Rabu, 20 MEI 2026 • 13:08 WIB

Mitos Buaya Kembaran Manusia di Sulawesi: Kepercayaan Bugis Setiap Individu Punya Saudara Kembar Reptil Air

Author

ilustrasi Mimpi Digigit Buaya (Freepik/ TravelScape)

INDOZONE.ID - Di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan, khususnya dalam tradisi masyarakat Bugis dan Makassar, buaya bukan sekedar hewan liar penghuni sungai. Banyak masyarakat lokal percaya bila buaya punya hubungan hubungan spiritual dengan buaya sebagai saudara kandung atau kembaran yang lahir dalam wujud hewan. 

Dikutip dari akun mitologi.bumisulawesi yang menukil dokumenter  "MENGUAK MISTERI DI BALIK SOSOK SINRIJALA TALLO", kepercayaan ini telah hidup turun-temurun selama ratusan tahun dan menjadi bagian penting dari warisan budaya masyarakat pesisir maupun daerah aliran sungai di Sulawesi

Dalam tradisi tersebut, muncul keyakinan bahwa setiap manusia memiliki “kembaran gaib” yang hidup di alam lain, dan salah satu bentuk paling terkenal adalah buaya.

Kepercayaan tentang “Kera’”: Saudara Kembar Berwujud Buaya

Dalam budaya Bugis-Makassar, dikenal konsep hubungan spiritual antara manusia dan makhluk tertentu yang disebut sebagai “kera’” atau saudara kembar gaib. 

Baca juga: Hutan “Terlarang” di Indonesia: Mitos, Kearifan Lokal dan Penjaga Ekosistem

Tidak semua orang memilikinya, tetapi dalam banyak cerita keluarga, ada keyakinan bahwa seorang anak lahir bersamaan dengan saudara lain yang tidak hidup sebagai manusia, melainkan menjelma menjadi buaya dan tinggal di sungai atau rawa.

Karena dianggap sebagai saudara, buaya tertentu tidak dipandang sebagai ancaman biasa. Hewan itu dipercaya tetap memiliki ikatan batin dengan keluarganya di darat. Beberapa masyarakat bahkan meyakini bahwa buaya tersebut dapat muncul sewaktu-waktu untuk memberi tanda, perlindungan, atau peringatan kepada keluarganya.

Kepercayaan ini membuat hubungan manusia dan buaya di Sulawesi memiliki nuansa spiritual yang sangat berbeda dibanding pandangan umum terhadap buaya di daerah lain.

Ilustrasi buaya Pulau Ramree. (wikipedia.org)

Berkaitan dengan Sejarah dan Kepercayaan Kerajaan Tallo

Mitos buaya kembaran juga sering dikaitkan dengan sejarah kerajaan-kerajaan lama di Sulawesi Selatan, salah satunya Kerajaan Tallo di Makassar.

Dalam sejumlah cerita rakyat, ada buaya tertentu yang dianggap memiliki hubungan dengan garis keturunan bangsawan atau dipercaya sebagai penjaga wilayah kerajaan. Sosok buaya tersebut tidak hanya dihormati sebagai hewan, tetapi juga sebagai makhluk spiritual yang memiliki kedudukan penting dalam kosmologi masyarakat setempat.

Baca juga: 5 Arti Mimpi Digigit Buaya Menurut Primbon Jawa, Pertanda Bahaya?

Karena itu, kemunculan buaya di area tertentu kadang dianggap bukan kebetulan, melainkan pertanda yang berkaitan dengan leluhur atau penjaga wilayah.

Sejarah mencatat bahwa Sinrijala, atau Karaeng Sinrijala, adalah sosok legendaris yang hingga kini masih dikenang oleh sebagian kecil masyarakat Bugis-Makassar. Lebih dari sekadar mitos, nama Sinrijala juga terkait dengan Pasukan Sinrijala, sebuah unit elit angkatan laut Kerajaan Tallo yang dikenal sebagai Pasukan Buaya.

Pasukan ini diyakini memiliki keterampilan luar biasa dalam bertempur di perairan dan disebut-sebut memiliki hubungan spiritual dengan buaya.

