Sabtu, 07 FEBRUARI 2026 • 14:56 WIB

Dulu Kalkulator Didemo, Sekarang AI: Akankah Sejarah Membuktikan Kita Salah Lagi?

Author

Dulu Kalkulator Didemo, Sekarang AI: Akankah Sejarah Membuktikan Kita Salah Lagi? (Instagram/@blowingfact - Freepik)

INDOZONE.ID - Bayangkan kita kembali ke tahun 1986. Di sebuah sudut jalan, sekelompok guru matematika berkumpul dengan raut wajah cemas.

Mereka memegang poster protes. Apa yang mereka lawan? Bukan kebijakan gaji atau kurikulum yang berat, melainkan sebuah benda kecil bernama kalkulator.

Sebuah potongan koran lama yang mendokumentasikan momen itu kembali viral baru-baru ini. Foto itu seolah menjadi cermin bagi ketakutan kita hari ini.

Baca juga: Pertama di Dunia, Bayi Laki-laki di Mexico Lahir dari Proses Bayi Tabung Lewat Bantuan AI

Kala itu, para pendidik khawatir kalkulator akan membuat otak siswa "tumpul", menghancurkan keterampilan berhitung manual, dan membuat peran guru matematika tak lagi relevan.

Empat dekade berlalu, dan narasi yang sama kini bergema kembali. Hanya saja, pemeran utamanya bukan lagi kalkulator, melainkan Kecerdasan Buatan (AI).

Jika dulu kalkulator dianggap ancaman bagi keterampilan dasar berhitung, kini AI dianggap sebagai ancaman bagi kreativitas dan pemikiran kritis.

Baca juga: R.U.R: Drama Teater Era 1920-an yang Memprediksi Bahayanya Robot dan AI

Kemampuan AI dalam menulis, mendesain, hingga memecahkan kode pemrograman membuat banyak orang merasa seperti para guru di tahun 1986.

Siklus Ketakutan yang Akrab

Jika kita belajar dari era kalkulator, ada satu kebenaran yang sering kita lupakan yaitu teknologi jarang sekali membunuh pekerjaan secara instan. Namun, yang terjadi justru adalah evolusi.

Melansir laman Money Control (07/02/2026), Narayana Murthy, pendiri Infosys, melihat fenomena ini dengan sudut pandang berbeda.

Baginya, AI bukanlah algojo bagi kreativitas manusia, melainkan "instrumen fleksibel" yang akan memperkuat kapasitas otak kita.

Seperti kalkulator yang akhirnya justru membantu ilmuwan menghitung lintasan roket yang lebih kompleks, AI diharapkan mampu membantu manusia memecahkan masalah-masalah global yang sebelumnya tak terjangkau.

Baca juga: Studi Menakutkan: Manusia Lebih Percaya Wajah yang Dihasilkan AI Daripada Wajah Asli

Tentu, keresahan itu nyata. ChatGPT kini bisa menulis esai yang membuat para dosen geleng-geleng kepala. Penulis, pelukis digital, hingga konsultan hukum mulai merasa kursi mereka digoyang oleh mesin. Namun, Jonah Peretti dari BuzzFeed memberikan perspektif menarik.

Menurutnya, peran manusia tidak akan hilang, melainkan bergeser. Kita tidak lagi sekadar "mengolah data", tapi menjadi pemberi ide, kurator budaya, dan pemberi "pertanyaan inspiratif" yang tidak bisa diciptakan oleh mesin tanpa nyawa.

Adaptasi atau Tertinggal?

Jika kita melihat dari sisi lain, generasi Z tumbuh besar dengan teknologi, dan menganggap AI sebagai teman duet, bukan musuh.

Perbedaan nasib di masa depan mungkin tidak ditentukan oleh seberapa pintar kita, tapi seberapa terbuka kita untuk melangkah keluar dari zona nyaman analog.

Baca juga: Ilmuwan Kembangkan Sistem AI yang Dapat Mendeteksi Penyakit Jantung Lewat Pemindaian Mata

Menolak teknologi seperti memprotes kalkulator di tahun 1986, mungkin terasa benar saat itu, namun pada akhirnya, dunia akan tetap bergerak maju.

Protes para guru 40 tahun lalu mengingatkan kita bahwa ketakutan selalu muncul sebelum adaptasi. AI mungkin bisa menjawab pertanyaan dan menyusun kata-kata dengan sempurna, tapi AI tetaplah mesin yang butuh sentuhan kemanusiaan untuk memiliki makna.

Pada akhirnya, bukan teknologi yang menggantikan manusia, melainkan manusia yang menggunakan teknologi yang akan menggantikan mereka yang menolak untuk berubah.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Moneycontrol.com, Medium

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU