Sosok Pedro Alonso López, pembunuh berantai (Allthainteristing)
INDOZONE.ID - Ada satu nama berbahaya yang diingat sebaga pembunuh berantai paling sadis dalam sejarah manusia yang uniknya sampai saat ini kita tidak tahu kepastiannya apakah sudha meninggal atau belum. Pembunuh yang dimaksud adalah Pedro Alonso López, sosok yang dijuluki “Monster Andes.”
Mengutip dari Daily Express, Pedro mengaku telah membunuh lebih dari 300 anak perempuan di tiga negara Amerika Selatan — Kolombia, Ekuador, dan Peru, pada akhir tahun 1970-an hingga awal 1980-an.
López sempat dijebloskan ke penjara di Ekuador atas 57 kasus pembunuhan yang terbukti, namun keadilan terasa mengejek, karena monster ini hanya menjalani 14 tahun hukuman sebelum dibebaskan pada tahun 1994.
Lahir di Tolima, Kolombia, pada 5 Oktober 1948, López tumbuh dalam bayang kelam. Ia mengalami pelecehan dan penelantaran sejak kecil, hingga akhirnya hidup di jalanan setelah diusir ibunya sendiri pada usia delapan tahun.
Sosok Pedro Alonso López, pembunuh berantai (Istimewa)
Saat diwawancarai tentang alasan di balik tindakannya, López menjawab dengan dingin, kalimat yang membekukan darah siapa pun yang mendengarnya:
“Saya kehilangan kepolosan saya pada usia delapan tahun. Jadi saya memutuskan untuk melakukan hal yang sama kepada sebanyak mungkin anak perempuan.”
Setelah menjalani hukuman atas kasus pencurian kendaraan pada 1969, López kembali bebas, dan sejak 1978, teror itu dimulai.
Korban-korban López umumnya adalah anak perempuan berusia 9–12 tahun, banyak di antaranya berasal dari keluarga miskin atau suku asli. Ia akan mendekati mereka dengan iming-iming permen atau uang, lalu membawa mereka ke tempat terpencil untuk dicekik dan dilecehkan.
Dalam pengakuannya yang dimuat The Mirror, López berkata:
“Saya berjalan di pasar-pasar mencari seorang gadis dengan wajah tertentu. Wajah yang polos dan cantik... Saya mengikutinya selama dua atau tiga hari, menunggu saat dia sendirian.”
Ia mengaku membunuh rata-rata tiga gadis setiap minggu. Lebih mengerikan lagi, López kerap menggali kembali mayat korbannya — hanya untuk mengadakan ‘pesta teh’ bersama jasad-jasad itu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Daily Express