INDOZONE.ID - Malam itu kampung kecil di lereng bukit sebenarnya biasa-biasa saja. Angin semilir, lampu-lampu rumah sudah mulai diredupkan, dan suara jangkrik biasanya jadi latar setia.
Tapi malam itu berbeda. Joko, pemuda yang biasanya santai, tiba-tiba lari sekencang-kencangnya menuju pos ronda sambil teriak, “Pak Lurah, sumpah… bau ini bukan bau biasa!”
Warga yang nongkrong sambil ngudud langsung menoleh. Wajah Joko pucat seperti orang habis lihat hantu. Ketika ia menyebut bau itu datang dari rumah Nyai Sukandir, suasana langsung hening.
Nama itu memang cukup untuk bikin bulu kuduk berdiri. Perempuan tua misterius yang tinggal sendirian di rumah kayu tua di ujung dusun, penuh gosip dan kisah mistis yang nggak pernah ada ujungnya.
Yuk simak kisah mistis tumbal susuk Nyai Sukandir dilansir dari YouTube @OM BRIZZ OFFICIAL selengkapnya!
Baca juga: Kisah Mistis Pager Wetan di Lereng Gunung Semeru: Perjanjian Kelam Sang Kuncen Cari Tumbal
Awal Dugaan Perstiwa Ganjil yang Misterius
Realitas mulai terasa makin aneh ketika mereka tiba di rumah Nyai. Pintu terbuka sedikit, lampu mati total, dan bau busuk menusuk hidung.
Ketika pintu didorong, isinya bukan lagi suasana rumah orang hidup, tapi seperti sisa-sisa tempat pertarungan.
Nah saat mereka menemukan tubuh Nyai Sukandir di kamar, semuanya langsung paham kalau ini bukan kematian biasa.
Tubuhnya bengkak, kulitnya retak-retak hitam seperti akar mati, dan dari beberapa bagian kulitnya muncul benda coklat kehitaman yaitu susuk yang keluar dari balik kulit.
Mbah Kamto yang tiba-tiba muncul berkata pelan, “Kontraknya putus dan kalau putus sebelum waktunya tubuh tuannya akan dimakan balik dari dalam.”
Wajah Nyai membeku dalam ekspresi ketakutan luar biasa, mata melotot seperti melihat sesuatu yang datang menjemputnya. Sesuatu yang bukan manusia.
Jejak yang Mengikuti
Setelah jasad Nyai Sukandir ditemukan, semua warga diselimuti rasa nggak enak. Tapi yang paling parah adalah Ranu, salah satu pemuda desa yang ikut masuk ke rumah Nyai malam itu.
Tiga malam berturut-turut ia mimpi buruk, terbangun dengan tubuh basah kuyup seperti habis disiram air. Ibunya yang panik memaksanya bercerita.
Dari bau bunga tujuh rupa yang tiba-tiba muncul di jalan gelap, bayangan perempuan berkemben yang berdiri di luar jendela, sampai suara riak air seperti ada seseorang mandi di halaman rumah.
Semua kejadian itu muncul setelah ia menghirup bau dari rumah Nyai malam itu. Ibunya langsung bilang, “Besok kita harus ke Mak Waren. Ini sudah nggak wajar.”
Baca juga: Kisah Mistis Tumbal Selasa Kliwon: Misteri Kematian Siti di Sebuah Kampung
Lingkaran Bunga
Belum sempat pergi, mereka menemukan sesuatu yang bikin darah langsung dingin yaitu lingkaran bunga tujuh rupa di depan pintu rumah mereka, tersusun rapi seolah dilakukan tangan yang sangat paham ritual.
Ketika mereka hampir menginjaknya, suara lantang terdengar dari tepi pagar.
“Jangan berani kalian injak bunga itu!”
Itu suara Mak Waren, dukun sepuh yang sudah lama membantu warga kampung. Ia datang dengan nafas terengah, wajah penuh ketegangan.
Ia mengatakan kalau lingkaran bunga itu bukan sekadar bunga, tapi undangan. Jika diinjak, orang yang menginjak akan otomatis masuk sebagai pihak yang menggantikan kontrak Nyai Sukandir.
Kontrak yang bahkan kematian pun nggak bisa membatalkannya.
Ada yang Tersembunyi di Balik Susuk
Di rumah Mak Waren, Ranu akhirnya tahu semuanya. Tentang susuk tumbal. Tentang ritual mandi darah dari hasil aborsi.
Tentang bunga tujuh rupa yang dipetik dari tujuh makam berbeda. Tentang sumur di belakang rumah Nyai yang menjadi tempat dua dunia bertemu.
Nah yang paling mengerikan itu kontrak Nyai Sukandir hampir habis, dan ia membutuhkan tumbal baru.
Ketika ia gagal atau menolak, makhluk yang mengikat kontrak datang dan membunuhnya. Tapi kontrak itu tetap harus diteruskan.
Nah karena Ranu masuk ke rumah itu aroma bunga tujuh rupa menandainya sebagai calon pengganti.
Mak Waren berkata pelan tapi tegas, “Kita belum terlambat. Tapi kamu harus dibersihkan. Kalau tidak, yang menagih kontrak itu akan datang lagi. Nah kali ini bukan ke rumah Nya tapi ke kamu.”
Baca juga: Kisah Mistis Calon Tumbal Toko Kayu dan Teror yang Tidak Jelas
Malam itu, di depan tungku kecil di rumah bambu Mak Waren, Ranu menyadari satu hal yaitu tidak semua kisah horor cuma cerita.
Kadang, bau bunga bisa membawa lebih dari sekadar wangi. Kadang, seseorang bisa mewarisi sesuatu yang bukan miliknya.
Dan di desa kecil itu, orang-orang masih belum berani mendekati sumur belakang rumah Nyai Sukandir. Karena setiap malam suara riak air itu masih terdengar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: YouTube