INDOZONE.ID - Desa Jatiasa dikenal sebagai desa kecil yang adem, penuh tradisi, dan dikelilingi sawah serta kebun durian.
Malam biasanya datang membawa ketenangan, tapi siapa sangka di balik sunyi itu ternyata tersimpan kisah mistis yang bikin bulu kuduk berdiri.
Kisah ini datang dari empat pemuda desa yaitu Gito, Yanto, Jabrik, dan Gendon. Mereka biasa disebut geng koplak desa, selalu bareng ke mana-mana. Tapi malam itu, tawa mereka berubah jadi jeritan.
Yuk simak kisah mistis gundul pecengis dilansir dari YouTube @BAKAL MATI selengkapnya!
Baca juga: Kisah Mistis Kebo Kemali: Teror Makhluk Gaib yang Suka Ganggu Perempuan hingga Berakhir Tragis
Masa Muda yang Ceria
Empat sahabat ini sudah akrab sejak kecil. Main di sungai, nyolong buah tetangga, sampai nongkrong di pos ronda bareng, semua mereka jalani barengan.
Hidup mereka sederhana, belum punya pekerjaan tetap, tapi selalu kompak bikin suasana ramai.
Gito si kurus yang suka usil, Yanto si pendiam tapi pemberani, Jabrik si tukang tidur tapi jago joget, dan Gendon si tambun pecinta durian.
Kalau ada layar tancap di balai desa, mereka pasti jadi barisan depan, bukan buat nonton wayang serius, tapi buat bagian Limbukan dan Goro-goro. Jogetan sinden muda dan musik dangdut bikin malam terasa sempurna buat mereka.
Sampai akhirnya, satu malam jadi titik balik yang bikin hidup mereka nggak pernah sama lagi.
Malam Layar Tancap
Waktu itu, layar tancap kembali digelar di tengah lapangan desa. Lampu petromaks menerangi wajah penonton, suara sinden bergema, dan jogetan bikin suasana meriah. Gito dan gengnya sudah siap dari magrib, bawa gorengan sama teh botol.
Jabrik langsung joget begitu musik dangdut diputar, disusul Gendon yang tubuhnya bergoyang seperti jelly.
Penonton ngakak, suasana pecah. Semua terasa biasa, penuh tawa, sampai pertunjukan selesai lewat tengah malam.
Mereka pun pulang lewat kebun durian, jalur yang sudah ribuan kali mereka lewati. Tapi malam itu berbeda.
Durian Jatuh yang Aneh
Di tengah jalan pulang, mereka dengar suara durian jatuh. Spontan, mata Gendon langsung berbinar. Tanpa pikir panjang, mereka berlari ke arah suara.
Tapi yang mereka temukan bukan durian biasa. Di bawah pohon besar, ada benda bulat seperti durian tapi tanpa duri. Kulitnya halus.
Saat disorot dengan lampu ponsel, benda misterius itu berubah menampakkan wajah manusia. Gundul, pucat kehijauan, dengan senyum lebar dan mata merah menyala.
Detik berikutnya, tawa serak menggema dari segala arah. Bukan dari benda itu, tapi dari balik pepohonan, dari kabut, dari dalam kepala mereka.
Benda bulat itu lalu melayang, sebuah kepala tanpa tubuh. Inilah yang kemudian dikenal warga sebagai Gundul Pecengis.
Baca juga: Kisah Mistis Kamar Kos Angker di Jogja: Ada Bau Melati dan Tangisan Wanita Tengah Malam
Teror Gundul Pecengis
Suasana langsung kacau. Jabrik teriak dan lari tunggang langgang. Gendon jatuh terguling, gemetaran. Gito berusaha menolongnya tapi suara tawa itu bikin otaknya hampir pecah.
Kepala itu melayang, mengejar, sambil ketawa ngakak. Kadang muncul di depan, kadang di belakang, seolah main-main dengan ketakutan mereka.
Jabrik sampai jatuh ke parit, bajunya robek, tapi tetap lari. Yanto yang biasanya tenang malah membeku, cuma bisa berdoa dalam hati.
Nah yang bikin tambah serem, bukan cuma satu kepala. Dari balik pohon terdengar tawa lain, sahut-sahutan, seperti ada banyak kepala yang ikut menertawakan mereka. Suara itu kadang jauh, kadang dekat banget kayak bisikan di telinga.
Hancurnya Persahabatan
Malam itu persahabatan mereka diuji. Gito akhirnya lari ninggalin Gendon yang ketakutan. Jabrik tersesat sendirian, Yanto jatuh terbentur pohon, sementara tawa Gundul Pecengis terus menggema.
Fajar akhirnya datang, warga menemukan mereka dalam kondisi mengenaskan. Gito cuma bisa bengong sambil ketawa getir tiap lihat durian.
Gendon kehilangan selera makan, bahkan untuk durian kesayangannya. Jabrik berubah aneh, joget sendiri tanpa musik. Yanto paling parah, trauma berat, nangis tiap dengar gamelan atau lagu dangdut.
Sejak itu, Desa Jatiasa nggak pernah lagi menggelar layar tancap. Suasana desa berubah sunyi.
Asal Usul Gundul Pecengis
Warga akhirnya ingat cerita lama tentang seorang penyanyi dangdut keliling bernama Saritem. Konon, dia dulu dibunuh karena dianggap mempermalukan pertunjukan wayang dengan goyangan liarnya. Tubuhnya dibuang ke kebun durian.
Sejak itu, sering terdengar suara tawa di malam hari. Kadang terlihat kepala melayang dengan gigi menyeringai. Banyak orang tua percaya kalau Gundul Pecengis adalah roh Saritem yang nggak tenang.
Baca juga: Kisah Mistis Hantu Longga, Sosok Misterius yang Ditakuti di Sulawesi Selatan
Kisah mistis Gundul Pecengis bikin Desa Jatiasa terkenal angker. Empat pemuda yang dulu jadi penghibur desa berubah jadi korban ketakutan yang nggak bisa mereka jelaskan.
Nah sampai sekarang, orang-orang masih bilang kalau lewat kebun durian malam-malam, kadang terdengar tawa lirih. Bahkan ada anak kecil yang katanya pernah lihat benda bulat menggelinding sendiri, berhenti, lalu tersenyum.
Cerita ini jadi pengingat kalau nggak semua tawa itu membawa bahagia. Kadang, ada tawa yang justru bikin bulu kuduk berdiri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: YouTube