk memanfaatkan peluang hibah riset luar negeri yang kini semakin terbuka.
“Kita harus memaksimalkan waktu. Kesuksesan adalah fungsi dari pemanfaatan waktu,” tegas Arif.
BRIN memastikan sistem pendanaan dan penghargaan riset akan terus diperbaiki.
Tujuannya agar publikasi ilmiah dan pengembangan teknologi strategis bisa berjalan lebih cepat, relevan, dan berdampak nyata.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: BRIN