Keluarga Miyazawa yang jadi korban pembunuhan sadis 24 tahun lalu.
INDOZONE.ID - Sudah sejak lama, Jepang dikenal sebagai salah satu negara yang paling maju serta masuk sebagai salah satu dari negara paling aman di dunia. Dilansir dari World Population Review, Jepang menduduki peringkat ke 9 sebagai negara teraman di dunia pada tahun 2024. Bahkan, hanya Jepang dan Singapura, sebagai negara Asia yang masuk 10 besar negara teraman pada tahun 2024.
Namun tak dapat dipungkiri, sejarah Negeri Sakura ini tak bisa lepas dari berbagai peristiwa terkait kriminalitas, salah satunya yaitu masalah pembunuhan. Setidaknya ada beberapa peristiwa pembunuhan yang cukup fenomenal di Jepang, dimana yang terbaru yaitu pembunuhan yang menewaskan mantan Perdana Menteri Mereka, Shinzo Abe, pada 2022.
Baca Juga: Pembunuhan di Balik Kotak Sumbangan Sahur dalam Kondisi Terikat
Mundur 22 tahun dari pembunuhan Shinzo Abe, atau 24 tahun dari sekarang, terjadi pembunuhan yang sangat sadis yang menewaskan 1 keluarga di daerah Setagaya, yang bahkan hingga kini, sang pelaku belum tertangkap.
Keluarga Miyazawa yang jadi korban pembunuhan sadis 24 tahun lalu.
Keluarga Miyazawa terdiri dari seorang suami bernama Mikio, berusa 44 tahun, istri bernama Yasuko, 41 tahun, dan 2 anak mereka yang bernama Niina (8 tahun) dan Rei (6 tahun). Oleh orang terdekat, keluarga ini dikenal sebagai keluarga yang baik, tidak pernah berbuat onar, dan tidak pernah bermusuhan dengan siapapun. Keluarga ini tinggal di sebuah di daerah Kamishosigaya, Setagaya, Tokyo. Keluarga ini tinggal bersebelahan dengan keluarga kakak dan ibu Yasuko.
Mereka sempat berencana pindah pada Maret 2001, namun diurungkan, karena kekhawatiran akan kondisi anaknya yang akan kesulitan beradaptasi di lingkungan yang baru, utamanya anak bungsu mereka Rei, yang memiliki keterbatasan. Tak disangka, keputusan untuk mengurungkan pindah rumah ternyata membuat keluarga kecil nan-harmonis ini benar-benar tidak akan pernah bisa pindah rumah untuk selama-lamanya.
Rumah Keluarga Miyazawa, tempat pembunuhan Setagaya terjadi.
Tanggal 31 Desember 2000, umumnya seperti tanggal 31 Desember di tahun-tahun sebelumnya atau tahun-tahun setelahnya, merupakan hari yang akan disambut meriah oleh banyak orang. Orang-orang dengan bersemangat akan mempersiapkan segalanya dengan meriah untuk menyambut malam pergantian tahun. Namun, tidak untuk keluarga Miyazawa. Justru di hari itulah, terjadi sebuah tragedi yang benar-benar mengubah kehidupan keluarga Miyazawa untuk selamanya.
Baca Juga: 6 Insiden Tragis 'September Hitam' di Indonesia: Dari Pembunuhan Munir hingga Tragedi PKI
Keluarga Miyazawa, yang terdiri suami-istri Mikio dan Yasuko serta anak-anak mereka Niina dan Rei, ditemukan tewas dengan kondisi yang mengenaskan di pagi hari 31-12-2000. Rei Miyazawa ditemukan dengan kondisi tewas tercekik, sedangkan Mikio, Yasuko, dan Niina, ditemukan tewas bersimbah darah akibat luka tusukan. Mereka dibunuh pada tanggal 30 Desember malam, sekitar jam setengah 12 malam hingga 31 Desember jam 12.05 AM.
Sidik jari dan bukti-bukti lain yang ditemukan di TKP mengemukakan fakta yang mencengangkan, bahwa sang pelaku sempat menggunakan komputer dan memakan es krim setelah melakukan aksinya, bahkan sempat bersantai di rumah tersebut hingga pada akhirnya meninggalkan rumah tersebut sebelum fajar menyingsing.
Gambaran pakaian yang dikenakan pelaku pembunuhan.
Penyelidikan kasus ini memfokuskan pada pakaian, aksesoris, senjata pembunuhan, dan bukti-bukti lain yang dapat mendukung penyelidikan. Hasil penyelidikan mengatakan, bahwa pakaian dan berbagai aksesoris yang dipakai pelaku seperti sweater, serta pisau yang tertinggal di TKP disebutkan dibeli di daerah Prefektur Kanagawa. Lalu, terdapat seperti pewarna bubuk pada sepatu dan tas yang tertinggal di KTP.
Selain itu, pada saku sweater tersebut, yang baru dijual dua bulan sebelum kejadian, ditemukan jejak kotoran burung, pohon zelkova Jepang, dan daun willow. Hasil pelacakan polisi, disebutkan sebanyak 130 jenis sweater seperti yang terdapat di TKP telah terjual di area Tokyo, namun kepolisian hanya mampu melacak 12 orang pemilik sweater tersebut. Bukti lain yang tidak kalah pentingnya yaitu, jejak pasir yang teridentifikasi di pakaian yang ditinggalkan tersangka di TKP.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Japan Today, World Population Review