Selasa, 13 MEI 2025 • 16:20 WIB

Jejak Awal Pendidikan Formal di Nusantara: Dari Portugis ke VOC

Author

INDOZONE.ID - Sejarah pendidikan di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari dinamika kolonialisme yang berlangsung sejak abad ke-16 hingga abad ke-20. Salah satu fase penting dalam perkembangan pendidikan di Indonesia adalah masa pendudukan Portugis (1511–1602) dan VOC (1602–1799). Kedua kekuatan kolonial ini membawa sistem pendidikan yang berbeda dengan pendekatan yang sering kali lebih berorientasi pada kepentingan politik, ekonomi, dan agama. 

Sekolah Era Belanda

Pendidikan pada Masa Portugis (1511–1602)

Portugis adalah kekuatan Eropa pertama yang menjajah Nusantara, dimulai dengan penaklukan Malaka pada tahun 1511 di bawah pimpinan Alfonso de Albuquerque. Motivasi utama Portugis di Nusantara adalah perdagangan rempah-rempah (gold), kejayaan (glory) dan penyebaran agama Katolik (gospel). Dalam upaya kristenisasi, Portugis mendirikan lembaga pendidikan untuk membina calon pemeluk Katolik dari kalangan pribumi.

Sekolah Misionaris, sekolah-sekolah pertama yang didirikan Portugis bersifat misionaris dan berfokus pada pembelajaran agama Katolik, bahasa Portugis, dan keterampilan dasar. 

Sekolah ini dikelola oleh ordo Jesuit, Dominikan, dan Fransiskan, yang mengajarkan teologi dan moralitas Kristen kepada anak-anak pribumi. Salah satu pusat pendidikan penting berada di Ambon dan Ternate, yang menjadi basis utama Portugis di Maluku.

Pendidikan dalam Gereja dan Biara. Selain sekolah formal, banyak proses pendidikan dilakukan di dalam gereja dan biara. Para pendeta mengajarkan doktrin agama serta mengajarkan keterampilan baca-tulis dalam bahasa Portugis dan Latin.

Baca Juga: Sekolah Dokter Djawa: Tonggak Awal Pendidikan Kedokteran Pribumi Abad Ke-19

Kurikulum serta metode pengajaran yang digunakan menekankan pada berbagai macam, seperti : bahasa yang digunakan yaitu bahasa Portugis menjadi bahasa pengantar, menggantikan bahasa lokal dalam konteks pendidikan formal. 

Lalu, fokus pendidikan lebih menekankan aspek keagamaan dan moralitas Kristen. Serta metode pengajaran bersifat hafalan dan dogmatis, dengan pendekatan hierarkis antara guru (misionaris) dan murid (pribumi).

Ada beberapa dampak dari pendidikan masa kedatangan Portugis di Nusantara yaitu konversi agama dengan pendidikan digunakan sebagai alat utama untuk mengkristenkan masyarakat pribumi. 

Terbatasnya akses pendidikan yang hanya diberikan kepada komunitas yang menerima agama Katolik. Terdapat pula pengaruh terhadap budaya lokal karena penggunaan bahasa Portugis mempengaruhi kosa kata dalam beberapa bahasa lokal, terutama di Maluku dan Nusa Tenggara Timur.

Ilustrasi anak-anak pribumi dan Belanda di suatu sekolah. (The Law Countries)

Pendidikan pada Masa VOC (1602–1799)

Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) mengambil alih dominasi Portugis di Nusantara setelah memenangkan berbagai konflik di Maluku dan mendirikan pusat administrasi kolonial di Batavia pada 1619. 

Berbeda dengan Portugis, VOC lebih berorientasi pada perdagangan dan eksploitasi ekonomi. Namun, mereka tetap mengembangkan sistem pendidikan sebagai alat kontrol sosial dan penyebaran agama Protestan.

Sekolah gereja protestan didirikan oleh VOC menggantikan sekolah-sekolah misionaris Katolik dengan sekolah berbasis Protestan. Sekolah-sekolah ini dikelola oleh pendeta-pendeta Belanda dan hanya diperuntukkan bagi anak-anak Belanda dan keturunan campuran (Indo-Eropa). Salah satu sekolah Protestan tertua di Batavia didirikan pada awal abad ke-17.

Terdapat pula sekolah untuk pribumi, beberapa sekolah untuk pribumi dibuka, tetapi lebih berfungsi sebagai tempat indoktrinasi agama Kristen dan bukan untuk pendidikan intelektual yang luas. Pendidikan ini hanya tersedia bagi kelompok pribumi yang sudah beragama Kristen dan bekerja untuk VOC.

Sekolah dagang dan teknik bertujuan agar pendidikan kejuruan mulai berkembang, terutama untuk melatih tenaga kerja pribumi di bidang pelayaran, perkapalan, dan administrasi dagang. Sekolah semacam ini dibuka di pusat-pusat perdagangan VOC seperti Batavia dan Semarang.

Kurikulum serta metode pengajaran yang digunakan pada saat itu, antara lain: bahasa yang digunakan adalah bahasa Belanda menjadi bahasa utama dalam pendidikan VOC, meskipun dalam beberapa kasus bahasa Melayu juga digunakan. 

Baca Juga: Jejak Muhammadiyah dalam Pendidikan Islam di Sumatera Barat

Fokus pendidikan difokuskan pada ajaran Kristen Protestan, baca-tulis, aritmatika dasar, dan keterampilan teknis. Serta, metode pengajaran menekankan pada didaktik dan dogmatis, dengan pengajaran berbasis kitab suci dan doktrin gereja reformasi Belanda.

Berbagai dampak pendidikan VOC di Nusantara yaitu: terbatasnya akses bagi pribumi karena pendidikan tetap eksklusif bagi kelompok Kristen dan anak-anak pegawai VOC. 

Pendidikan sebagai alat kolonial dengan cara digunakan sebagai alat kontrol sosial untuk mempertahankan dominasi VOC. Pengaruh terhadap bahasa dan budaya, misalnya bahasa Belanda mulai mempengaruhi bahasa Melayu dan bahasa daerah lainnya, yang kelak menjadi dasar pendidikan kolonial di era Hindia Belanda.



Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Perpusnas.go.id

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU