Ilustrasi otak manusia. (Pixabay/Geralt)
INDOZONE.ID - Mungkin pernah mendengar klaim populer bahwa manusia hanya memakai 10 persen dari kapasitas otaknya. Sisanya disebut-sebut sebagai “potensi tersembunyi” yang, jika bisa dibuka, konon akan membuat seseorang menjadi jenius luar biasa atau bahkan memiliki kemampuan supranatural seperti membaca pikiran dan telekinesis.
Kedengarannya memang menarik, tapi faktanya klaim ini tidak benar. Melansir dari laman Thoughtco, berbagai penelitian ilmiah justru menunjukkan bahwa manusia menggunakan hampir seluruh bagian otaknya setiap hari, meskipun tidak semuanya aktif secara maksimal pada waktu yang sama.
Meski telah lama dibantah oleh sains, mitos otak hanya menggungakan 10 persen tetap hidup dalam budaya populer. Film seperti Limitless dan Lucy menggambarkan tokoh utama yang memperoleh kekuatan luar biasa setelah “mengaktifkan” bagian otak yang sebelumnya tidak terpakai.
Baca juga: Otak Astronot Alami Perubahan Usai Misi Antariksa, Ini Penyebabnya!
Bahkan, sebuah studi pada 2013 menemukan bahwa sekitar 65 persen orang dewasa di Amerika Serikat masih mempercayai mitos ini.
Lebih mengejutkan lagi, penelitian lama menunjukkan bahwa sepertiga mahasiswa psikologi yang mempelajari otak secara langsung juga mempercayainya.
Dalam dunia neuropsikologi, para ilmuwan mempelajari bagaimana struktur dan fungsi otak memengaruhi perilaku, emosi, serta kemampuan berpikir manusia. Dari hasil penelitian selama puluhan tahun, para ahli sepakat bahwa setiap bagian otak memiliki peran penting.
Dengan bantuan teknologi modern seperti PET scan dan fMRI, ilmuwan dapat melihat aktivitas otak secara langsung. Hasilnya jelas, tidak ada bagian otak yang benar-benar “mati” atau tidak berguna.
Baca juga: Seperti Apa Isi Otak Ted Bundy? Jadi Barang Langka yang Diincar Para Peneliti
Saat kalian membaca artikel ini, otak manusia bekerja di banyak area sekaligus, mulai dari pusat penglihatan, pemahaman bahasa, hingga koordinasi tangan yang memegang ponsel.
Terkadang, gambar hasil pemindaian otak justru menimbulkan salah paham. Area yang tampak lebih terang sering dianggap sebagai satu-satunya bagian otak yang aktif. Padahal, warna terang hanya menandakan aktivitas yang lebih tinggi dibanding kondisi istirahat, sementara area lain tetap bekerja, hanya pada intensitas yang lebih rendah.
Bukti paling kuat untuk membantah mitos otak hanya menggungakan 10 persen justru datang dari kasus kerusakan otak. Jika benar manusia hanya menggunakan sebagian kecil otaknya, maka kerusakan pada area tertentu seharusnya tidak berdampak besar. Kenyataannya, kerusakan kecil saja bisa menimbulkan konsekuensi serius.
Sebagai contoh, kerusakan pada area Broca dapat membuat seseorang kesulitan berbicara, meskipun pemahaman bahasanya masih utuh. Dalam kasus ekstrem, kekurangan oksigen yang merusak sebagian besar otak seseorang dapat menghilangkan kemampuan berpikir, mengingat, hingga merasakan emosi, hal-hal yang sangat mendasar bagi kehidupan manusia.
Baca juga: Lobotomi: Operasi Otak Terseram dalam Sejarah Medis Dunia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Thoughtco.com