Satoshi Uematsu (The Guardian)
INDOZONE.ID - Kasus pembunuhan massal yang mengguncang Jepang kembali menjadi sorotan publik setelah pelaku, Satoshi Uematsu, menunjukkan sikap yang mengejutkan.
Ia terlihat tersenyum di depan kamera dan menyatakan tidak merasa menyesal atas perbuatannya.
Peristiwa tragis ini disebut sebagai salah satu pembunuhan massal terburuk dalam sejarah Jepang pascaperang.
Uematsu, yang saat itu berusia 26 tahun, ditangkap setelah diduga membunuh 19 orang di sebuah fasilitas perawatan penyandang disabilitas di Sagamihara, sekitar 50 km dari Tokyo.
Saat dipindahkan dari kantor polisi menuju kejaksaan, ia sempat menutupi wajahnya dengan jaket. Namun, ketika memasuki kendaraan polisi, ia justru membuka penutup tersebut dan tersenyum lebar di hadapan kamera televisi. Momen ini terekam dan disiarkan secara luas, memicu reaksi publik.
Berdasarkan laman The Guardian, Sabtu (28/03/2026) serangan terjadi di fasilitas perawatan Tsukui Yamayuri-en.
Uematsu, yang merupakan mantan pekerja di tempat tersebut, datang pada dini hari dan langsung melancarkan aksinya.
Ia mengikat dua staf sebelum menyerang para penghuni yang sedang berada di kamar mereka. Dalam waktu sekitar 40 menit, puluhan korban menjadi sasaran, dengan 19 orang dilaporkan meninggal dunia dan lainnya mengalami luka-luka.
Baca juga: Misteri Kasus Setagaya Murders Satu Keluarga Jepang Dibunuh Brutal
Korban terdiri dari pria dan wanita dengan rentang usia antara 19 hingga 70 tahun. Identitas mereka tidak dipublikasikan atas permintaan keluarga.
Tidak lama setelah kejadian, Uematsu menyerahkan diri kepada polisi. Ia datang langsung dan mengakui perbuatannya, sehingga proses penangkapan berlangsung tanpa perlawanan.
Dalam pemeriksaan, ia menyatakan bahwa aksinya didorong oleh keyakinan pribadi terkait penyandang disabilitas.
Menurut laporan penyelidikan, Uematsu mengaku melakukan tindakan tersebut karena ingin “menyelamatkan” orang-orang dengan disabilitas berat. Pernyataan ini memicu kecaman luas karena dianggap tidak manusiawi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: The Guardian