INDOZONE.ID - Sebelum kedatangan kolonial Belanda, masyarakat Jawa telah memiliki sistem sosial dan politik yang kompleks.
Dalam kerajaan-kerajaan seperti Mataram, struktur kekuasaan tidak hanya dipegang oleh raja, tetapi juga dijalankan oleh kelompok-kelompok seperti sentana, narapraja, dan sikep.
Ketiganya memainkan peran penting dalam menjaga keberlangsungan kerajaan, baik secara administratif maupun militer.
Apa itu sentana dan narapraja?
Sentana adalah kerabat raja, biasanya memiliki ikatan darah atau keluarga yang dekat.
Sementara itu, narapraja atau yang lebih dikenal dengan sebutan patuh, adalah birokrat kerajaan yang bertugas menjalankan pemerintahan.
Baca Juga: Rekam Jejak Sejarah Kerajaan Indonesia Melalui Lorong Penuh Arca dan Prasasti di Museum Nasional
Mereka disebut “patuh” karena kesetiaan mutlak kepada raja menjadi syarat utama untuk mempertahankan posisi mereka.
Kedekatan dengan raja menentukan seberapa besar kekuasaan dan tanah yang bisa mereka kelola.
Siapa sikep dan apa perannya?
Petani dalam masyarakat Jawa dikenal dengan sebutan sikep.
Mereka bukan sekadar penggarap tanah, tapi juga bagian penting dari sistem ekonomi dan bahkan pertahanan kerajaan.
Tanah yang mereka kelola merupakan milik raja dan diberikan sebagai bentuk imbalan kepada para sentana dan patuh. Dari hasil tanah itulah, ekonomi kerajaan berputar.
Stratifikasi sosial dalam kalangan sikep terbagi menjadi empat, yaitu sebagai berikut.
- Kuli Kenceng: Sudah menikah, memiliki rumah dan sawah sendiri.
- Kuli Kendo: Menikah, punya rumah tetapi tidak punya sawah.
- Numpang: Punya rumah tapi di pekarangan orang lain.
- Numpang Tlosor: Masih tinggal di rumah orang tua.
Baca Juga: Pengaruh Sosial Ekonomi Masyarakat Terhadap Pembuatan Jalur Kereta Di Jawa Barat
Tidak seperti di Eropa, di mana bangsawan adalah pemilik tanah, di Jawa semua tanah secara hukum adalah milik raja.
Hal ini membuat struktur kerajaan bersifat sangat terpusat. Para pejabat, termasuk narapraja dan sentana, tidak memiliki tanah secara mutlak, melainkan hanya hak pakai yang diberikan raja.
Pasukan kerajaan sebagian besar terdiri dari para petani. Mereka bukan prajurit profesional dan tidak mendapat pelatihan militer formal.
Hal ini berbeda dengan Eropa yang sudah mengenal militer profesional sejak awal.
Di Jawa, pelatihan semacam itu baru dikenal ketika pengaruh kolonial dan penjelajahan maritim mulai masuk.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Youtube/@RinardiHaryono