INDOZONE.ID - Siang itu, suasana pasar Buger yang biasanya ramai mendadak hening. Teriakan nyaring seorang perempuan berlipstik merah memecah udara.
Dialah Melati, tunangan Rudi, yang menuduh gadis desa bernama Widuri merebut calon suaminya.
Dengan nada tinggi, Melati menuding-nuding Widuri di depan para pedagang. “Dasar perempuan kampung, murahan! Rudi itu tunangan aku!” teriaknya lantang. Semua mata menoleh, menyaksikan drama cinta segitiga itu.
Widuri yang sederhana hanya terdiam pucat. Ia tidak tahu Rudi sudah bertunangan. Saat mencoba menjelaskan, tamparan keras mendarat di pipinya.
Pedagang dan warga yang menyaksikan sontak kaget, bahkan ada yang membaca istighfar melihat kejadian memalukan itu.
Rudi sendiri hanya diam, tak mampu membela Widuri. Saat itu juga, harga diri gadis desa itu hancur lebur.
Yuk simak kisah Santet Ronggo Pecuk dilansir dari YouTube @OM BRIZZ OFFICIAL selengkapnya!
Lahirnya Dendam di Pondok Kuno
Tak tahan menanggung malu, Widuri pulang dengan hati remuk. Selama tiga hari ia tak makan, hanya menangis di kamar.
Pada malam ketiga, ia mendatangi pondok kecil milik ayahnya, Ki Suminto, seorang dukun tua yang dikenal sakti.
Dengan tangan gemetar, Widuri membawa foto Rudi, sehelai rambut, dan potongan kuku pria itu. “Bapak tahu apa yang harus dilakukan?” ucapnya lirih.
Ki Suminto menatap lama, lalu menghela napas. “Kalau kau minta ini, jalanmu bukan lagi anak manusia. Ini ilmu Ronggo Pecuk. Santet Ronggo Pecuk adalah santet paling kejam yang membuat orang lumpuh, membengkak, hingga mati perlahan.”
Namun Widuri sudah bulat tekadnya. Ia ingin Rudi merasakan sakit yang sama. Malam itu, ritual dimulai.
Asap kemenyan membubung, mantera kuno dilantunkan, dan foto Rudi dicelupkan ke dalam segelas air putih. Sejak saat itu, nasib Rudi berubah.
Azab Datang Menyiksa Rudi
Di Jakarta, Rudi tiba-tiba jatuh sakit misterius. Badannya panas, perutnya terasa ditusuk-tusuk, tapi semua hasil medis menunjukkan normal.
Setiap malam, ia bermimpi buruk, terjebak dalam gelas putih, tenggelam dalam air bercampur darah, dan melihat wajah Ki Suminto yang menyeramkan.
Tubuh Rudi mulai membengkak, kulitnya membiru, hingga muntah cairan hitam bercampur rambut. Dokter angkat tangan.
Bahkan, seorang paranormal bernama Pak Bismo pun ketakutan. “Ini bukan santet biasa. Ini Ronggo Pecuk. Tidak akan berhenti sampai pemberi kutukan mengikhlaskan.”
Baca juga: Kisah Mistis Santet Sedulur Papat: Dendam Sumini dengan Tirakat Mengerikan yang Berakhir Tragis
Air Kutukan yang Tak Pernah Kering
Sementara itu, di pondok Ki Suminto, Widuri terus menatap gelas putih berisi foto Rudi. Aneh, air di dalamnya tak pernah habis.
Bahkan semalaman penuh tetap selalu penuh, seolah menangis bersama penderitaan korbannya.
“Kenapa air ini tak pernah habis, Pak?” tanya Widuri.
“Karena kau belum ikhlas. Air ini cermin batinmu. Selama hatimu masih penuh dendam, dia akan terus menderita,” jawab Ki Suminto.
Widuri bimbang. Ia ingin membalas, tapi di sisi lain rasa bersalah mulai muncul. Namun setiap kali mengingat tamparan Melati dan tatapan hina warga pasar, hatinya kembali membara.
Akhir Tragis Sang Tunangan
Kondisi Rudi semakin parah. Nafasnya tersengal, lidahnya membengkak, tubuhnya seperti membusuk dari dalam.
Ia terus meracau memanggil nama Widuri. Tunangannya, Melati, hanya bisa menangis di sampingnya.
Ibunya bahkan menyarankan agar Melati meminta maaf kepada Widuri. “Ini balasan dari alam, Nak. Jangan anggap enteng kutukan Ronggo Pecuk,” ujarnya.
Sayangnya, semuanya terlambat. Malam itu, monitor rumah sakit meraung. Tubuh Rudi kejang hebat.
Dari mulutnya keluar suara tawa perempuan, bukan suaranya sendiri. Para perawat panik, Melati menjerit, namun nyawa Rudi sudah tidak tertolong.
Baca juga: Santet Lowo Ireng: Teror Kelelawar Hitam Pembawa Maut
Di desa, Widuri bermimpi bertemu Rudi yang penuh luka. “Cukup, aku tak kuat lagi,” katanya dalam tangis.
Widuri terbangun, menatap gelas putih yang masih penuh air. Ia ragu, harus memaafkan atau membiarkan kutukan itu menuntaskan dendamnya.
Ki Suminto sudah tiada, meninggal dua hari setelah ritual. Kini Widuri sendiri yang menanggung beban. Jika suatu hari ia menyesal, kutukan itu bisa berbalik menghancurkannya.
Santet Ronggo Pecuk bukan sekadar cerita mistis, tapi peringatan bahwa dendam bisa menjelma jadi api yang membakar siapa pun, baik musuh maupun dirinya sendiri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: YouTube