Ilustrasi tradisi kentongan sahur.
INDOZONE.ID - Setiap Ramadhan, banyak orang di Indonesia yang pasti mendengar suara kentongan sahur.
Tradisi ini sudah jadi bagian dari kehidupan selama berpuasa, meskipun asal-usulnya masih jadi misteri.
Dr. Sarkawi B. Husain, dosen sejarah dari Universitas Airlangga, mengatakan kalau nggak ada catatan sejarah yang bisa menjelaskan kapan pertama kali kentongan digunakan untuk membangunkan orang sahur.
"Tradisi ini nggak ada catatan pasti, tapi saya rasa sudah ada sejak Islam masuk ke Indonesia," kata Dr. Sarkawi seperti dilansir fib.unair.ac.id, Selasa (4/3/2025).
Baca Juga: Pembunuhan di Balik Kotak Sumbangan Sahur dalam Kondisi Terikat
Kalau di Timur Tengah, mereka memakai adzan untuk membangunkan orang sahur. Sedangkan di Indonesia kentongan yang jadi pilihan.
Walau berbeda, tujuan keduanya sama, yaitu membangunkan orang untuk sahur.
"Memang kentongan nggak ada kaitannya langsung sama tradisi di Timur Tengah, tapi tujuan membangunkan sahur itu sudah ada sejak zaman Rasulullah, cuma caranya aja yang beda," lanjutnya.
Setiap daerah di Indonesia punya cara sendiri buat tradisi ini. Di Jakarta misalnya, ada tradisi ngarak beduk. Sementara di Banjar, Kalimantan Selatan, ada tradisi bagarakan sahur.
"Setiap daerah punya cara yang khas. Di Jakarta, ngarak beduk sudah jadi kebiasaan lama. Sementara di Banjar, tradisi bagarakan sahur sudah ada sejak Islam masuk di sana," jelasnya.
Baca Juga: Zaman Dahulu, Bir Jadi Sajian Sahur Para Biksu, Pabriknya Didirikan Biarawan
Sayangnya, di perkotaan, suara kentongan bisa mengganggu orang-orang, terutama yang bukan muslim.
Dr. Sarkawi menyampaikan, kalau teknologi yang ada sekarang bikin banyak orang beralih ke cara yang lebih modern buat bangunin sahur.
"Bagi orang non-Muslim, kentongan bisa jadi gangguan, karena mereka terbangun meskipun nggak sahur," ucapnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Fib.unair.ac.id