INDOZONE.ID - Kasus Stephanie Lazarus sering disebut sebagai contoh nyata dari “the perfect crime”, sebuah kejahatan yang nyaris sempurna.
Selama lebih dari dua dekade, pembunuhan yang ia lakukan berhasil tersamarkan seolah-olah merupakan perampokan biasa, berkat pemahamannya sebagai seorang polisi.
Pada Februari 1986, Sherri Rasmussen ditemukan tewas di rumahnya di Los Angeles. Ia baru saja menikah dengan suaminya, John Ruetten, beberapa bulan sebelumnya.
Baca juga: Remaja 18 Tahun di Texas Dijatuhi Hukuman Seumur Hidup usai Akui Bunuh dan Lecehkan Ibu Kandung
Kondisi tempat kejadian perkara (TKP) terlihat seperti perampokan yang gagal. Rumah dalam keadaan berantakan, dan mobil korban hilang.
Selain itu, terdapat tanda kekerasan fisik yang menunjukkan seolah terjadi perlawanan sengit.
Polisi saat itu menyimpulkan bahwa ini adalah kasus kriminal biasa yang dilakukan oleh pelaku tidak dikenal. Dugaan bahkan mengarah pada dua orang asing yang tidak pernah berhasil ditangkap.
Di balik semua itu, terdapat pola yang kemudian disadari bertahun-tahun kemudian. Pelaku tampak sengaja menciptakan ilusi perampokan.
Sebagai seorang anggota kepolisian, Stephanie Lazarus memahami dengan detail bagaimana proses penyelidikan dilakukan. Stephanie Lazarus tahu:
Baca juga: Sosok Satoshi Uematsu, Pelaku Pembunuhan Massal di Jepang yang Tersenyum: Mengaku Gak Menyesal
Dengan pengetahuan tersebut, TKP diatur sedemikian rupa agar mengarah pada pelaku luar, bukan orang terdekat.
Stephanie Lazarus segaja membuat rumah Sherri Rasmussen berantakan, barang dihilangkan, dan kekerasan fisik diperlihatkan untuk memperkuat narasi perampokan.
Strategi ini membuat para polisi pada saat itu benar-benar tersesat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: People