INDOZONE.ID - Makna ogoh-ogoh dalam tradisi menjelang Nyepi tidak hanya terletak pada bentuknya yang menyeramkan.
Setiap menjelang Hari Raya Nyepi, suasana di berbagai daerah dengan komunitas Hindu, khususnya di Bali, identik dengan arak-arakan ogoh-ogoh.
Tradisi itu dilaksanakan pada hari Pengrupukan, sehari sebelum Nyepi. Di balik kemeriahannya, terdapat makna simbolik dan nilai spiritual yang mendalam.
Berikut penjelasan makna ogoh-ogoh dalam tradisi menjelang Nyepi, mulai dari asal-usulnya, filosofi bentuknya, hingga nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Baca juga: Sejarah Pawai Ogoh-ogoh dalam Perayaan Nyepi, Asal Usulnya dari Kutukan Cinta Terlarang
Ogoh-ogoh merupakan patung besar yang diarak dalam pawai menjelang Hari Raya Nyepi. Mengutip laman Kemenag, Kamis (05/03/2026) istilah ogoh-ogoh berasal dari kata Bali “ogah-ogah” yang berarti sesuatu yang digoyang-goyangkan. Hal ini merujuk pada cara patung tersebut diarak dengan cara dipikul dan digerakkan bersama-sama.
Berdasarkan jurnal yang diterbitkan oleh Phinisi Integration Review, ogoh-ogoh mulai dikenal sekitar tahun 1980-an dan terus berkembang hingga kini. Awalnya, ogoh-ogoh dikaitkan dengan tradisi ngelewang dari kesenian Ndong-nding di Kabupaten Gianyar dan Karangasem.
Baca juga: Pesona Ogoh-Ogoh: Perpaduan Seni, Budaya, dan Spiritualitas di Bali
Ada pula pendapat yang menyebut bahwa ogoh-ogoh terinspirasi dari perwujudan Raja Jaya Pangus dan Putri Kang Cing Wei dalam bentuk Barong Landung.
Selain itu, muncul pandangan bahwa ogoh-ogoh lahir dari kreativitas para pengrajin patung yang ingin membuat karya dari bahan lebih ringan agar bisa diarak dan dipertunjukkan.
Seiring waktu, tradisi ini tidak hanya dilakukan di Bali, tetapi juga di daerah lain yang memiliki komunitas Hindu, seperti di Kabupaten Manokwari, Papua Barat, dan Desa Pepuro Barat di Luwu Timur.
Secara umum, ogoh-ogoh direpresentasikan sebagai Bhuta Kala. Bhuta Kala dimaknai sebagai kekuatan alam semesta dan waktu yang tidak terbatas. Dalam bentuk patung, ogoh-ogoh sering digambarkan sebagai sosok besar dengan wajah menyeramkan.
Baca juga: Mengungkap Sejarah dan Makna Hari Raya Nyepi
Bentuk yang garang, mata melotot, gigi bertaring, rambut acak-acakan, hingga kuku panjang bukan sekadar hiasan. Wujud tersebut melambangkan sifat-sifat negatif atau energi buruk dalam diri manusia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Papuabarat.kemenag