Dari sudut pandang akademis, keberadaan Sinrijala dan pasukannya sering kali dikategorikan sebagai legenda atau mitos yang tidak memiliki bukti konkret. Namun, bagi mereka yang masih meyakini keberadaannya, hubungan antara buaya dan keturunan Sinrijala bukanlah kebetulan, melainkan bagian dari warisan sejarah yang terus hidup hingga kini.

Ritual Penyambutan Buaya yang Dianggap Anggota Keluarga

Salah satu bagian paling unik dari tradisi ini adalah ritual penyambutan ketika seekor buaya yang diyakini sebagai “saudara” muncul atau tertangkap warga.

Dalam beberapa kisah yang beredar di masyarakat, buaya tersebut tidak langsung dibunuh atau diusir. Sebaliknya, keluarga yang merasa memiliki hubungan spiritual dengannya akan melakukan ritual adat sebagai bentuk penghormatan.

Buaya itu terkadang dibawa mendekati rumah, disambut seperti tamu penting, bahkan dalam cerita tradisional disebut pernah “ditidurkan” di atas kasur lengkap dengan bantal dan selimut. Ritual ini bukan bentuk pemeliharaan biasa, melainkan simbol penghormatan kepada anggota keluarga yang diyakini hadir dalam wujud lain.

Baca juga: 5 Arti Mimpi Melihat Buaya Menurut Primbon Jawa, Tanda Bahaya?

Selain itu, keluarga juga memberikan makanan khusus dan doa-doa adat agar hubungan spiritual tetap terjaga dan keluarga mereka terhindar dari musibah.

Bukan Pernikahan Manusia dan Buaya

Di luar Sulawesi, kisah tentang ritual buaya ini sering disalahpahami sebagai “pernikahan manusia dengan buaya.” Padahal dalam tradisi Bugis-Makassar, ritual tersebut sama sekali bukan bentuk pernikahan.

Tradisi itu lebih tepat dipahami sebagai ritual penghormatan terhadap “saudara spiritual” yang dipercaya memiliki hubungan darah atau ikatan gaib dengan keluarga tertentu.

Kesalahpahaman ini kemungkinan muncul karena adanya tradisi di negara lain—seperti di Meksiko—yang memang memiliki ritual simbolik “pernikahan” dengan buaya sebagai bagian dari upacara adat. Sementara di Sulawesi Selatan, konteksnya sangat berbeda dan lebih berkaitan dengan hubungan spiritual antara manusia, leluhur, dan alam.

Makna Filosofis di Balik Mitos Buaya Kembaran

Di balik kisah mistis tersebut, sebenarnya tersimpan filosofi budaya yang cukup dalam. Kepercayaan tentang buaya sebagai saudara mengajarkan masyarakat untuk hidup berdampingan dengan alam dan menghormati makhluk lain sebagai bagian dari kehidupan.

Baca juga: Kisah 'Dokter Maut' dari India: Pembunuh Berantai yang Buang Mayat Korbannya untuk Buaya

Dalam budaya tradisional Bugis dan Makassar, manusia tidak dianggap hidup sendirian di dunia. Ada hubungan antara manusia, alam, leluhur, dan makhluk gaib yang semuanya harus dijaga agar keseimbangan tetap terpelihara.

Karena itu, ritual penghormatan kepada buaya bukan semata-mata soal rasa takut terhadap makhluk gaib, tetapi juga bentuk penghargaan terhadap hubungan manusia dengan alam sekitarnya.

Tradisi yang Masih Bertahan hingga Kini

Meski zaman terus berubah dan modernisasi berkembang pesat, sebagian masyarakat Sulawesi Selatan masih memegang kepercayaan ini, terutama di wilayah yang dekat dengan sungai atau daerah pesisir.

Cerita tentang buaya kembaran masih sering diwariskan kepada anak-anak sebagai bagian dari identitas budaya dan pengingat agar manusia tidak bersikap sombong terhadap alam.

Bagi sebagian orang modern, kisah ini mungkin terdengar seperti legenda biasa. Namun bagi masyarakat yang tumbuh bersama tradisi tersebut, hubungan antara manusia dan buaya bukan sekadar dongeng, melainkan bagian dari warisan leluhur yang tetap dihormati hingga hari ini.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Instagram

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU