Rabu, 11 MARET 2026 • 12:50 WIB

Asal Usul Banyuwangi Menurut Legenda Sri Tanjung dan Patih Sidopekso

Author

Ilustrasi Legenda Sri Tanjung dan Patih Sidopekso. (Gemini AI)

INDOZONE.ID - Banyuwangi merupakan kabupaten terluas di Jawa Timur yang terletak di ujung timur Jawa, sekaligus menjadi akses utama menuju Bali melalui Pelabuhan Ketapang. 

Nama wilayah ini sendiri tidak muncul begitu saja, melainkan berakar dari sebuah legenda yang sangat masyhur dalam khazanah cerita rakyat Indonesia. 

Berikut adalah penuturan lengkap mengenai legenda asal-usul Banyuwangi tersebut.

Baca juga: Misteri Gashadokuro, Legenda Tengkorak Raksasa yang Haus Balas Dendam

Legenda Asal-usul Banyuwangi 

ilustrasi Desa Alas Purwo, Banyuwangi (Wikipedia.)

Konon pada zaman dahulu, wilayah ujung Pulau Jawa yang dikenal dengan kekayaan alam yang indah dipimpin oleh raja yang bernama Prabu Sulahkromo. 

Dalam menjalankan pemerintahan, ia dibantu oleh patih yang gagah berani, arif, dan tampan yang bernama Patih Sidopekso.

Kecantikan dan kebaikan hati Sri Tanjung, istri Patih Sidopekso, ternyata memicu obsesi gelap dari sang Raja. Ingin menyingkirkan Sidopekso agar bisa mengambil istrinya, Raja memberikan misi yang sangat sulit dan berbahaya. 

Sidopekso pun berangkat melakukan tugas itu tanpa mengetahui rencana jahat di baliknya. Selama suaminya pergi, Sri Tanjung terus-menerus dirayu oleh Prabu Sulahkromo, tetapi ia tetap setia dan tak berhenti mendoakan suaminya. 

Begitu tugas berbahaya itu selesai, Sidopekso segera pulang dan langsung menuju istana untuk menghadap sang Raja.

Amarah Patih Sidopekso 

Raja kemudian menjalankan tipu daya licik untuk memfitnah kehormatan Sri Tanjung. Ia menghasut Patih Sidopekso dengan menyebut bahwa sang istri telah berkhianat dan berusaha merayu baginda saat sang Patih sedang pergi. 

Tanpa melakukan tabayun atau penyelidikan lebih lanjut, Patih Sidopekso menemui istrinya dengan hati yang penuh prasangka dan tuduhan tak berdasar. 

Sialnya, kejujuran yang disampaikan Sri Tanjung justru ditanggapi dengan amarah yang semakin beringas oleh Sidopekso, bahkan ia sampai mengeluarkan ancaman pembunuhan terhadap belahan jiwanya sendiri.

Dengan hati penuh gelora kemarahan, Patih Sidopekso menyeret istrinya ke tepi sungai yang keruh dan kumuh. 

Sebelum ajal menjemput, Sri Tanjung mengajukan sebuah permintaan terakhir untuk membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah. 

Ia rela jasadnya dibuang ke sungai keruh dengan satu pertanda, jika air sungai berubah menjadi wangi, itu adalah bukti kesetiaannya. 

Baca juga: Legenda Monster Nian, Kisah di Balik Perayaan Tahun Baru Imlek

Namun sayangnya, Patih Sidopekso yang sudah gelap mata langsung menghujamkan kerisnya. 

Sri Tanjung tewas seketika dengan darah yang mengucur, menjadi tumbal atas fitnah keji yang dipercayai oleh suaminya sendiri.

Mayat Sri Tanjung diceburkan ke sungai yang keruh, namun lama kelamaan sungai tersebut menjadi jernih seperti kaca dan berbau harum.

Patih Sidopekso terhuyung-huyung, jatuh, dan menjadi seperti orang kebingungan. Tanpa disadari, ia menjerit Banyu...wangi...Banyu...wangi. Banyuwangi terlahir dari cinta istri pada suaminya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Youtube

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU