INDOZONE.ID - Kemampuan membaca pikiran orang lain tanpa kata-kata, atau telepati, selama ini identik dengan dunia fiksi ilmiah dan film superhero.
Tapi benarkah fenomena ini pernah diuji secara ilmiah? Berikut penjelasannya dari sudut pandang neurologi dan para psikolog.
Apa Itu Telepati? Nyata atau Tidak?
Secara istilah, telepati berasal dari kata "tele" (jarak) dan "pathy" (perasaan), merujuk pada komunikasi antara dua pikiran yang dipisahkan jarak tanpa melibatkan panca indera.
Baca juga: Diklaim Sakti Berabad-Abad, Ternyata Ini Fakta Ilmiah di Balik Telekinesis
Dalam bidang parapsikologi, telepati masuk kategori Extra Sensory Perception (ESP) bersama kewaskitaan dan prekognisi, kemampuan yang diklaim berada di luar jangkauan indra biasa manusia.
Fenomena "bisa menebak pikiran sahabat atau pasangan" yang sering dianggap sebagai bukti telepati sebenarnya punya penjelasan yang lebih sederhana.
Kedekatan emosional dan waktu yang dihabiskan bersama membuat seseorang jadi sangat familiar dengan pola pikir, kebiasaan, dan reaksi orang lain, sehingga tebakan yang muncul terasa seperti "membaca pikiran", padahal itu hasil dari pengenalan pola yang terbentuk dari pengalaman berulang, bukan transfer sinyal antarotak.
Salah satu percobaan paling dikenal dalam sejarah penelitian telepati adalah eksperimen Ganzfeld. Dalam metode ini, satu orang (penerima) diisolasi dari rangsangan sensorik seperti suara dan cahaya.
Sementara orang lain (pengirim) di ruangan terpisah mencoba "mengirimkan" gambar atau video secara acak lewat pikirannya. Penerima kemudian diminta menebak apa yang dilihat atau dirasakan si pengirim.
Hasilnya sejauh ini tidak konsisten. Sejumlah peneliti parapsikologi mengklaim menemukan hasil statistik yang sedikit di atas kebetulan.
Namun komunitas sains arus utama menilai penelitian semacam ini kerap memiliki kelemahan metodologis, seperti ukuran sampel kecil, kontrol eksperimen yang longgar, hingga potensi bias konfirmasi dari peneliti.
Karena itu, hingga sekarang belum ada bukti yang benar-benar meyakinkan bahwa telepati alami, tanpa bantuan alat bisa benar-benar terjadi.
Menariknya, meski telepati alami belum terbukti, para ilmuwan berhasil menciptakan bentuk "telepati" versi teknologi lewat antarmuka otak komputer (brain computer interface).
Salah satu eksperimen yang cukup terkenal terjadi pada 2014, ketika sebuah tim peneliti berhasil mengirim kata seperti "hola" dan "ciao" dalam bentuk kode biner dari seorang partisipan di India ke penerima di Prancis.
Sinyal otak si pengirim ditangkap lewat sensor EEG, dikirim lewat internet, lalu diterjemahkan menjadi rangsangan magnetik di kepala penerima melalui perangkat TMS, yang membuat penerima "melihat" kilatan cahaya sesuai kode biner tersebut. Meski berhasil, prosesnya memakan waktu sekitar 70 menit hanya untuk mengirim satu kata pendek.
Eksperimen serupa juga dilakukan University of Washington pada tahun yang sama, di mana sinyal otak seorang partisipan berhasil menggerakkan tangan partisipan lain lewat koneksi internet.
Kedua eksperimen ini menunjukkan bahwa aktivitas gelombang otak memang bisa ditangkap, dikirim, dan diterjemahkan oleh mesin, tapi ini murni proses teknologi, bukan kemampuan alami otak manusia untuk saling terhubung tanpa perantara.
Baca juga: Ajian Telepati Ilmu Langit Sunyi, Warisan Leluhur yang Mengajarkan Empati dan Kendali Diri
Telepati sebagai kemampuan supranatural murni masih berada di ranah spekulasi dan belum bisa dibuktikan secara ilmiah, meski penelitian di bidang ini terus berjalan.
Yang benar-benar terbukti adalah kemajuan teknologi otak-komputer yang membuka kemungkinan komunikasi pikiran secara terbatas, ebuah pengingat bahwa batas antara sains dan fiksi ilmiah kadang lebih tipis dari yang dibayangkan, meski keduanya tetap berjalan lewat jalur yang sangat berbeda.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Quora, New York Magazine