Tampilan The Great Blue Hole. (photo/Dok. Wikipedia)
INDOZONE.ID - Ilmuwan temukan bukti lonjakan siklon tropis di Great Blue Hole yang memicu kekhawatiran baru terkait perubahan iklim global.
Temuan ini berasal dari penelitian terbaru yang menganalisis sedimen di dasar laut kawasan tersebut.
Berdasarkan laporan yang dikutip dari laman Science Alert, Kamis (09/04/2026) para peneliti melakukan ekspedisi ke Great Blue Hole yang berada di lepas pantai Belize, Amerika Tengah.
Baca juga: Sengatan Paling Menyakitkan di Dunia: Dari Semut Peluru hingga Tawon Eksekutor
Mereka mengambil inti sedimen sepanjang 30 meter dari dasar lubang laut tersebut untuk diteliti lebih lanjut.
Dari hasil analisis, ilmuwan menemukan sekitar 694 lapisan peristiwa yang diyakini sebagai jejak siklon tropis selama kurang lebih 5.700 tahun terakhir. Lapisan ini menjadi semacam “arsip alami” yang mencatat kejadian badai besar di masa lalu.
Great Blue Hole memiliki kondisi lingkungan yang unik. Mengutip penjelasan peneliti, dasar lubang ini minim oksigen dan memiliki lapisan air yang stabil, sehingga sedimen dapat mengendap tanpa banyak gangguan.
Hal ini membuat setiap lapisan sedimen tersimpan rapi, mirip seperti lingkaran tahun pada batang pohon.
Peristiwa besar seperti siklon akan meninggalkan jejak berupa sedimen dengan ukuran butir lebih kasar dan warna berbeda.
Baca juga: Kisah Karyawan Magang NASA Dikeluarkan Usai ‘Berhubungan Intim di Bulan’
Dengan cara ini, ilmuwan dapat membedakan mana endapan dari cuaca normal dan mana yang berasal dari badai tropis.
Hasil penelitian menunjukkan adanya tren peningkatan aktivitas siklon tropis secara bertahap selama ribuan tahun. Namun, peningkatan tersebut menjadi lebih signifikan dalam beberapa dekade terakhir.
Dikutip dari hasil studi, dalam 20 tahun terakhir saja tercatat sekitar sembilan peristiwa siklon di wilayah tersebut.
Angka ini dinilai tidak lagi sesuai dengan pola alami yang biasanya terjadi dalam jangka panjang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Science Alert