Kamis, 26 MARET 2026 • 18:52 WIB

Ketika Para Perempuan di Nagpur India Menghukum Pemerkosa Secara Mandiri Usai Polisi Tak Bisa Diharapkan

Author

Kisah Akku Yadav, predator yang dihukum perempuan di persidangan. (IMDB)

INDOZONE.ID - Di kawasan kumuh Nagpur, India, preman skligus pemerkosa ratusan wanita bernama Akku Yadav meneror warga selama lebih dari satu dekade. Ratusan perempuan dari kasta Dalit menjadi korban kekerasan dan perencanaan, sementara Yadav tetap bebas, tak tersentuh hukum. 

Bahkan setelah ditangkap, ia selalu dibebaskan polisi. Bahkan polisi setempat justru menyalahkan korban krena dianggap gampangan.

Uncak keputusasaan itu terjadi pada 13 Agustus 2004. Saat Akku Yadav digiring ke pengadilan, ia justru mencibir dan mengejek para korban yang hadir. Di ruang yang seharusnya menghadirkan keadilan, penghinaan itu menjadi titik patah—kesabaran mereka benar-benar habis. 

Akku Yadav meregang nyawa di ruang pengadilan. Vonis belum dibaca, namun para korban telah lebih dulu mengambil tindakan. Kisahnya pun sempat dibuatkan dokumenter oleh Netfix dengan judul 'Murder in Courtroom: India Predator.

Baca juga: Kisah Pemerkosa Anak yang Baru Bebas dari Penjara di Brazil Terkena Karma: Tewas Ditembak Pria Bertopeng

Awal Kisah Akku Yadav

Akku Yadav tinggal di kawasan kumuh di Nagpur, Maharashtra. Lingkungan tempat tinggalnya dikenal sebagai wilayah dengan tingkat kriminalitas tinggi, bahkan kerap menjadi arena konflik antar kelompok gangster. Di tengah kondisi tersebut, Akku justru dikenal sebagai sosok yang berpengaruh.

Namun, pengaruh itu ia gunakan untuk mengendalikan wilayahnya sekaligus menjalankan berbagai aktivitas kriminal.

Kisah Akku Yadav, predator yang dihukum perempuan di persidangan. (Netflix)

Teror dan Kejahatan yang Sistematis

Dari sekian banyak kejahatan yang dilakukan, Akku paling dikenal karena kasus kekerasan seksual terhadap ratusan perempuan. Sejak sekitar tahun 1991, ia bersama kelompoknya melakukan aksi tersebut secara berulang.

Ia dengan sengaja menargetkan perempuan dari kasta terendah, memanfaatkan kondisi sosial mereka yang lemah. Akibatnya, laporan para korban sering diabaikan dan tidak ditindaklanjuti oleh pihak berwenang.

Untuk memperkuat posisinya, Akku juga diduga menyuap oknum aparat agar terbebas dari jerat hukum.

Intimidasi dan Kekerasan terhadap Korban

Selain melakukan kekerasan seksual, Akku juga menggunakan ancaman untuk membungkam para korban. Dalam beberapa kasus, ia bahkan melakukan pembunuhan, meskipun jumlahnya tidak banyak.

Baca juga: Laba-Laba si Predator Kecil yang Menguasai Dunia, Benarkah Bisa Memakan Manusia?

Hal yang paling mengerikan adalah rentang usia korbannya yang sangat luas, mulai dari anak-anak hingga perempuan lanjut usia.

Perlawanan yang Dipicu Keberanian

Puncak kejadian terjadi saat Akku mencoba melakukan kejahatan terhadap seorang wanita bernama Ratna Dungiri. Ia bersama kelompoknya menyerang rumah Ratna.

Beruntung, seorang tetangganya, Usha Narayane, datang untuk membantu. Usha kemudian melaporkan kejadian tersebut ke polisi, meskipun laporannya tidak segera ditanggapi.

Akibat tindakannya, Usha justru menjadi sasaran ancaman. Akku dan kelompoknya mendatangi rumahnya dan mengintimidasi dengan ancaman kekerasan.

Namun, Usha melawan dengan berani. Ia menyiramkan bensin dan mengancam akan membakar mereka, yang akhirnya membuat para pelaku mundur.

Amarah Warga yang Tak Terbendung

Keberanian Usha memicu semangat para korban lainnya untuk melawan. Pada 6 Agustus 2004, warga yang marah menyerbu rumah Akku dan membakarnya.

Akku melarikan diri dan akhirnya ditangkap pada 7 Agustus 2004. Proses persidangan dimulai sehari setelahnya.

Namun, muncul rumor bahwa ia akan dibebaskan, yang kembali memicu kemarahan para korban.

Kisah Akku Yadav, predator yang dihukum perempuan di persidangan. (Facebook)

Akhir Tragis di Ruang Pengadilan

Pada 13 Agustus 2004, saat menghadiri sidang, Akku dihadang oleh sekelompok perempuan yang diduga merupakan para korbannya.

Mereka menyerang menggunakan peralatan sederhana. Situasi di pengadilan menjadi kacau, dan aparat tidak mampu mengendalikan massa.

Serangan tersebut berujung pada kematian Akku di tempat. Ia sempat meminta pertolongan, namun tidak ada yang mampu menyelamatkannya.

Bagi sebagian warga Nagpur, kematian Akku dianggap sebagai akhir dari teror panjang yang selama ini mereka alami. Namun, di sisi lain, peristiwa ini juga memunculkan pertanyaan besar tentang keadilan dan kegagalan sistem hukum.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: All That Interesting

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU