INDOZONE.ID - Istilah "tumbal proyek" kerap muncul menjadi buah bibir saat pembangunan jembatan atau jalan raya sedang berlangsung.
Secara definisif, istilah ini merujuk pada spekulasi mistis mengenai perlunya pengorbanan makhluk hidup demi menjamin keamanan struktur bangunan.
Kepercayaan kolektif ini merupakan fenomena budaya yang memiliki rekam jejak sejarah panjang sejak masa kolonial, yang secara sosiologis masih memberikan pengaruh pada persepsi masyarakat Indonesia di era modern.
Bregas Pranoto menceritakan kisah menyeramkan tentang seorang penjahat sakti yang bekerja sebagai kaki tangan pemerintah kolonial Belanda.
Baca juga: Kisah Mistis Tumbal Bukit Kembar: Misteri di Balik Proyek Jalan Desa Tirta Asri
Peran utama mereka adalah menculik anak-anak guna dijadikan persembahan dalam proyek konstruksi jembatan maupun gedung pemerintahan.
Menurut catatan Onghokham, rumor ini sangat masif di pedesaan pada abad ke-19, di mana masyarakat percaya Belanda mencari dua tengkorak manusia untuk memperkokoh pondasi proyek mereka.
Imbasnya, stigma negatif terhadap pendatang, khususnya warga Belanda, meningkat tajam hingga sering kali berujung pada tindakan persekusi oleh warga yang ketakutan akan keselamatan buah hati mereka.
Namun, mungkinkah fenomena ini sebenarnya berakar dari sebuah miskomunikasi? Sejumlah referensi mencatat bahwa mitos ini diduga bermula dari salah tafsir penduduk lokal terhadap instruksi mandor Belanda.
Ketika mereka diminta untuk "bekerja menggunakan otak" atau berpikir secara teknis, keterbatasan bahasa membuat pesan tersebut disalahpahami sebagai kebutuhan akan kepala manusia secara harfiah.
Meski demikian, Bregas menilai fenomena ini jauh lebih dalam; ia berakar pada kepercayaan kuno masyarakat Asia Tenggara yang memandang penumbalan sebagai cara untuk "meminta izin" serta menyenangkan roh penunggu wilayah demi kelancaran pembangunan.
Fenomena ini mencerminkan dimensi kepercayaan kolektif serta upaya masyarakat dalam mencari proteksi spiritual.
Bregas turut menyoroti tradisi perburuan kepala pada masyarakat Dayak Mualang sebagai salah satu referensi budaya yang relevan.
Walaupun praktik serupa tidak ditemukan secara umum di Sumatra Utara, Jawa, maupun NTT, narasinya tetap memiliki keterkaitan erat dengan memori kelam aksi penculikan di era kolonial.
Secara simbolis, mitos tumbal proyek juga merepresentasikan ekspresi kekalahan masyarakat lokal terhadap dominasi asing.
Narasi ini semakin menguat ketika Belanda mulai melakukan ekspansi ke pedalaman Nusantara, dibarengi dengan kebijakan pelarangan serta kontrol ketat terhadap tradisi perburuan kepala.
Baca juga: Seramnya Terowongan Kereta Paledang: Dari 20 Pelajar Tewas hingga Isu Korban Proyek Jadi Tumbal
Dayak, yang kehilangan aspek budaya tersebut juga memandang Belanda sebagai penjaga monopoli perburuan kepala untuk memperkuat kekuasannya dan membangun proyek-proyek besar.
Bregas menilai cerita-cerita ini muncul sebagai cara warga lokal bertahan dari perasaan tersisih dan kehilangan kendali atas tanah mereka sendiri.
Sejarah mencatat pola yang mirip di Sumatra Utara saat pembukaan lahan perkebunan oleh Belanda di awal 1900-an.
Saat itu, kehidupan masyarakat berubah total; pemukiman digusur dan alam diratakan demi kepentingan proyek kolonial.
Pada akhirnya, kita bisa melihat bahwa mitos tumbal proyek adalah "bahasa" masyarakat dalam mencerna dampak perubahan lingkungan yang drastis serta rasa pengabaian yang mereka alami selama proses pembangunan berlangsung.
Walaupun zaman telah berubah, tetapi keyakinan dan mitos ini terus bertahan, menjadi warisan dari masa lalu yang menggembleng masyarakat untuk memahami kompleksitas budaya dan kepercayaan masyarakat Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Amatan Di Media Sosial