INDOZONE.ID - Tragedi berdarah mengguncang Nepal pada sebuah malam musim panas di tahun 2001. Di tengah jamuan makan malam keluarga di Istana Narayanhiti, Putra Mahkota Dipendra Bir Bikram melakukan aksi penembakan brutal yang merenggut sembilan nyawa anggota keluarganya.
Di antara para korban tewas adalah Raja Birendra dan Ratu Aishwarya, sebelum akhirnya sang putra mahkota memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
Hanya dalam hitungan jam, silsilah keluarga kerajaan Nepal nyaris terputus sepenuhnya. Meski dalam kondisi koma di rumah sakit, Dipendra tetap dinobatkan sebagai Raja untuk menggantikan ayahnya yang ia habisi sendiri.
Tragedi ini diyakini berakar dari perselisihan tajam mengenai rencana pernikahan Dipendra dengan Devyani Rana, seorang bangsawan yang ditolak keras oleh orang tuanya hingga muncul ancaman penghapusan hak waris.
Baca juga: 5 Fakta Kelompok Teror Remaja 764: Jaringan Kriminal Global yang Targetkan Anak dan Remaja di AS
Ketidaksenangan terhadap kebijakan Raja Birendra yang membatasi kekuasaan monarki diyakini turut menjadi faktor pemicu kemarahan sang putra mahkota.
Setelah Dipendra dinyatakan meninggal dunia, suksesi kepemimpinan berpindah secara cepat kepada Gyanendra.
Namun, pergantian takhta ini diwarnai kerusuhan massal; rakyat Nepal yang sangat mencintai sang pangeran merasa terpukul dan skeptis, menolak untuk percaya bahwa sosok idola mereka adalah dalang di balik pembantaian tersebut.
Bagi Nepal, malam itu menjadi titik awal gejolak yang berakhir dengan runtuhnya monarki tujuh tahun kemudian. Gelombang kebencian terhadap Raja Gyanendra membuka jalan bagi politisi Maois untuk menguasai majelis konstitusional.
Rakyat Nepal mengenal Putra Mahkota Dipendra dengan panggilan akrab 'Dippy', sosok pewaris takhta yang sangat diidolakan. Namun, testimoni berbeda datang dari Letnan Jenderal Vivek Kumar Shah.
Veteran ajudan istana yang telah mengabdi selama hampir tiga dekade ini membeberkan bahwa sang pangeran memiliki kepribadian lain yang tersembunyi di balik kehidupan formal kerajaannya.
"Sejak awal, dia mungkin tidak mendapatkan kasih sayang yang seharusnya dia dapatkan saat kecil. Itulah keyakinan saya," ujarnya kepada The World.
Pangeran Dipendra menempuh pendidikan di Eton College, sebuah institusi elit di Inggris yang dikenal sebagai kawah candradimuka bagi para calon raja dan pemimpin dunia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Abc.net.au