Ilustrasi Valkyrie (AI/Gemini)
INDOZONE.ID - Valkyrie merupakan sosok perempuan pejuang ilahi dalam mitologi Nordik yang mengabdi kepada Odin, pemimpin para dewa.
Dalam banyak gambaran modern, Valkyrie sering terlihat anggun, cantik, dan heroik. Namun, menurut kepercayaan bangsa Viking, sosok asli Valkyrie jauh lebih mengerikan, cantik, tetapi juga dekat dengan darah, kematian, dan perang.
Melansir laman The Collector, Rabu (06/05/2026) nama Valkyrie berasal dari bahasa Norse Kuno yang berarti “pemilih mereka yang gugur”.
Baca juga: Mengenang Pertempuran Stamford Bridge: Berakhirnya Invasi Viking ke Inggris
Tugas utama mereka adalah memilih prajurit paling berani yang tewas di medan perang untuk dibawa ke Valhalla, aula megah di Asgard tempat para pejuang terpilih dipersiapkan menghadapi Ragnarok
Para prajurit pilihan ini dikenal sebagai Einherjar, pasukan elit yang kelak bertempur bersama para dewa di akhir zaman.
Karena itu, kehadiran Valkyrie di medan perang bukan sekadar pengantar jiwa, tetapi juga penentu nasib para pejuang.
Jika dalam seni Renaisans Valkyrie digambarkan bak malaikat perang, bangsa Viking punya pandangan berbeda.
Dikutip dari The Collector,Rabu (06/05/2026) Valkyrie dalam saga Norse justru digambarkan sebagai makhluk yang menikmati kekacauan peperangan.
Baca juga: Operasi Valkyrie: Percobaan Berani untuk Membunuh Hitler dan Menggulingkan Rezim Nazi
Mereka mengenakan zirah seperti prajurit pria, membawa tombak, menunggang kuda, dan memiliki jubah bulu angsa yang membuat mereka bisa terbang.
Saat muncul di langit pertempuran, mereka digambarkan bercahaya, namun teriakan perang mereka menanamkan rasa takut pada para prajurit di bawah.
Yang paling kelam, beberapa kisah menyebut Valkyrie berpesta dengan memakan mayat di medan perang dan mandi dalam darah para korban, mirip gagak dan serigala, dua hewan yang erat dikaitkan dengan Odin.
Valkyrie turut dipercaya punya kaitan dengan takdir.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: The Collector