Mandela Effect (Sumber: Youtube/Nessie Judge)
INDOZONE.ID - Pernah nggak sih kamu merasa, “Lho, kok kayaknya dulu nggak begini deh?” Misalnya kamu yakin banget logo KitKat dulu ada strip di tengahnya, tapi pas dicek ternyata nggak pernah ada. Atau kamu ngerasa lagu We Are the Champions punya lirik “of the world” di akhir, padahal kenyataannya bagian itu nggak pernah eksis. Nah, kalau kamu pernah ngalamin hal kayak gini, bisa jadi kamu sedang terjebak di fenomena Mandela Effect.
Istilah ini pertama kali muncul tahun 2009 lewat seorang penulis dan peneliti paranormal bernama Fiona Broome. Suatu hari, Fiona kaget karena ia yakin banget Nelson Mandela sudah meninggal di penjara tahun 1980-an, lengkap dengan kenangan berita TV dan pidato istrinya. Tapi pas dicek, ternyata Mandela masih hidup saat itu dan baru meninggal tahun 2013.
Yang bikin makin aneh, banyak orang lain juga punya ingatan yang sama persis seperti Fiona. Dari situlah lahir istilah Mandela Effect, yaitu fenomena ketika banyak orang memiliki ingatan yang sama, tapi ternyata ingatan itu tidak sesuai dengan kenyataan yang tercatat.
Baca juga: Mandela Effect, Misteri yang Mendukung Adanya Keberadaan Dunia Paralel?
Biar lebih kebayang, ini beberapa contoh fenomena Mandela Effect yang terkenal di seluruh dunia:
Lucunya, versi lokal juga ada! Misalnya lagu Bintang Kecil. Banyak orang nyanyi “Bintang kecil di langit yang biru,” padahal lirik aslinya “Bintang kecil di langit yang tinggi.” Rasanya aneh banget, kan?
Secara ilmiah, fenomena ini bisa dijelaskan lewat teori false memory. Menurut seorang profesor psikologi sosial dari Universitas Potsdam, otak manusia menggunakan bagian yang sama untuk berimajinasi dan mengingat yaitu hippocampus. Jadi, saat kita membayangkan sesuatu berulang-ulang, lama-lama otak menganggap itu sebagai kenangan nyata.
Selain itu, memori manusia nggak bekerja seperti rekaman video. Setiap kali kita memanggil ingatan, otak kita membangun ulang potongan-potongan kenangan. Nah, di proses rekonstruksi itulah detail kecil bisa berubah mungkin karena emosi, bias, atau ekspektasi.
Nah, di sinilah teori konspirasi mulai masuk. Beberapa teori populer yang beredar di komunitas internet percaya bahwa Mandela Effect bukan sekadar kekeliruan otak. Ada yang bilang:
Baca juga: Kisah Horor “Anak Ghaib Laut Sulawesi”: Saat Liburan Berubah Jadi Teror Mistis
Fenomena Mandela Effect bikin kita sadar satu hal: memori manusia nggak sekuat yang kita kira. Tapi di sisi lain, teori-teori tentang dimensi paralel dan simulasi juga terlalu menarik untuk diabaikan.
Entah kita cuma “error,” atau memang realita yang berubah, satu hal pasti dunia ini masih penuh misteri. Dan kadang, yang bikin merinding bukan hantunya... tapi otak kita sendiri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Youtube/Nessie Judge