Tradisi Padusan di Boyolali. (ZCreators/Eksani)
INDOZONE.ID - Ada tradisi unik di Kabupaten Boyolali yakni gebyar padusan. Biasanya tradisi ini dilakukan jelang memasuki bulan Ramadhan. Tahun ini gebyar padusan dilakukan di dua tempat yang berbeda yaitu di umbul Tlatar dan di umbul Tirtomarto Kawasan Pengging, Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali.
Tradisi gebyar padusan dimulai dengan kirab dari kantor kecamatan Banyudono menuju umbul Tirtomarto di Kawasan pengging sejauh sekitar satu kilo meter. Iring-iringan kirab dimulai dari pasukan damkar, kepolisian, paskibraka, duta wisata Boyolali, rombongan Forkopimda Boyolali, Paguyuban kades se-Banyudono dan drum band.
Sesampainya di Kawasan umbul Tirtomarto, rombongan kirab langsung menuju umbul Ngabean yang menjadi tempat dimulainya ritual padusan oleh duta wisata Boyolali. Sepuluh orang penari gambyong membuka ritual gebyar padusan di umbul ngabean, disusul dengan prosesi siraman pada mas dan mbak duta wisata Boyolali.
Baca juga: Unik, Ribuan Warga Ikuti Tradisi Padusan dengan Memakai Kostum Jadul di Umbul Tlatar Boyolali
Siraman pertama dilakukan oleh Sekretaris Daerah Boyolali Wiwis Trisiwi Handayani, siraman kedua dilakukan oleh Panembahan Agung Tedjo Wulan perwakilan Keraton Surakarta Hadiningrat. Usai melakukan ritual siraman, mas dan mbak duta wisata menuju umbul ngabean untuk mandi bersama yang menandakan dimulainya gebyar padusan di Boyolali.
“Ini saya ikut ritual gebyar padusan, kesannya sangat seru ya menambah pengalaman juga karena ini salah satu tradisi di boyolali sebelum puasa Ramadhan. Harapannya tradisi padusan ini selalu dilakukan selalu dilestarikan agar bisa sampai ke anak cucu nanti,” ujar Anisa Rizqi Aulya, Duta Wisata Boyolali, Senin (16/2/2026).
Baca juga: Gali Tanah, Warga Tawangsari Boyolali Temukan Arca dan Yoni Abad 18
Tradisi Padusan di Boyolali. (ZCreators/Eksani)
Padusan di umbul Ngabean Pengging ini dimulai sejak masa Raja Pakubuwono ke X. Saat itu setiap menjelang puasa Raja PB X bersama abdi dalemnya datang ke umbul Ngabean untuk melakukan mandi dan bersih diri. Ritual tersebut tersebar sampai ke rakyat dan setiap tahunnya diikuti warga hingga kini.
Oleh sebab itu setiap tradisi padusan seperti ini perwakilan Keraton Surakarta. Sementara itu perwakilan Keraton Surakarta Panembahan Agung Tedjo Wulan mengatakan
“Ini kan kegiatan tiap tahun ya, jadi ya harus dilestarikan bila perlu ditingkatkan dan ini sudah bagus, ya mungkin bangunannya di umbul Ngabean perlu direnovasi agar tidak kusam seperti sekarang ini. Kalau makna padusan ini ya bersihkan diri lahirnya dulu, batinnya nanti saat bulan puasa,” jelas Panembahan Agung Tedjo Wulan, Maha Menteri Keraton Surakarta.
Kegiatan ini menarik wisatawan untuk datang. Pemkab Boyolali sendiri menargetkan 5 ribu wisatawan hadir setiap acara ini digelar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan Langsung