INDOZONE.ID - Kasus Takahiro Shiraishi atau yang dikenal dengan julukan Pembunuh Twitter menjadi salah satu tragedi kriminal paling mengerikan di Jepang.
Ia memanfaatkan media sosial (medsos) twitter, kini dikenal dengan X, untuk mendekati orang-orang yang sedang rapuh, lalu mengakhiri hidup mereka dengan cara keji.
Masa Kecil dan Kebiasaan Aneh
Takahiro Shiraishi lahir pada 9 Oktober 1990 di Hachioji, Tokyo. Sejak SMP, ia sudah menunjukkan perilaku aneh. Ia suka memainkan “choking game”, yaitu permainan berbahaya dengan cara dicekik hingga hampir pingsan.
Bagi sebagian remaja, permainan ini dianggap seru karena menimbulkan sensasi “melayang” sesaat. Akhirnya, itu menjadi metode yang digunakannya untuk membunuh korban.
Baca juga: Kisah Nyata Elyse Pahler yang Jadi Korban Ritual Setan oleh Sahabatnya
Awal Kasus Terbongkar
Kasus ini terbongkar pada Oktober 2017. Polisi Jepang menemukan sembilan jasad yang sudah dimutilasi di apartemen Shiraishi, di Kota Zama, Prefektur Kanagawa.
Penemuan itu berawal dari laporan keluarga seorang perempuan muda, yang hilang setelah menuliskan pesan di Twitter tentang keinginannya untuk bunuh diri.
Di sana, polisi menemukan pemandangan mengerikan. Ada potongan tubuh manusia yang disimpan dalam kotak pendingin dan kontainer. Setelah dihitung, total ada 9 korban yang sudah ia habisi.
Modus Takahiro Shiraishi
Shiraishi pertama kali membuat akun untuk berpura-pura peduli. Ia mencari orang yang menulis tentang bunuh diri, lalu menawarkan untuk mendengarkan curhat mereka. Tapi setelah berhasil membunuh dua orang, ia berubah lebih berani.
Ia membuat akun baru bernama “Hanging Pro”. Dalam akun ini, ia terang-terangan menawarkan bantuan untuk bunuh diri. Bahkan, ia menulis cara-cara mengakhiri hidup dengan detail. Banyak pengguna yang rapuh secara mental lalu tertarik padanya.
Baca juga: Kisah Fox Hollow Farm Bikin Merinding, 10.000 Potongan Tulang Ditemukan di Rumah Ini
Setelah menjalin percakapan lewat DM, ia mengajak korban bertemu. Shiraishi meminta mereka meninggalkan keluarga, bahkan membuang ponsel agar tidak bisa dilacak. Setelah dibawa ke apartemennya, korban dimanipulasi, dilecehkan, lalu dicekik hingga tewas.
Setelah membunuh, Shiraishi memotong-motong tubuh korban. Bagian tubuh disimpan dalam kontainer dan kotak pendingin. Anehnya, meski apartemennya berbau busuk, ia tetap bisa hidup tenang di sana. Akhirnya, tetangganya mulai curiga kepada Shiraishi.
Nama-nama Korban
Meski polisi menjaga privasi keluarga, beberapa media Jepang berhasil mengungkap identitas korban. Dari 9 korban, 8 di antaranya perempuan muda dan 1 laki-laki yang merupakan pacar salah satu korban. Berikut daftarnya:
- Mizuki Miura (21);
- Sogo Nishinaka (20) – satu-satunya korban laki-laki;
- Hitomi Fujima (26);
- Akari (17);
- Kureha Ishihara (15);
- Natsumi Kubo (17);
- Hinako Sarashina (19);
- Kazumi Maruyama (25);
- Aiko Takamura (23).
Proses Sidang dan Hukuman
Kasus ini menarik perhatian besar di Jepang. Saat diadili, Shiraishi mengaku bersalah tapi sempat beralasan korban setuju untuk dibunuh. Hakim menolak alasan itu, karena perbuatannya adalah kejahatan.
Pada 2020, pengadilan menjatuhkan hukuman mati untuk Shiraishi. Vonis ini disambut lega oleh keluarga korban, meski rasa kehilangan tentu tidak bisa tergantikan. Pada 27 Juni 2025, ia dikabarkan telah dieksekusi mati dengan hukuman gantung di Rumah Tahanan (Rutan) Tokyo.
Baca juga: Jane Toppan: Kisah Nyata Perawat yang Menjadi Pembunuh Berantai
Kasus Pembunuh Twitter membuat Jepang lebih waspada terhadap bahaya media sosial. Pemerintah Negeri Matahari Terbit bahkan memperketat pengawasan konten terkait bunuh diri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instagram/ @marikitaungkap, NPR, Daily Sabah