INDOZONE.ID - Leonarda Cianciulli adalah seorang pembunuh di Italia yang menggunakan daging dan darah korbannya untuk membuat kue.
Ia lahir pada tahun 1894. Selama hidupnya, ia telah membunuh tiga wanita, lalu mengubah daging dan mengeringkan darah mereka untuk membuat kue.
Cianciulli memiliki masa kecil yang sulit. Ia memiliki banyak saudara kandung, dan ibunya menikah dengan perasaan tidak bahagia.
Sebelum dewasa, ia telah mencoba bunuh diri dua kali. Cianciulli sangat percaya takhayul dan pernah diramalkan bahwa masa depannya akan penuh dengan kehancuran.
Setelah Cianciulli menikahi pria yang tidak disukai orang tuanya, konon sang ibu mengutuknya.
Cianciulli pindah ke Correggio, Italia, bersama suaminya. Di sanalah ia membangun reputasi sebagai ibu yang penuh kasih dan tetangga yang baik hati.
Ia sering membantu orang-orang di sekitarnya dan menjadi sosok yang dipercaya.
Cianciulli memiliki 14 anak, tetapi 10 diantaranya meninggal saat masih kecil. Hal ini membuat dirinya sangat protektif terhadap anak-anaknya yang tersisa, terutama putranya, Giuseppe.
Perang Dunia II segera dimulai, dan Giuseppe mendaftarkan dirinya untuk ikut berperang.
Cianciulli merasa sangat tertekan mendengar kabar ini. Ia tidak sanggup membayangkan kehilangan anaknya dalam perang yang penuh pertumpahan darah.`
Baca Juga: Kilas Balik Kisah Joseph Metheny: Pembunuh Berantai Gemoy yang Jadikan Daging Korbannya Burger
Kemudian, Cianciulli yakin bahwa satu-satunya cara untuk menyelamatkan putranya adalah dengan melakukan pengorbanan manusia.
Cianciulli membunuh untuk pertama kali pada tahun 1939. Korban pertamanya bernama Faustina Setti.
Sebelumnya, Setti datang kepada Cianciulli untuk meminta nasihat tentang bagaimana menemukan suami yang tepat.
Cianciulli mengatakan bahwa ada seorang pria yang menunggunya di Pola, Italia, dan menginstruksikan Setti untuk mempersiapkan keberangkatannya.
Ia juga menyuruhn Setti untuk menulis banyak surat dan kartu pos untuk dikirim ke teman serta keluarga setelah ia tiba di Pola.
Sebelum pergi, Setti mengunjungi Cianciulli untuk terakhir kalinya, dan ini menjadi malapetaka baginya.
Tanpa diketahui Setti, Cianciulli memberikan anggur yang telah diberi obat bius. Setelah Setti kehilangan kesadaran, Cianciulli segera membunuhnya dengan kapak.
Ia kemudian menyeret tubuh Setti ke dalam lemari, sebelum memotongnya menjadi sembilan bagian. Darahnya dikeringkan dalam sebuah baskom.
Korban kedua Cianciulli juga adalah orang yang dikenalnya. Pada 5 September 1940, Francesca Soavi menemui Cianciulli.
Kali ini, Cianciulli mengarang cerita bahwa ada pekerjaan mengajar untuk Soavi di luar negeri. '
Seperti sebelumnya, Cianciulli menginstruksikan Soavi untuk menulis surat kepada keluarga dan teman-temannya.
Soavi mengunjungi Cianciulli untuk terakhir kalinya sebelum keberangkatannya. Lagi-lagi, ia diberikan anggur beracun, dibunuh dengan kapak, dan mengubah tubuh Soavi menjadi kue.
Korban ketiga sekaligus terakhir Cianciulli adalah seorang mantan penyanyi opera, Virginia Cacioppo.
Cacioppo lelah dengan kehidupannya yang monoton dan membayar Cianciulli 50.000 lira agar membantunya menemukan kehidupan baru di kota besar.
Cacioppo menginginkan keramaian kehidupan kota daripada tinggal di Correggio.
Lagi-lagi, Cianciulli menyuruhnya menulis surat kepada teman dan keluarganya sebelum pergi. Ia menjanjikan awal yang baru, tetapi janji itu tidak pernah ditepati.
Cacioppo mengunjungi rumah Cianciulli untuk menerima kabar baik, kemudian tidak pernah keluar lagi.
Berbeda dengan korban lain, salah seorang keluarga Cacioppo, saudari iparnya merasa ada yang tidak beres.
Kemudian, ia melihat Cacioppo memasuki rumah Cianciulli tetapi tidak pernah keluar lagi. Ia segera melaporkan hal ini kepada polisi, dan penyelidikan pun dimulai.
Awalnya, Cianciulli menyangkal semua tuduhan ketika polisi datang. Namun, ketika polisi menuduh Giuseppe, ia langsung mengaku dan menceritakan semua detail kejahatannya demi melindungi putranya.
Pada tahun 1946, Cianciulli diadili dengan persidangan yang berlangsung cepat, hanya tiga hari. Sepanjang persidangan, ia tidak menunjukkan penyesalan sedikit pun dan tetap tenang.
Ia dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman 33 tahun, 30 tahun di penjara dan 3 tahun di rumah sakit jiwa.
Cianciulli meninggal di rumah sakit jiwa pada tahun 1970. Jenazahnya dikembalikan kepada keluarganya untuk dimakamkan.
Sementara itu, alat-alat pembunuhannya, termasuk panci yang digunakannya, diserahkan ke Museum Kriminologi di Roma, Italia, dan masih dipamerkan hingga saat ini.
Para sejarawan berpendapat bahwa dua korban pertama Cianciulli adalah wanita yang kesepian, sehingga keluarga mereka tidak langsung menyadari hilangnya mereka.
Cianciulli juga mengalami gangguan mental. Ia benar-benar percaya bahwa ia harus melakukan pengorbanan manusia untuk menyelamatkan anak-anaknya karena Ia yakin dirinya dikutuk.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Cardinal Points Online