Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Senin, 30 JUNI 2025 • 17:11 WIB

Beragam Tumpeng Diarak di Banyuwangi: Tradisi Takir Sewu Rayakan Syukur Petani Sraten

Beragam Tumpeng Diarak di Banyuwangi: Tradisi Takir Sewu Rayakan Syukur Petani SratenTradisi Takir Sewu Rayakan Syukur Petani Sraten (sumber: Humas Pemkab Banyuwangi)

INDOZONE.ID - Tradisi budaya Banyuwangi kembali mencuri perhatian menjelang datangnya bulan Suro, penanda tahun baru dalam kalender Jawa. Salah satu kegiatan unik adalah Festival Takir Sewu yang digelar di Kampung Kedawung, Dusun Sukodadi, Desa Sraten, Kecamatan Cluring, Banyuwangi.

Pada Jumat, 27 Juni 2025, kawasan desa ini dipenuhi suasana semarak. Ribuan warga tumpah ruah mengikuti kirab seribu tumpeng hasil bumi. Tumpeng-tumpeng tersebut merupakan simbol keberkahan dari alam yang diperoleh masyarakat setempat, sebagian besar berasal dari kalangan petani.

Aneka rupa tumpeng disuguhkan dalam acara ini. Ada tumpeng agung dengan tampilan megah, tumpeng ingkung sebagai sajian tradisi spiritual, serta tumpeng hasil bumi seperti pisang, semangka, ketela, dan berbagai sayuran segar. Beberapa bahkan dibuat menjulang hingga dua meter, menjadikannya ikon utama dalam kirab.

Baca juga: Mengenal Tradisi 'Putri Jenggolo': Ritual Pernikahan Unik Khas Sidoarjo

Arif Rahman Mulyadi, Kepala Desa Sraten, menjelaskan bahwa Takir Sewu digelar rutin tiap 1 Suro. Tradisi ini menjadi bentuk pengabdian dan rasa syukur warga kepada Sang Pencipta, terutama atas rezeki dari sektor pertanian.

Tradisi ini merupakan ungkapan rasa syukur masyarakat Kedawung, Sraten, yang mayoritas petani, atas limpahan rezeki yang diberikan oleh Allah SWT,” ungkapnya.

Rangkaian kegiatan dimulai sehari sebelumnya dengan upacara bersih desa dan ziarah ke makam leluhur. Tujuannya tak lain adalah memohon berkah serta menjaga hubungan spiritual antara generasi sekarang dan para pendahulu.

Selesai kirab, tumpeng yang telah diberkahi kemudian dibagikan kepada seluruh warga menggunakan takir, wadah dari daun pisang yang juga sarat makna simbolik. Warga menerima takir tersebut sebagai bentuk berkah dan kebersamaan.

Wakil Bupati Banyuwangi, Mujiono, hadir langsung menyaksikan jalannya tradisi. Dalam sambutannya, ia menyatakan bahwa tradisi ini sudah resmi masuk dalam kalender tahunan Banyuwangi Festival (B-Fest) agar mampu menarik lebih banyak wisatawan.

Kita masukkan B-Fest agar diketahui banyak orang, sehingga ada yang datang ke kampung ini. Dampaknya bisa meningkatkan kesejahteraan warga sekitar, terutama pedagang UMKM yang ada di sini,” tutur Mujiono.

Baca juga: Menelusuri Jejak Leluhur Lewat Tradisi Mapak Tirto di Sidoarjo

Ia juga mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga dan melestarikan tradisi seperti Takir Sewu agar tetap hidup di tengah gempuran modernisasi.

Budaya ini harus terus kita uri-uri. Di dalamnya terkandung filosofi luhur tentang rasa syukur, kebersamaan, serta keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat,” ujarnya.

Takir Sewu bukan hanya seremoni, melainkan perwujudan nilai luhur yang menyatukan masyarakat dalam ikatan budaya, spiritual, dan ekonomi secara holistik.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Humas Pemkab Banyuwangi

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Beragam Tumpeng Diarak di Banyuwangi: Tradisi Takir Sewu Rayakan Syukur Petani Sraten

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!