Kisah Mistis Santet Sedulur Papat: Dendam Sumini dengan Tirakat Mengerikan yang Berakhir Tragis
INDOZONE.ID - Santet, sedulur papat, dan tirakat, tiga kata ini kalau digabung langsung bikin bulu kuduk merinding.
Begitu juga dengan kisah Sumini, perempuan sederhana yang akhirnya memilih jalur gelap demi satu tujuan yaitu menuntut keadilan lewat dunia gaib.
Semua bermula dari luka hati, lalu berlanjut jadi teror yang bikin hidup Arwan, mantan kekasihnya, jungkir balik seperti neraka.
Yuk, simak kisah Santet Sedulur Papat dilansir dari YouTube/OM BRIZZ OFFICIAL selengkapnya!
Baca juga: Santet Lowo Ireng: Teror Kelelawar Hitam Pembawa Maut
Tirakat Ngeri di Pondok Kayu
Malam itu Sumini duduk bersila di pondok kayu yang sepi. Tidak ada lampu, tidak ada suara, cuma hawa dingin yang menusuk sampai ke tulang.
Di depannya, semangkuk tanah liat berisi kemenyan mulai mengepulkan asap. Bibirnya bergerak tanpa suara, membacakan mantra, “Sedulur papat lima pancer, wusana wis jumbu.”
Tirakat ini bukan main-main. Sepuluh hari penuh Sumini harus ngebak geni, tidak makan, tidak minum, tidak bicara.
Hanya menjilati embun dari pelepah pisang yang digantung di dalam pondok. Hari ketujuh, ia mulai melihat empat sosok bayangan dirinya sendiri berdiri di tiap sudut ruangan.
Mereka bukan hantu sembarangan, tapi sedulur papat adalah empat saudara gaib yang lahir bersama manusia kakang kawah, adhi ari-ari, getih, dan puser.
“Kalau takut, lebih baik mati sekarang,” begitu suara berat Mbah Warti, sang dukun tua yang membimbing Sumini.
Sumini tidak gentar. Ia tahu tujuannya yaitu membuka jalur langit supaya bisa membalas sakit hati yang sudah lama ia pendam.
Nama yang Membawa Dendam
Di tengah asap kemenyan yang semakin pekat, Sumini menyebut satu nama yaitu Arwan bin Buyan.
Laki-laki yang dulu ia cintai mati-matian, tapi tega membuangnya demi perempuan kaya. Sejak itu hidup Sumini hancur. Ia merasa tidak ada lagi alasan untuk memaafkan.
“Aku tahu Tuhan Maha Pemaaf. Tapi maaf, aku bukan Tuhan,” begitu batinnya.
Malam ke-10, tepat Selasa Kliwon, pintu langit akhirnya terbuka. Sosok perempuan berselendang hijau emas muncul, matanya hitam legam, wajahnya penuh retakan.
“Apa kamu sudah siap?” tanya sosok itu. Sumini mengangguk. “Aku siap. Buka lawang langit.”
Begitu nama Arwan disebut, pondok tempat tirakat itu lenyap. Dunia nyata dan dunia gaib seolah melebur jadi satu.
Sejak saat itu, hidup Arwan tidak pernah sama lagi.
Teror Misterius di Kantor
Awalnya semua terlihat seperti masalah biasa. Laporan keuangan di kantor Arwan mendadak rusak, angka-angka berubah jadi simbol aneh mirip aksara Jawa.
Printer nyala sendiri, AC menghembuskan bau amis, bahkan ada karyawan yang melihat bayangan perempuan berambut panjang duduk di ruang rapat kosong.
Arwan marah-marah, menyalahkan stafnya. Tapi makin lama, ia sadar ini bukan error teknis. Ada sesuatu yang lebih besar. Apalagi setiap malam ia selalu mimisan, bahkan terbangun karena mimpi dililit ular hitam pekat.
“Aku lihat dia, Sumini. Dia datang,” teriak Arwan pada Melissa, istrinya. Nama yang tidak pernah ia sebut sejak pernikahan mereka.
Baca juga: 'Santet Purnama': Kisah Kelam Dendam di Balik Cahaya Bulan di Pemalang
Rumah Jadi Neraka
Bukan cuma kantor, rumah Arwan juga mulai angker. Lampu padam sendiri, kulkas bergetar, dan di bawah tempat tidur Melissa menemukan seikat bunga tujuh rupa yang dibungkus kain putih.
Anak mereka, Dava, menangis tanpa henti setiap malam sambil menunjuk ke sudut kamar.
Suara-suara langkah kaki terdengar dari belakang, pintu diketuk berkali-kali tanpa ada orang, bahkan ular hitam sempat muncul lalu lenyap begitu saja.
Melissa mulai tidak tahan. Ia menangis, tidur di taman, bahkan sempat bicara sendiri di depan kaca sambil menyebut nama Sumini.
Arwan makin kehilangan kewarasan. Ia sering berbicara dengan bayangannya, memakan cicak hidup-hidup, hingga menutup seluruh rumah dari cahaya. Setiap terang masuk, ia yakin sosok Sumini akan muncul.
Dendam yang Tidak Pernah Usai
Hidup Arwan makin kacau setelah Melissa kecelakaan misterius. Mobilnya tiba-tiba berbelok ke jurang, padahal kondisi rem normal.
Meski selamat, Melissa justru berubah jadi orang lain, kosong, sering mengigau, dan akhirnya dibawa ke rumah sakit jiwa.
Sementara Arwan benar-benar sendirian di rumah yang penuh teror. Setiap malam, ia mendengar suara perempuan berbisik dari balik lemari, “Kau lupa siapa yang kau sakiti, tapi aku ingat semua, Arwan.”
Di loteng rumah, ia menemukan abu kemenyan, seikat rambut manusia, dan jejak kaki besar membara.
Semakin hari, sosok Sumini semakin nyata, berdiri di pojok kamar dengan selendang hijaunya, menatap tanpa kata.
Arwan hanya bisa berteriak, tapi siapa yang mau mendengar? Baginya, dunia sudah runtuh.
Semua yang ia bangun, hancur pelan-pelan. Nah, semua itu berawal dari satu dosa yaitu mengkhianati cinta yang tulus.
Baca juga: 'Santet Busung': Kutukan Perut Membesar yang Menyeramkan dari Kampung Misteri
Kisah mistis Santet Sedulur Papat ini, jadi pengingat betapa kuatnya luka hati bisa berubah jadi dendam.
Entah benar atau tidak, cerita Sumini bikin siapa saja merinding sekaligus merenung. Karena kadang, yang paling menakutkan bukan hantu, tapi rasa sakit yang tidak pernah sembuh.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: YouTube