INDOZONE.ID - Kasus Somerton Man dikenal sebagai salah satu cold case paling membingungkan dalam sejarah kriminal dunia.
Selama puluhan tahun, identitas seorang pria yang ditemukan meninggal di pantai Australia menjadi teka-teki penuh misteri.
Pria tersebut ditemukan tanpa identitas, tanpa dokumen pribadi, dan dengan sejumlah petunjuk aneh yang justru menambah misteri.
Namun, setelah lebih dari tujuh dekade, perkembangan teknologi analisis DNA akhirnya membuka kemungkinan jawaban tentang siapa sebenarnya pria tersebut.
Baca juga: 10 Pembunuh Berantai dengan Zodiak Pisces, Ada yang Dijadikan Film!
Penemuan Mayat Misterius di Pantai Somerton
Kasus ini bermula pada 1 Desember 1948, ketika seorang pria ditemukan meninggal di Pantai Somerton, wilayah selatan Adelaide, Australia.
Tubuhnya ditemukan tergeletak di dekat tembok laut dengan pakaian rapi, tetapi tidak ada satu pun dokumen yang bisa mengungkap identitasnya.
Polisi menemukan sejumlah barang di sakunya, termasuk tiket kereta dan bus yang belum digunakan. Selain itu, di stasiun kereta terdekat juga ditemukan sebuah koper yang diduga milik pria tersebut.
Di dalam koper itu, terdapat beberapa pakaian dengan nama “T. Keane”, tapi nama tersebut tidak mengarah pada identitas pasti korban. Hal ini membuat penyelidikan semakin rumit.
Baca juga: Cold Case Caroline Glachan: Penantian 25 Tahun Berakhir dengan Keadilan
Petunjuk Misterius “Tamam Shud”
Salah satu hal paling terkenal dari kasus ini adalah ditemukannya secarik kertas kecil di saku rahasia celana korban.
Pada kertas tersebut tertulis kata “Tamam Shud”, sebuah frasa dalam bahasa Persia yang berarti “telah selesai” atau “berakhir”.
Kertas tersebut kemudian diketahui berasal dari halaman terakhir buku puisi klasik Rubáiyát karya Omar Khayyám. Polisi berhasil melacak buku yang dimaksud, dan ternyata halaman terakhirnya memang telah disobek.
Buku itu ditemukan oleh seorang pria yang mengaku bahwa buku tersebut tiba-tiba dilemparkan ke dalam mobilnya sekitar waktu kematian Somerton Man.
Baca juga: Bocah 11 Tahun di Pennsylvania Menembak Ayah Angkatnya: Kesal Karena Nitendo Switch Disita
Di bagian dalam buku tersebut terdapat sejumlah huruf yang dianggap sebagai kode misterius, serta nomor telepon seorang perawat muda yang tinggal tidak jauh dari lokasi ditemukannya mayat tersebut.
Penemuan ini membuat kasus Somerton Man semakin menarik perhatian publik.
Teori dan Spekulasi yang Bermunculan
Selama lebih dari 70 tahun, identitas Somerton Man memicu berbagai teori. Beberapa orang menduga bahwa pria tersebut adalah mata-mata asing, sementara teori lain menyebut kemungkinan adanya hubungan pribadi dengan perawat yang nomor teleponnya ditemukan di buku puisi tersebut.
Ada juga spekulasi bahwa huruf-huruf yang tertulis di dalam buku Rubáiyát merupakan kode rahasia yang berkaitan dengan aktivitas spionase. Namun hingga bertahun-tahun kemudian, tidak ada bukti yang benar-benar mampu menjelaskan makna tulisan tersebut.
Akibatnya, kasus ini menjadi salah satu misteri kriminal paling terkenal di Australia.
Terungkapnya Identitas Melalui Teknologi DNA
Perkembangan penting akhirnya terjadi pada 2022, ketika penelitian DNA mulai memberikan petunjuk baru mengenai identitas Somerton Man.
Baca juga: Tragedi Berdarah di India: Pengantin Wanita Ditembak Tepat di Atas Pelaminan!
Penelitian tersebut dipimpin oleh Profesor Derek Abbott dari Universitas Adelaide bersama ahli silsilah asal Amerika, Colleen Fitzpatrick. Mereka meneliti sampel rambut yang tertinggal pada cetakan plester wajah korban yang dibuat puluhan tahun lalu.
Hasil analisis DNA tersebut mengarah pada identitas seorang pria bernama Carl “Charles” Webb, seorang insinyur berusia 43 tahun dari Melbourne.
Menurut penelitian tersebut, DNA dari rambut tersebut memiliki kecocokan dengan kerabat jauh dari pihak keluarga Webb, baik dari garis ayah maupun ibu. Kecocokan tersebut ditemukan melalui metode triangulasi DNA, sehingga memberikan keyakinan kuat mengenai identitas korban.
Misteri yang Masih Belum Terpecahkan
Meskipun identitas Somerton Man kemungkinan telah terungkap sebagai Carl Webb, sejumlah pertanyaan besar masih belum memiliki jawaban pasti.
Misalnya, penyebab kematiannya masih menjadi perdebatan. Selain itu, makna sebenarnya dari tulisan yang ditemukan di dalam buku Rubáiyát juga belum dapat dipastikan.
Pihak kepolisian Australia Selatan sendiri masih melakukan analisis DNA lanjutan pada sisa jenazah tersebut.
Setelah proses tersebut selesai, hasilnya akan diserahkan kepada petugas koroner untuk menentukan konfirmasi resmi mengenai identitas korban.
Kasus Somerton Man menunjukkan bagaimana sebuah misteri yang bertahan puluhan tahun akhirnya dapat mulai terpecahkan berkat perkembangan teknologi modern.
Identitas yang lama tersembunyi kini mulai terungkap melalui penelitian DNA.
Meski beberapa aspek dari kasus ini masih menyisakan tanda tanya besar. Penyebab kematian dan arti dari petunjuk-petunjuk misterius yang ditemukan bersama korban masih menjadi bahan diskusi hingga sekarang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: The Guardian