Senin, 10 NOVEMBER 2025 • 18:20 WIB

Kisah Mistis Calon Tumbal Toko Kayu dan Teror yang Tidak Jelas

Author

Ilustrasi Kisah Mistis Calon Tumbal Toko Kayu. (Foto: Freepik @Freepik)

INDOZONE.ID - Langit kelabu menggantung di atas sebuah kota kecil di Jawa Tengah tahun 2009. Saat itu, hidup Harun, seorang lulusan SMA yang penuh semangat berubah drastis.

Harun punya cita-cita sederhana yaitu kuliah di universitas swasta di Semarang, dan mengangkat derajat keluarganya.

Kedua orang tuanya, Pak Darmo dan Bu Sari, adalah pedagang kaki lima yang menjual nasi pecel dan soto di pinggir pasar.  

Meski sederhana, warung mereka selalu ramai dan menjadi tumpuan hidup keluarga kecil itu.

Namun, semuanya berubah dalam semalam. Banjir besar menghantam kota itu selama tiga hari berturut-turut. Warung keluarga Harun hanyut, tenda biru robek, dan tabungan kuliah ikut hilang tersapu air.

Hidup mereka seperti terhenti di tengah arus deras yang menenggelamkan harapan. Harun mencoba bertahan, membantu orang tua sebisanya, dan mulai mencari pekerjaan serabutan, apa saja asalkan halal. 

Tapi dari toko ke toko, dari bengkel ke kafe kecil, jawaban yang diterimanya selalu sama, “Maaf, kami enggak butuh orang sekarang.”

Yuk, simak kisah mistis calon tumbal toko kayu dilansir dari YouTube/OM BRIZZ OFFICIAL selengkapnya!

Baca juga: Kisah Mistis Teror Desa Terkutuk: Ada Wanita Berlidah Panjang yang Meneror Warga

Harapan Baru di Rumah Teman Lama

Suatu malam, di tengah rasa putus asa, Harun teringat pada Sutio, teman SMP-nya yang kini kuliah di Semarang dan anak dari pengusaha kayu kaya di kampungnya, Pak Sastro.

Sutio terkenal ramah dan keluarganya sering membantu warga sekitar. Keesokan harinya, Harun mengayuh sepeda ontel tua menuju rumah Sutio dengan harapan bisa mendapatkan pekerjaan sementara.

Pertemuan itu berlangsung hangat. Sutio yang mengenakan pakaian kasual menyambutnya dengan senyum lebar.

Setelah mendengar kisah Harun, ia segera menawarkan solusi. “Kenapa enggak ngomong langsung ke Bapak aja? Di toko kayu Sukorejo lagi butuh orang, lho,” ucapnya penuh semangat.

Tak lama, Pak Sastro muncul. Pria dengan wajah keras namun berwibawa itu mendengarkan kisah Harun dan langsung menawarinya pekerjaan.

“Kamu bisa mulai besok.Tapi tempatnya jauh, dan mungkin harus tinggal di sana beberapa waktu. Sanggup?” Harun tanpa ragu menjawab, “Sanggup, Pak.”

Di matanya, itu bukan sekadar pekerjaan, itu kesempatan kedua untuk membangun hidup.

Tiba di Sukorejo

Perjalanan ke Sukorejo memakan waktu panjang, hampir delapan jam. Jalanan semakin sepi, pepohonan makin rapat, dan udara malam menusuk tulang.

Saat tiba, toko kayu itu berdiri di tengah tanah lapang dengan cahaya lampu neon redup di terasnya. Dari luar, bangunan itu tampak megah tapi sunyi, terlalu sunyi untuk sebuah tempat kerja.

Pak Sastro muncul di depan toko, mengenakan jaket hitam. “Ayo, masuk. Aku tunjukin kamarmu,” katanya dengan nada datar. Harun mengikuti langkahnya menyusuri deretan kayu jati yang tersusun rapi.

Bau kayu bercampur debu memenuhi udara. Di belakang toko, ada kamar kecil yang akan menjadi tempat tinggal Harun.

Kamar itu hanya berisi kasur kapuk tipis, meja kayu, dan jendela yang menghadap ke lapangan kosong.

Setelah makan malam, Pak Sastro berpesan, “Malam ini kamu sendirian dulu. Karyawan lain baru datang besok pagi," Harun mengangguk meski hatinya bergetar.

