Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Minggu, 17 NOVEMBER 2024 • 19:05 WIB

Rambut Gimbal di Tanah Dieng: Menguak Misteri di Balik “Anak-anak Pilihan”

Rambut Gimbal di Tanah Dieng: Menguak Misteri di Balik “Anak-anak Pilihan”Tradisi Ruwat Gimbal Dieng.

INDOZONE.ID - Ritual cukur rambut gimbal pada anak-anak di Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah (Jateng), adalah tradisi unik dan penuh dengan nilai spiritual, budaya, hingga mistik.

Anak-anak yang memiliki rambut gimbal di Dieng, dianggap sebagai "anak istimewa" yang dipercaya sebagai keturunan leluhur atau makhluk halus pelindung daerah Dieng. 

Rambut gimbal ini tidak dipotong dengan sembarangan, melainkan melalui prosesi khusus yang dikenal sebagai Ruwatan Rambut Gimbal. 

Rambut gimbal pada anak-anak Dieng, terjadi secara alami tanpa campur tangan manusia. Umumnya, anak-anak ini memiliki rambut biasa, tetapi setelah mengalami demam tinggi yang tidak biasa, rambut mereka berubah menjadi gimbal. 

Tahapan Ritual Ruwatan Rambut Gimbal

Perlu diketahui, munculnya rambut ini, sering dianggap sebagai tanda, bahwa anak tersebut "dipilih".

Sebelum ritual, anak yang memiliki rambut gimbal biasanya akan menyampaikan "permintaan" atau keinginan tertentu, seperti mainan, makanan, atau barang spesifik. 

Baca Juga: Ritual Cukur Rambut Gimbal di Dieng, Simbol Penyucian dan Permohonan Doa

Kepercayaan lokal meyakini, bahwa permintaan anak ini harus dipenuhi agar proses ritual berjalan lancar dan anak tidak mengalami gangguan. 

Ritual cukur rambut gimbal biasanya dilakukan bersamaan dengan Dieng Culture Festival, yang berlangsung setiap tahun. 

Tahapan ritual meliputi yaitu penyucian, anak-anak dibawa ke sumber mata air suci (seperti Tuk Bima Lukar) untuk dimandikan sebagai simbol pembersihan spiritual. 

Selanjutnya, anak-anak diarak dalam sebuah prosesi budaya yang diiringi musik tradisional, tarian, dan pertunjukan seni khas Dieng. Rambut gimbal dipotong oleh tokoh adat atau pemuka agama setempat di tempat khusus.

Prosesi ini berlangsung dengan doa dan mantra tertentu. Rambut yang sudah dipotong, dibuang ke sungai atau danau (seperti Telaga Warna) sebagai lambang penghilangan energi negatif dan pengembalian ke alam. 

Jika ritual ruwatan tidak dilakukan dengan tepat, rambut gimbal dipercaya akan tumbuh kembali, menandakan bahwa "beban" spiritual belum terangkat.

Setelah ritual selesai, biasanya diadakan perayaan rakyat yang melibatkan berbagai tarikan budaya, seperti wayang, musik tradisional, hingga pertunjukan seni modern.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: SEMIOTIKA: Jurnal Komunikasi, Indonesian Journal Of Anthropology, Proposal “Fenomena Anak Rambut Gimbal Di Dataran Tinggi Dien

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Rambut Gimbal di Tanah Dieng: Menguak Misteri di Balik “Anak-anak Pilihan”

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!