Toko itu sunyi, hanya suara jangkrik dan derit kayu tua yang sesekali terdengar.

Baca juga: Kisah Mistis Perjamuan Arwah: Saat Jamuan Keluarga Berubah Jadi Ritual Kematian

Ilustrasi Kisah Mistis Calon Tumbal Toko Kayu. (Foto: Freepik @Freepik)

Malam di Toko Kayu

Sekitar tengah malam, Harun bangun karena mencium aroma aneh, bau kemenyan yang tajam bercampur asap kayu terbakar.

Ia pikir mungkin itu sisa pembakaran di luar, tapi aroma itu makin kuat, menusuk hidung.

Saat ia menuju kamar mandi di ujung koridor, suara berat terdengar dari atap. Seperti benda besar yang bergeser.

“Pasti ranting jatuh,” gumamnya menenangkan diri. Tapi saat kembali ke kamar, langkah kaki pelan terdengar dari luar pintu.

“Pak Sastro?” panggil Harun. Tidak ada jawaban. Lalu tiga ketukan keras menghantam pintu. Tok! Tok! Tok!

Harun membuka pintu perlahan dan tidak ada siapa-siapa. Hanya lorong kosong dan bau kemenyan yang semakin tebal. Ia buru-buru menutup pintu dan berzikir pelan, mencoba menenangkan diri.

Tapi belum sempat ia tenang, dari arah jendela terdengar suara lembut seorang anak kecil. “Mas... pulang. Tempat ini berbahaya...”

Harun mendekat ke jendela, menatap melalui celah kayu. Di luar, di bawah cahaya bulan samar, berdiri sosok anak kecil mengenakan kaus lusuh.

Wajahnya, Dika. Anak tetangganya yang sudah meninggal setahun lalu karena kecelakaan.

Teror yang Tak Terjelaskan

Tubuh Harun membeku. Ia jatuh terduduk, gemetar hebat. Dengan tangan bergetar, ia meraih Al-Qur’an kecil dari tas dan mulai membaca surah pendek. Bau kemenyan makin pekat hingga membuat sesak dada.

Sepanjang malam ia tak tidur, hanya terus membaca doa sampai azan subuh terdengar samar dari kejauhan.

Saat cahaya pagi menembus jendela, aroma itu perlahan hilang. Tapi ketakutannya tetap tinggal. Harun memutuskan satu hal yaitu ia harus pergi dari tempat itu.

Rahasia Gelap Toko Kayu

Pagi itu, ia sudah siap dengan ransel di pundak ketika Pak Sastro tiba dengan motor. “Loh, kenapa tiba-tiba mau pulang?” tanya Pak Sastro datar. Harun hanya menjawab pelan, “Saya enggak sanggup, Pak.”

Anehnya, pria itu tidak terlihat kaget. Ia hanya mengangguk, menyerahkan uang ongkos, lalu berkata, “Kalau begitu pulanglah.”

Harun naik ojek yang disiapkan untuknya. Di tengah perjalanan, sopir ojek, seorang pria tua, sempat bertanya santai, “Mas, nginep di toko kayu itu ya? Wah, berani juga. Toko itu udah lama tutup, Mas. Dua tahun lalu ada kecelakaan, dua karyawan meninggal tertimpa kayu. Sejak itu orang-orang enggak berani kerja di sana.”

Jantung Harun seperti berhenti berdetak. “Tapi saya semalam sama Pak Sastro di sana,” ujarnya.

Sopir itu menoleh, bingung. “Pak Sastro jarang ke situ. Katanya itu cuma gudang sekarang.”

Baca juga: Kisah Mistis Tumbal Uang Koin: Teror di Perempatan Jalan Kaliurang

Ilustrasi Kisah Mistis Calon Tumbal Toko Kayu. (Foto: Freepik @Freepik)

Perjalanan pulang terasa panjang dan mencekam. Dalam hatinya, Harun sadar ia baru saja lolos dari sesuatu yang tak kasatmata, sesuatu yang mungkin sudah menunggunya sejak awal.

Entah apa yang sebenarnya terjadi di toko kayu itu, tapi suara Dika malam itu menjadi penyelamatnya.

Sejak hari itu, Harun berjanji untuk tidak lagi mengejar mimpi dengan tergesa. Karena kadang, di balik tawaran yang tampak baik, bisa saja terselip niat gelap yang tidak bisa dijelaskan logika manusia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: YouTube

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU